Jumat, 24 Oktober 2014

MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBICARA BAHASA MANDARIN DENGAN MENGGUNAKAN KONSEP MULTIMEDIA SEBAGAI UPAYA PEMBELAJARAN BERBASIS KONTEKSTUAL DI UNIVERSITAS KANJURUHAN MALANG

Dimuat dalam Jurnal Syntagma Volume 2, No 3. November 2009

Abstraksi : Berdasarkan pengamatan peneliti, masalah yang dihadapi oleh siswa dalam berbicara bahasa Mandarin adalah kurangnya kosakata yang dimiliki siswa, hampir 75% siswa kurang memiliki motivasi dalam berbicara dan system pengajaran guru yang monoton. Guru hanya meminta siswa untuk mengingat percakapan tanpa menghubungkan dengan keadaan atau pengalaman yang dimiliki siswa. Untuk menjawab permasalahan yang dihadapi guru, peneliti ingin meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Mandarin dengan berbasis konsep multimedia sebagai upaya pembelajaran berbasis “kontekstual”. Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah, menemukan cara, strategi, atau prosedur yang tepat untuk memecahkan suatu masalah pembelajaran berbicara dalam bahasa Mandarin, yaitu dengan menggunakan konsep multimedia bagi mahasiswa Prodi Sastra Inggris Universitas Kanjuruhan Malang dan membuktikan bahwa pengajaran dengan menggunakan konsep multimediadapat meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Mandarin bagi mahasiswa Prodi Sastra Inggris Universitas Kanjuruhan Malang. Kata kunci: keterampilan berbicara, kontekstual, multimedia

Maria Cholifah1Dosen Bahasa Inggris Universitas Kanjuruhan Malang

Subari 2Dosen Komputer STIKI Malang

  A. Pendahuluan Sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, bahwa pembelajaran bahasa Mandarin di Indonesia bertujuan agar para peserta didik memiliki kemampuan dasar dalam keterampilan mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis untuk berkomunikasi secara sederhana (Sirodjuddin : 2007). Akan tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa keterampilan berbicara bahasa Mandarin merupakan hal yang dirasa sulit bagi siswa. Berdasarkan pengamatan peneliti, masalah yang dihadapi oleh siswa dalam berbicara bahasa Mandarin adalah kurangnya kosakata yang dimiliki siswa, hampir 75% siswa kurang memiliki motivasi dalam berbicara dan system pengajaran guru yang monoton. Guru hanya meminta siswa untuk mengingat percakapan tanpa menghubungkan dengan keadaan atau pengalaman yang dimiliki siswa. Menurut Ur (1999:120), “Aktivitas kelas yang mengembangkan kemampuan siswa dalam berbicara merupakan komponen penting dalam pembelajaran bahasa”. Hal ini didukung juga dengan pendapat masyarakat bahwa keberhasilan pengajaran bahasa asing ditunjukkan dengan kemampuan siswa dalam berkomunikasi. Untuk menjawab permasalahan yang dihadapi guru, peneliti ingin meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Mandarin dengan berbasis konsep multimedia sebagai upaya pembelajaran berbasis “kontekstual” atau lebih dikenal dengan pembelajaran CTL (Contextual Teaching and Learning). CTL (Contextual Teaching and Learning) merupakan salah satu alternatif untuk menghidupkan siswa belajar dengan sesungguhnya belajar. Contextual Teaching and Learning tidak membatasi pengajar dalam menciptakan berbagai cara metode mengajar. Sehingga guru dituntut untuk kreatif dalam mengembangkan topik-topik yang diajarkan. Guru dianggap telah sangat familier dengan berbagai jenis teknologi informasi yang sebagian besar telah mereka peroleh dengan mudah dalam kehidupan sehari-hari, misalnya dalam bentuk hiburan, seperti film, musik, drama, teknologi komputer dan sebagainya. Pembelajaran kontekstual menyajikan suatu konsep yang mengaitkan materi pelajaran yang dipelajari siswa dengan konteks dimana materi tersebut digunakan, serta hubungan bagaimana seseorang belajar atau gaya siswa belajar. Konteks memberi arti, relevansi dan manfaat penuh terhadap belajar. Penerapan pembelajaran kontekstual di Amerika berakar dari filsafat progresivisme John Dewey, yang intinya mengatakan bahwa siswa akan belajar dengan baik jika apa yang mereka pelajari berhubungan dengan apa yang mereka ketahui, serta proses belajar akan produktif jika siswa terlihat aktif dalam proses belajar di kelas. Pengkajian terhadap bahan ajar itu sendiri dalam suatu proses pembelajaran merupakan hal yang cukup penting, seperti dinyatakan oleh Cunningswort (1995) bahwa suatu bahan ajar sangat berpengaruh terhadap suasana suatu proses pembelajaran. Hal ini juga didasarkan pada penelitian sebelumnya, pengajaran dengan menggunakan konsep multimedia lebih efektif karena siswa menjadi lebih antusias dan nilai yang dihasilkan lebih tinggi dibandingkan siswa yang diajar secara konvensional (Cholifah, 2008 : 45) Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah, menemukan cara, strategi, atau prosedur yang tepat untuk memecahkan suatu masalah pembelajaran berbicara dalam bahasa Mandarin, yaitu dengan menggunakan konsep multimedia bagi mahasiswa Prodi Sastra Inggris Universitas Kanjuruhan Malang dan membuktikan bahwa pengajaran dengan menggunakan konsep multimediadapat meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Mandarin bagi mahasiswa Prodi Sastra Inggris Universitas Kanjuruhan Malang. 

B. Tinjauan Pustaka Definisi multimedia pembelajaran terbagi menjadi dua yaitu definisi sebelum tahun 1980-an dan definisi sesudah tahun 1980-an. Sebelum tahun 1980-an atau pada era 60-an, menurut Barker & Tucker, 1990 (Sunaryo Soenarto, 2005: 116), multimedia diartikan sebagai kumpulan dari berbagai peralatan media berbeda yang digunakan untuk presentasi. Dalam pengertian ini multimedia diartikan sebagai ragam media yang digunakan untuk penyajian materi pelajaran, misalnya penggunaan wall chart atau grafik yang dibuat di atas kertas karton yang ditempelkan di dinding. Tan Seng Chee & Angela F. L. Wong (2003: 217) menyatakan bahwa multimedia secara tradisional merujuk kepada penggunaan beberapa media, sedangkan multimedia pada zaman sekarang merujuk kepada penggunaan gabungan beberapa media dalam penyajian pembelajaran melalui komputer. Hakikat belajar pada tingkat pendidikan sekolah menengah menurut Tillar (1999: 42-43), bukan sekedar transmisi ilmu pengetahuan sebagai fakta, tetapi lebih dari itu, yakni peserta didik mengolah dengan penalaran sebagai bekal dasar bagi setiap warganegara yang bertanggung jawab. Oleh karena itu, ia menekankan bahwa proses pembelajaran pada pendidikan sekolah menengah, menuntut integrasi dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Salah satu pembelajaran yang diminati dan dirasa mudah didapat adalah pembelajaran berbasis multimedia. Pembelajaran berbasis multimedia merupakan pembelajaran melalui sistem penggabungan dan pengintegrasian media seperti teks, suara, grafik, animasi, video ke dalam sistem komputer (Cholifah, 2