Senin, 27 Februari 2012

PENINGKATAN SPEAKING SKILL MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL DI UNIVERSITAS KANJURUHAN MALANG



(Dimuat dalam Jurnal Syntagma, Volume 1 Nomor 1 March 2006)


Maria Cholifah


Abstract : Among the four language skills, speaking is the most important skill. It should be acquired by students. Speaking shill is not only used for academic purposes, but also used for International Communication. Teaching speaking at Kanjuruhan University in Malang has not been satisfying. Based on that problem, the researcher attempts to improve students’ speaking shill using CTL and whether CTL really improves speaking shill of the Kanjuruhan University students’ English skill.


Keywords: speaking, contextual teaching and learning


Tidak diragukan lagi bahwa peranan bahasa Inggris sebagai bahasa asing di Indonesia sangatlah penting. Bahasa Inggris tidak hanya sebagai alat komunikasi secara internasional tetapi juga media untuk mengembangkan ilmu pengetahuan modern. Menurut Huda (1999:157), setiap individu memerlukan bahasa Inggris untuk berkomunikasi dalam forum internasional, sementara mahasiswa membutuhkan bahasa Inggris agar mampu membaca buku-buku perkuliahan karena buku tentang ilmu pengetahuan dan teknologi yang modern ditulis dalam bahasa Inggris. Disamping itu, mahasiswa juga dituntut agar dapat berkomunikasi dalam bahasa Inggris.
Rogers (1995:74) menyatakan di negara berkembang seperti Indonesia, bahasa Inggris ditetapkan sebagai alat komunikasi secara Internasional, alat untuk menerima teknologi, ilmu, perkembangan dan kemajuan di negara barat.
Lebih jauh lagi, jika perdagangan bebas telah diterapkan di ASEAN, bahasa Inggris akan lebih sering digunakan untuk berkomunikasi di negara tetangga. Berarti sistem pengajaran dan pembelajaran speaking harus dipersiapkan dan dilaksanakan dengan serius terutama dalam mengembangkan kompetensi berkomunikasi.
Untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia, pemerintah telah berupaya mengadakan pembaharuan di berbagai sektor pendidikan. Salah satu yang dilakukan pemerintah adalah penyempurnaan kurikulum, tak terkecuali kurikulum Bahasa Inggris. Kurikulum yang disempurnakan ini diharapkan dapat meningkatkan mutu pendidikan secara nasional. Agar lulusan pendidikan nasional memiliki keunggulan kompetitif dan kooperatif sesuai standart mutu nasional dan internasional, kurikulum perlu dikembangkan dengan pendekatan berbasis kompetensi. Bahasa Inggris merupakan salah satu bagian dari ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) yang dalam KBK disebut ilmu sosial. Materi Speaking yang dipilih dalam kurikulum Bahasa Inggris ini dirancang dan disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan mahasiswa, serta memperhatikan perkembangan yang terjadi di dunia sekarang ini.
Walaupun pemerintah sudah berusaha mensosialisasikan perubahan kurikulum ini disekolah-sekolah tetapi pelaksanaannya ditingkat sekolah dan kampus masih dijumpai kendala. Dari hasil observasi dan wawancara terhadap mahasiswa dan dosen mata kuliah speaking merupakan mata kuliah yang dirasa berat, mahasiswa hanya disuruh menceritakan sekumpulan fakta yang tidak dimengerti. Pada praktek perkuliahan Bahasa Inggris pada umumnya dosen bahasa Inggris masih tetap menggunakan pendekatan ceramah, mereka mengajar Bahasa Inggris sesuai dengan langkah-langkah yang terdapat pada buku ajar. Mahasiswa tidak pernah melakukan pengamatan secara langsung terhadap keadaan nyata yang ada disekelilingnya. Dosen kurang memahami bagaimana cara membelajarkan siswa yang menunjang berkembangnya sikap kritis dan kreativitas dari mahasiswa.
Untuk menjawab permasalahan yang dihadapi guru dan dosen, peneliti menggunakan “pendekatan kontekstual” atau lebih dikenal dengan pembelajaran CTL (Contectual Teaching and Learning) sebagai salah satu alternatif untuk menghidupkan mahasiswa belajar dengan sesungguhnya belajar. Melalui pendekatan kontekstual proses belajar diharapkan berlangsung secara alamiah.
Pembelajaran kontekstual menyajikan suatu konsep yang mengaitkan materi perkuliahan yang dipelajari mahasiswa dengan konteks dimana materi tersebut digunakan, serta hubungan bagaimana seseorang belajar atau gaya siswa belajar. Konteks memberikan arti, relevansi dan manfaat penuh terhadap belajar.
Materi perkuliahan akan lebih berarti jika mahasiswa mempelajari materi perkuliahan yang disajikan melalui konteks kehidupan mereka dan menemukan arti didalam proses pembelajarannya, sehingga pembelajaran akan lebih berarti dan menyenangkan. Mahasiswa akan bekerja keras untuk mencapai tujuan pembelajaran. Mereka menggunakan pengalaman dan pengetahuan sebelumnya untuk membangun pengetahuan baru. Selanjutnya mahasiswa akan memanfaatkan kembali pengetahuannya dan kemampuannya dalam berbagai konteks diluar kampus untuk menyelesaikan permasalahan dunia nyata yang kompleks, baik secara mandiri maupun bekerja sama dengan temannya.
Artikel ini akan membahas peningkatan ketrampilan berbicara dalam bahasa Inggris melalui pendekatan kontekstual dalam mata kuliah speaking di Universitas Kanjuruhan Malang dan menjawab bahwa pendekatan kontekstual dalam mata kuliah speaking benar-benar dapat meningkatkan ketrampilan berbicara bahasa Inggris mahasiswa di Universitas Kanjuruhan Malang..

PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
Penerapan pembelajaran kontekstual di Amerika berakar filsafat progresivisme John Dewey, yang intinya mengatakan bahwa siswa akan belajar dengan baik jika apa yang mereka pelajari berhubungan dengan apa yang telah mereka ketahui, serta proses belajar akan produktif jika siswa terlibat aktif dalam proses belajar di sekolah.
Selain teori progresivisme John Dewey, teori kognitif melatarblakangi pula filosofi pembelajaran kontekstual. Siswa akan belajar dengan baik jika mereka terlibat dalam segala kegiatan di kampus dan berkesempatan untuk menemukan sendiri. Mahasiswa menunjukkan hasil dalam bentuk apa yang mereka ketahui dan apa yang mereka lakukan.
Berpijak dari dua pandangan itu, filosofi konstruktivisme berkembang. Siswa harus mengkonstruksi sendiri pengetahuannya. Melalui landasan filosofi kontruktivisme CTL dipromosikan menjadi alternatif strategi belajar yang baru. Melalui strategi CTL siswa diharapkan belajar melalui “penglaman langsung”, bukanlah menghafal.
Johnson (2002:25) mengartikan CTL merupakan suatu proses pendidikan yang bertujuan membantu siswa melihat makna dalam bahan pelajaran yang merreka pelajari dengan cara menghubungkannya dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari, yaitu dengan konteks lingkungan pribadi, sosial, dan budayanya. Untuk mencapai tujuan tersebut, sistem CTL akan menuntun siswa melalui kedelapan komponen utama CTL : melakukan hubungan yang bermakna, mengerjakan pekerjaan yang berarti, mengatur cara kerja sendiri, bekerjasama, berpikir kritis dan kreatif, memelihara/merawat pribadi siswa, mencapai standar yang tinggi, dan menggunakan asesmen autentik.
Adapun definisi CTL yang mendasari penelitian ini adalah konsep belajar dimana guru/dosen menghadirkan dunia nyata ke dalam situasi pembelajaran (ke dalam kelas) dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapanya dalam kehidupan mereka sehari-hari, sementara siswa memperoleh pengetahuan dan ketrampilan dari konteks yang terbatas, sedikit demi sedikit. Dari proses mengkonstruksi sendiri dapat digunakan sebagai bekal untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya sebagai anggota masyarakat.
Pembelajaran kontekstual merupakan konsepsi belajar yang membantu dosen mengaitkan isi mata kuliah dengan dunia nyata dan memotivasi siswa membuat hubungan antara pengetahuan dan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai amggota keluarga dan warga negara.
Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang memungkinkan mahasiswa menguatkan, memperluas, dan menerapkan pengetahuan dan ketrampilan akademik mereka dalam berbagai macam tatanan dalam kampus dan luar kampus agar dapat memecahkan masalah-masalah dunia nyata atau masalah-masalah yang disimulasikan.
Mahasiswa belajar tidak dalam proses seketika. Pengetahuan dan ketrampilan mahasiwa diperoleh sedikit demi sedikit, berangkat dari pengetahuan (skemata) yang dimiliki sebelumnya. Kemajuan belajar mahasiswa diukur dari proses, kinerja, dan produk, berbasis pada asesmen autentik.

KARAKTERISTIK PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
Menurut Johnson ada delapan komponen dalam sistem pembelajaran kontekstual:
(1) Melakukan hubungan yang bermakna (making meaningful learning). Mahasiswa dapat mengatur diri sendiri sebagai orang yang belajar secara aktif dalam mengembangkan minatnya secara individual, orang yang dapat bekerja sendiri atau bekerja daalm kelompok, dan orang yang dapat belajar sambil berbuat (learning by doing). (2) Melakukan kegiatan-kegiatan yang signifikan (doing signifikan work). Siswa membuat hubungan-hubungan antara sekolah dan berbagai konteks yang ada dalam kehidupan nyata seagai pelaku bisnis dan sebagai anggota masyarakat. (3) Belajar yang diatur sendiri (self regulated learning). Siswa melakukan pekerjaan yang signifikan: ada tujuan, ada urusan dengan orang lain, ada hubungan dengan penentuan pilihan, dan ada produknya/hasilnya yang sifatnya nyata. (4) Bekerjasama (colaborating). Mahasiswa dapat bekerjasama. Dosen membantu mahasiswa secara efektif dalam kelompok, membantu mereka memahami bagaimana mereka saling mempengaruhi dan saling berkomunikasi. (5) Berpikir kritis dan kreatif (critical and creative thinking). Mahasiswa dapat menggunakan tingkat berpikir yang lebih tinggi secara kritis dan kreatif: dapat menganalisis, membuat sintesis, memecahlan masalah, membuat keputusan , dan menggunakan logika dan bukti-bukti. (6) Mengasuh atau memelihara pribadi mahasiswa (nurturing the individual). Mahasiswa memelihara pribadinya: mengetahui, memberi perhatian, memiliki harapan-harapan yang tinggi, memotivasi dan memperkuat diri sendiri. Mahasiswa tidak daapt berhasil tanpa dukungan teman-temannya. (7) Mencapai standar yang tinggi (reaching high standar). Mahasiswa mengenal dan mencapai standar yang tinggi, mengidentifikasi tujuan dan motivasi siswa untuk mencapainya. Dosen memperlihatkan kepada mahasiswa cara mencapai apa yang disebut “excellence”. (8) Menggunakan penilaian autentik (using authentic assesment). Mahasiswa menggunakan pengetahuan akademis dalam konteks dunia nyata untuk suatu tujuan yang bermakna. Misalnya, mahasiswa boleh menggambarkan informasi akademis yang telah mereka pelajari dalam pelajaran sains, kesehatan, pendidikan, matematika, dan pelajaran bahasa Inggris dengan mendesain sebuah mobil, merencanakan menu sekolahatau membahas penyajian perihal emosi manusia.

PENGAJARAN SPEAKING
Speaking merupakan salah satu ketrampilan berbahasa Inggris yang harus dikuasai oleh siswa di era globalisasi karena dengan menguasai ketrampilan berbicara dalam bahasa Inggris mereka akan mampu berkomunikasi tidak hanya untuk tujuan akademis tetapi juga tujuan profesional.
Huda (1999:157) menyatakan bahwa kebutuhan untuk menguasai bahasa Inggris hanya terbatas pada tujuan akademik di tingkat universitas, seperti perkuliahan, buku-buku, dll. Saat ini masyarakat telah memiliki pandangan yang luas tentang kebutuhan bahasa Inggris yaitu untuk berkomunikasi dalam forum Internasional.
Terkait dengan pengajaran speaking, Murdibjono (1998:1) menyatakan beberapa hal yang berkaitan dengan kemampuan speaking, mahasiswa memiliki kemampuan untuk menggunakan bahasa yang difokuskan dalam bentuk dan makna secara berkesinambungan juga dalam percakapan formal dan informal. Pengajaran speaking diklasifikasikan ke dalam dua kelompok yaitu bentuk (form-focused instruction) dan makna (meaning-focused instruction).
Form-focused instruction merupakan instruksi yang ditujukan kepada siswa agar meletakkan komponen bahasa yang telah dipelajari, misalnya dengan memberikan dialog atau kalimat agar diingat dan dilatih secara teratur. Diharapkan dengan form-focused instruction siswa akan memiliki bahasa yang benar yang dapat digunakan jika diperlukan. Meaning-focused instruction adalah instruksi agar siswa dapat mengekspresikan ide mereka dalam konteks yang bermakna. Misalnya setelah mempelajari dan mengingat dialog tentang berbelanja, siswa diminta untuk membuat percakapan dengan topik berbelanja. Dengan begitu, siswa dapat mengekspresikan ide mereka dengan bebas, tanpa ada rasa takut.
Kompetensi gramatika memfokuskan pada kemampuan menghasilkan dan memahami kalimat dalam suatu bahasa. Aktifitas speaking memfokuskan pada ingatan, membaca dialog tanpa berlatih dalam konteks yang bermakna.
Dengan kata lain, kompetensi komunikasi berhubungan dengan kem,ampuan memahami dan menyampaikan makna. Hal ini memberikan kesempatan pada siswa untuk berpartisipasi dalam speaking secara spontan.
Saat ini aktifitas speaking memfokuskan pada interaksi untuk mengembangkan kompetensi komunikasi. Misalnya mengaplikasikan game bahasa, permainan, diskusi, kerja kelompok, dll. Hal lain yang juga dapat dilakukan dengan menggunakan gambar, tape recorder, brosur, dll.

PERMASALAHAN DALAM PENGAJARAN SPEAKING

Berdasarkan pengamatan selama proses belajar mengajar, peneliti sebagai pengajar bahasa Inggris menemukan beberapa kesulitan dalam mengimplementasikan strategi yang ideal. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti jumlah siswa, latar belakang kemampuan siswa, rasa tidak percaya diri untuk berbicara dalam bahasa Inggris di kelas, dll.
Pernyataan tersebut didukung oleh Ur (1999:121) yang mengemukakan bahwa ada beberapa masalah umum yang dijumpai oleh siswa sehubungan dengan aktivitas speaking. Masalah umum tersebut adalah, Rintangan atau Halangan. Siswa sering merasa dihalangi oleh perasaan khawatir untuk berbuat salah, takut dikritik, malu dalam mengemukakan pedapat. Hal ini bisa diakibatkan karena kurang berlatih membaca, menulis mendengar dalam bahasa Inggris.
Tidak memiliki ide. Walaupun siswa tidak merasa adanya rintangan, mereka sering kehilangan ide sehingga mereka tidak tahu apa yang harus dikemukakan.
Partisipasi yang rendah. Dalam diskusi, adanya siswa yang sangat mendominasi, sehingga siswa lain memiliki kesempatan mengemukakan pendapat dalam waktu yang terbatas atau tidak sama sekali.

TEORI PENELITIAN TINDAKAN
Penelitian tindakan adalah penelitian yang yang dipakai untuk memecahkan masalah yang muncul dalam proses pengajaran dan pembelajaran. Latief (2003:99) mengatakan bahwa penelitian tindakan bertujuan untuk menemukan strategi pembelajaran sehingga dapat sesuai antara cara siswa dalam belajar bahasa Inggris dengan strategi yang diberikan.

Karakteristik Penelitian Tindakan
Ada tiga ciri dari enelitian tindakan yaitu penelitian yang dilakukan oleh praktisi atau guru, penelitian yang dilakukan oleh kolaborator dan penelitian yang bertujuan untuk membuat perubahan. Penelitian yang dilakukan ole praktisi atau guru, hal ini berarti bahwa guru menjadi seorang peneliti. Guru menjadi peneliti yang mengetahui lebih banyak apa yang terjadi di dalam kelas.
Kedua, penelitian yang diadakan dengan berkolaborasi. Seorang guru tidak mengadakan penelitian sendiri melainkan dapat bekerja sama dengan guru yang lain. Keterkaitan antar guru menjadikan penelitian tersebut lebih mudah dan hasil tes lebih reliable.
Ketiga yaitu bertujuan membuat perubahan. Perubahan merupakan peningkatan yang lebih baik bagi prestasi siswa, strategi pengajaran, materi yang diajarkan. Hal ini tentunya juga dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh siswa dalam berbagai aspek.

Tata Cara Penelitian Tindakan
Tata cara penelitian tindakan adalah penelitian tersebut diadakan dalam beberapa siklus. Masing-masing siklus dimulai dengan menyusun rencana, melaksanakan tindakan, melakukan observasi, dan dilanjutkan dengan refleksi. (Muhtar, 1996:12) Menyusun rencana merupakan tahap awal yang dilakukan oleh guru. Guru merencanakan kegiatan apa yang sesuai dengan pokok bahasan yang akan diajarkan, dan bagaimana melaksanakannya, serta menyusun alat evaluasi yang sesuai dengan indikator-indikator yang nampak. Tahap berikutnya adalah guru melaksanakan tindakan untuk melihat apakah ada perubahan yang karena adanya perlakuan.
Guru mengevaluasi atau merefleksi tindakan yang telah dilakukan untuk megetahui kelebihan dan kekurangan tindakan tersebut. Hal ini didasarkan pada kriteria yang telah disusun sebelumnya. Jika tindakan tersebut telah sesuai degan kriteria yang diharapkan, maka penelitian tersebut telah dapat dihentikan. Akan tetapi, jika tindakan tersebut belum memenuhi kriteria yang diharapkan maka harus dilanjutkan ke siklus berikutnya.
Penelitian tindakan sangat sesuai bagi pengajar. Karena dengan diadakannya penelitian tindakan, guru dan siswa akan mendapatkan cara belajar dan pembelajaran yang diinginkan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Penelitian ini berangkat dari masalah yang di dapat di lapangan kemudian direfleksikan dan dianalisis berdasarkan teori yang menunjang, kemudian dilaksanakan tindakan di lapangan. Kesimpulan yang diperoleh tidak dapat digeneralisasikan pada ruang lingkup yang lebih luas, karena untuk kondisi dan situasi yang berbeda hasilnya bisa berbeda. Penelitian ini dapat dijadikan model, untuk memberikan rekomendasi pada situasi lain. ( Arifin Imron, 1994:4)
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dan dilaksanakan sesuai dengan prosedur penelitian tindakan kelas, meliputi: penyusunan rencana, melaksanakan tindakan, mengoservasi, dan melakukan analisis refleksi terhadap HASIL OBSERVASI. Analisis dan refleksi setiap akhir kegiatan digunakan sebagai bahan dalam melakukan tindakan perbaikan pada siklus berikutnya.
Pada penelitian ini kehadiran peneliti di kampus sangat diperlukan. Peran peneliti dalam penelitian ini adalah sebagai instrumen dan sekaligus pengumpul data. Sebagaimana Guba dan Lincoln dalam Muhadjidjir (1996: 120) bahwa manusia sebagai instrumen penelitian memiliki kualifikasi baik, yaitu: sifatnya yang responsif, adaptif, lebih holistik, kesadaran pada konteks, mampu menyederhanakan dengan cepat, mampu mengejar pemahaman yang lebih dalam. Selama kegiatan penelitian berlangsung peneliti bertindak sebagai pelaku dalm melaksanakan kegiatam mengajar. Peneliti akan menggunakan model pembelajaran CTL dengan pokok bahasan “Recreational Places” dan ”Shopping Center” yang diajarkan di semester dua pada mata kuliah speaking.
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berupa catatan-catatan, rencana persiapan mengajar, dan hasil pekerjaan siswa. Adapun sumber data dalam penelitian ini adalah mahasiswa semester dua program studi Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Kanjuruhan Malang.

Pelaksanaan Tindakan
Tindakan ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Masing-masing siklus terdiri dari tiga pertemuan. Setelah menganalisa dan refleksi, peneliti akan mengevaluasi apakah tindakan ini telah memenuhi kriteria atau belum. Jika penelitian ini belum memenuhi kriteria maka penelitian dilanjutkan ke siklus berikutnya.
Untuk pengumpulan data, peneliti menyediakan beberapa alat, yaitu:
a. Jurnal
Jurnal ini digunakan untuk mencatat seluruh kegiatan selama diadakannya penelitian. Jurnal ini berisi catatan-catatan yang diimplementasikan dalam penelitian pada saat pengajaran.
b. Tes
Tes yang digunakan adalah oral tes. Tes ini dilakukan untuk menilai kemampuan mahasiswa dalam speaking. Penilaian oral tes tersebut dikutip dari buku Djiwandono (1996;133). Analisa penilaiannya didasarkan pada komponen bahasa yaitu fluency (kelancaran) dan pronunciation (pengucapan). Ada dua macam tes yaitu: Tes awal digunakan untuk melihat kemampuan mahasiswa sebelum diadakannya penelitian. Tes akhir digunakan untuk melihat kemampuan mahasiswa setelah diadakannya penelitian
c. Tape Recorder
Tape recorder digunakan untuk merekam kemampuan mahasiswa selama dilaksanakannya oral tes. Alat tersebut juga membantu peneliti untuk menilai hasil tes karena bisa diulang berkali-kali.

Tabel 3.2 Model Speaking Performance dari Foreign Service Institute (Djiwandono, 1996;133)
Pronunciation/Pelafalan
Level/Tingkat Keterangan
0 Pelafalan yang sama sekali tidak dipahami
2 Pelafalan yang kerap tidak dapat dipahami
4 Pelafalan yang sulit dipahami, sering diulang
6 Pelafalan yang salah sehingga menimbulkan salah paham, masih adanya tata bahasa atau kosakata yang salah
8 Sering muncul salah pelafalan tetapi masih bisa dipahami
10 Tidak ada kesalahan dalam pelafalan
12 Menyerupai native speaker

Fluency/ Kelancaran
Level/Tingkat Keterangan
0 Tidak ada kemampuan berbicara sama sekali
2 Berbicara tersendat sehingga tidak dapat dimengerti
4 Berbicara dengan pelan dan tidak lancar
6 Berbicara dengan kalimat yang tidak lengkap
8 Berbicara dengan ragu
10 Berbicara lancar tetapi masih belum menyamai native speaker
12 Menyerupai native speaker

Analisa dan Refleksi
Pada refleksi, peneliti mengevaluasi dampak/hasil perlakuan selama diadakannya tindakan. Refleksi merupakan pertimbangan apakah penelitian yang telah diadakan berhasil atau belum. Jika dari data tersebut menunjukkan adanya hasil yang signifikan maka penelitian dapat dihentikan. Sebaliknya, jika dari siklus 1 tidak ditunjukkan hasil yang signifikan maka penelitian dilanjutkan ke siklus berikutnya sampai mendapatkan hasil yang diinginkan.

APLIKASI PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
Pada awal perkuliahan, peneliti telah mengadakan kajian awal selama proses perkuliahan speaking berlangsung. Peneliti menjumpai beberapa masalah dalam kemampuan speaking mahasiswa yang masih rendah. Oleh karena itu sebelum dilaksanakan penelitian tindakan kelas, peneliti mengadakan tes awal. Tes awal dilaksanakan pada tgl 02 April 2005 oleh peneliti yang juga sebagai pengajar speaking. Peneliti menggunakan tape recorder agar hasil yang didapat benar-benar reliabel.
Topik yang dipresentasikan mahasiswa dalam tes awal adalah tempat wisata (recreational place). Mahasiswa diminta untuk menceritakan salah satu tempat wisata yang pernah mereka kunjungi. Kesimpulan yang didapat adalah banyak mahasiswa yang masih menemui kesulitan untuk mengemukakan ide mereka. Mahasiswa berbicara pelan dan tidak lancar. Mahasiswa kesulitan dalam pelafalan. Misal, ketika mengucapkan like menjadi /’lik/.
Dalam kajian ini, peneliti menggunakan tes bahasa yang dikutip dari Djiwandono (1996;132-133). Secara umum hasil tes awal dari speaking menunjukkan hasil yang rendah. Rata-rata hasil mereka adalah 11.28.
Dengan hasil tes awal yang rendah, peneliti mengadakan tindakan yang ditunjukkan dengan beberapa siklus dimulai dengan perencanaan, pemberian tindakan, melakukan observasi dan dilanjutkan dengan refleksi.

Penelitian Tindakan Kelas
Siklus I
Penelitian ini dimulai dengan siklus I dan akan dievaluasi apakah apakah tindakan tersebut dilanjutkan ke siklus 2 atau berhenti. Siklus 1 diadakan dari tanggal 10 April sampai 25 April 2005.
Perencanaan
Pada tahap ini, peneliti menyusun rencana perkuliahan berdasarkan pokok bahasan yang akan diajarkan meliputi merumuskan kompetensi pembelajaran yang harus dicapai mahasiswa, merencanakan kegiatan yang sesuai dengan pokok bahasan yang akan diajarkan dan bagaimana melaksanakannya serta menyusun alat evaluasi yang sesuai dengan indikator-indikator yang nampak.
Peneliti memilih tempat wisata karena mahasiswa akan merasa senang jika dalam penerapannya mahasiswa diajak memantau secara langsung tempat wisata yang banyak diminati pengunjung dan yang tidak banyak diminati pengunjung.
Waktu yang dibutuhkan oleh peneliti bukan hanya pada saat jam perkuliahan tetapi juga pada saat hari libur.

Pelaksanakan Tindakan
a. Pertemuan 1
Dosen (peneliti) mengawali perkuliahan dengan mengucapkan salam dan mengecek kehadiran mahasiswa. Mahasiswa berjumlah 25 orang sehingga selalu gaduh.
Dosen berusaha menggali kemampuan mahasiswa tentang tempat rekreasi yang pernah dikunjungi oleh mahasiswa. Dosen memberikan pertanyaan, misalnya, ”What kind of recreational place do you like?”, “Have you ever gone to the beach?”, “Could you mention the characteristics of good recreational place?”.
Setelah memfokuskan pada topik tempat-tempat wisata, dosen meminta tiap mahasiswa untuk menceritakan salah satu tempat wisata yang pernah mereka kunjungi.
b. Pertemuan 2
Dosen membagi mahasiswa menjadi 5 kelompok. Karena jumlah mahasiswa adalah 25 mahasiswa sehingga tiap kelompok terdiri dari 5 orang mahasiswa.
Mahasiswa diajak mengunjungi tempat wisata yang saat ini banyak dikunjungi oleh masyarakat kota Malang yaitu Taman Rekreasi Kota (Tarekot) dan tempat rekreasi yang kurang diminati oleh pengunjung yaitu Alun-alun Kota Malang. Kedua tempat tersebut bebas dapat dikunjungi kapan saja tanpa ada biaya.
Masing-masing kelompok diminta mengidentifikasikan hasil pengamatan yang dilakukan, misalnya fakta apa yang dilihat di lapangan, bagaimana hal jtersebut dapat terjadi, bagaimana seharusnya memelihara tempa-tempat wisata. Masing-masing kelompk diminta untuk mempresentasikan di kelas.
c. Pertemuan 3
Mahasiswa mendiskusikan hasil kunjungan yang dilakukan pada pertemuan 2. setiap kelompok sangat antusias menceritakan pengalaman mereka setelah diajak ke Taman Rekreasi Kota dilanjutkan dengan Alun-alun Kota Malang. Mahasiswa dapat menceritakan dengan bebas tanpa ada rasa takut dan khawatir akan salah. Tiap kelompok diberi kesempatan menceritakan pengalamannya kurang lebih 15 menit dan kelompok lain ikut menanggapi.
d. Pertemuan 4
Peneliti (dosen) memberikan tema dan cerita kepada mahasiswa tentang tempat wisata baik yang ada di dalam maupun di luar negeri. Mahasiswa diberi waktu 30 menit untuk menelaah cerita tersebut setelah itu dosen meminta setiap mahasiswa untuk menceritakan kembali. Tema dan cerita tiap mahasiswa adalah berbeda. Diharapkan mahasiswa tidak dapat mengutip hasil dari mahasiswa lain.

Mengadakan Observasi
Peneliti mengumpulkan data, sumber data dan teknik pengumpulan data. Data yang diambil adalah berupa penilaian dari rerata tes awal dan tes akhir.
Alat pengumpulan data berupa tes, jurnal untuk merekam kegiatan mahasiswa dan tape recorder untuk merekam kemampuan speaking mahasiswa.

Refleksi dan Analisa

Berdasarkan pada obsevasi, peneliti menyimpulkan bahwa mahasiswa sangat antusias dalam speaking. Hal ini ditujukkan dengan respon mahasiswa ketika mereka berdiskusi. Dengan mahasiswa belajar dari fenomena yang nyata, mereka dapat memehami dan menceritakan dengan penuh percaya diri. Walaupun ada beberapa kosakata yang tidak dapat dimengerti oleh mahasiswa seperti tempat yang ramai, pengamen, jalan-jalan santai, nongkrong, dll.
Dari pengamatan tersebut ada beberapa hal yang harus dperbaiki, a) dosen harus lebih disiplin dalam mengatur kelas, b) tidak seluruh kelompok aktif dalam diskusi, sehingga dosen harus mengatur kelompok kembali dengan rata. Mahasiswa yang aktif digabungkan dengan yang pasif.
Peneliti menyimulkan bahwa siklus 1 masih belum memadai sehingga perlu diadakan siklus ke 2. hal ini ditunjukkan dengan nilai mahasiswa yang masih rendah walaupun mahasiswa sudah cukup aktif dalam berdiskusi. Hal ini ditunjukkan denngan hasil rerata 13.6

Siklus 2
Siklus 2 diadakan sejak tanggal 2 hingga 16 Mei 2005. Siklus 2 juga meliputi menyusun rencana tindakan, melaksanakan tindakan, melakukan observasi dan membuat analisis dilanjutkan dengan refleksi.
Perencanaan
Setelah memperhatikan siklus 1 yang masih belum memenuhi kriteria kesuksesan, peneliti merevisi prosedur penelitian pada siklus 2. Peneliti ikut dalam diskusi dan membantu mahasiswa yang kurang aktif.
Peneliti memilih pusat perbelanjaan untuk dianalisa karena peneliti merasa bahwa pusat perbelanjaan akna lebih sering dikunjungi oleh mahasiswa daripada tempat wisata. Sehingga mahasiswa akan lebih mudah menceritakan hal-hal yang terjadi di pusat perbelanjaan.
Peneliti menyusun rencana perkuliahan berdasarkan pokok bahasan yang akan diajarkan meliputi merumuskan kompetensi pembelajaran yang harus dicapai mahasiswa, merencanakan kegiatan yang sesuai dengan pokok bahasan yang akan diajarkan dan bagaimana melaksanakannya serta menyusun alat evaluasi yang sesuai dengan indikator-indikator yang nampak.
Peneliti mengajak mahasiswa untuk mengujungi pusat perbelanjaan yang banyak diminati masyarakat. Tempat tersebut adalah Sarinah dan Ramayana. Waktu yang dibutuhkan oleh peneliti bukan hanya pada saat jam perkuliahan tetapi juga pada saat hari libur.

Pelaksanaan Tindakan
a. Pertemuan 1
Pada pertemuan 1 seperti biasa dosen (peneliti) mengawali perkuliahan dengan mengucapkan salam kemudian mengecek kehadiran mahasiswa.
Dosen berusaha menggali kemampuan mahasiswa tentang pusat perbelanjaan yang pernah dikunjungi oleh mahasiswa. Dosen memberikan pertanyaan, misalnya, “Have you ever gone to the shopping center ?”, ”When do you usually go to the shopping center?”, “With whom do you usually go there?”. Setelah memfokuskan pada topik shopping center, dosen meminta tiap mahasiswa untuk menceritakan salah satu shopping center yang pernah mereka kunjungi.
b. Pertemuan 2
Dosen membagi mahasiswa menjadi 5 kelompok. Karena jumlah mahasiswa adalah 25 mahasiswa sehingga tiap kelompok terdiri dari 5 orang mahasiswa. Dosen membagi kelompok yang terdiri dari mahasiswa yang aktif dan tidak aktif.
Mahasiswa diajak mengunjungi pusat perbelanjaan yang saat ini banyak dikunjungi oleh masyarakat kota Malang yaitu Sarinah dan Ramayana. Pusat perbelanjaan tersebut banyak dikunjungi oleh masyarakat Malang. Harga yang ditawarkan tiap pusat perbelanjaan adalah berbeda.
Masing-masing kelompok diminta mengidentifikasikan hasil pengamatan yang dilakukan, misalnya fakta apa yang dilihat di lapangan, bagaimana hal tersebut dapat terjadi, Masing-masing kelompk diminta untuk mempresentasikan di kelas.
c. Pertemuan 3
Mahasiswa mendiskusikan hasil kunjungan yang dilakukan pada pertemuan 2. Setiap kelompok sangat antusias menceritakan pengalaman mereka setelah diajak ke Ramayana dilanjutkan dengan Sarinah. Mahasiswa dapat menceritakan dengan bebas tanpa ada rasa takut dan khawatir akan salah. Tiap kelompok diberi kesempatan menceritakan pengalamannya kurang lebih 15 menit dan kelompok lain ikut menanggapi.
d. Pertemuan 4
Peneliti (dosen) memberikan tema dan cerita kepada mahasiswa tentang pusat perbelanjaan yang pernah mereka kunjungi, baik yang ada di kota Malang maupun di luar kota. Peneliti meminta tiap mahasiswa untuk menceritakan pusat perbelanjaan yang pernah mereka kunjungi selain yang pernah mereka ceritakan sebelumnya.

Mengadakan Observasi
Peneliti mengumpulkan data, sumber data dan teknik pengumpulan data. Data yang diambil adalah berupa penilaian dari rerata tes awal dan tes akhir.
Alat pengumpulan data berupa tes, jurnal untuk merekam kegiatan mahasiswa dan tape recorder untuk merekam kemampuan speaking mahasiswa.

Refleksi dan Analisa
Berdasarkan hasil evaluasi, peneliti menyimpulkan bahwa siklus dua telah memenuhi hasil yang diharapkan. Karena peneliti ikut terlibat dalam diskusi maka mahasiswa yang bermasalah dalam pelafalan dan kelancaran dalam speaking dapat langsung diperbaiki.
Mahasiswa terlihat lebih antusias dalam berdiskusi karena dosen memberikan tema yang lebih mudah dibandingkan pada siklus 1. Tema tersebut tidak dipilihkan oleh peneliti tetapi mahasiswa diminta untuk memilih sendiri. Rerata yang didapat adalah 15.76.

PENUTUP
Berdasarkan penelitian tidakan kelas selama siklus 1 dan siklus 2, pengajaran berdasarkan Contextual Teaching and Learning dapat meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam speaking.
Pada rerata tes awal adalah 11.28. Hanya 6 (enam) / (30%) dari jumlah mahasiswa yang mencapai skor yang diharapkan. Kedua, adanya peningkatan rerata yaitu 13.6. Dan yang terakhir, rerata pada siklus 2 adalah 15.76. Hal ini menunjukkan bahwa dari 25 mahasiswa 80% telah mencapai skor yang diharapkan. Sehingga penelitian ini dapat dikatakan berhasil.
Diharapkan pada penelitian berikutnya guru atau dosen dapat mengatur suasana kelas. Selama diadakan penelitian tindakan, suasana kelas cenderung gaduh karena mahasiswa lebih bebas dalam berdiskusi. Dosen dapat menunjuk salah satu mahasiswa yang cukup pandai untuk membantu mahasiswa lain dalam pelafalan. Sehingga mahasiswa dapat mengerti apakah pelafalan yang benar.


DAFTAR PUSTAKA

Ary, Donald. 1999. Introduction to Research in Education. New York. Holt, Rinehart and Winston Pub.
Arthur, Hughes. 1999. Testing for Language Teacher. New York. Cambridge University Press.
Cahyono, Bambang. 1997. Pengajaran Bahasa Inggris; Teknik, Strategi, dan Hasil Penelitian. Malang, IKIP Malang.
Djiwandono, Soenardi. 1996. Tes Bahasa Dalam Pengajaran. Bandung, Penerbit ITB Bandung.
Huda, Nuril. 1999. Language Learning and Teaching, Issues and Trends. Malang. Universitas Negeri Malang Pub.
Johnson, Elaine, B.2002. Contextual Teaching and Learning. California. Corwin Press, INC.
Kasbolah, Kasihani. 1999. Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Jakarta. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Proyek Pendidikan Guru Sekolah Dasar. IBRD:LOAN-IND
Latief, Adnan. 2003. PenelitianTindakan Kelas Pembelajaran bahasa Inggris. Jurnal Ilmu Pendidikan , Jilid 10, No 2. Juni 2003.
McNiff, Jean. 1993. Action Research. Principles and Practice. New York. A Division of Rouledge. Chapman and Hall. Inc.
Ministry of National Education. 2003. Kurikulum 2004. Standar Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa Inggris. Jakarta. Depdiknas.
Muhtar, Andi. 1995. ELE Journal, Vol. 1 Number 1. July 1995. Why Does Indonesia Need English?. Malang. Eglish Education Dept. IKIP Malang.
Murdibjono. 1998. Teaching Speaking; From Form-Focused to Meaning-Focused Instruction. ELE Journal English Language Education FPBS, IKIP Malang.
Ur, Penny. 1999. A Course in Language Teaching, Practice and Theory. Great Britain. Cambridge University Press.

...

Tidak ada komentar: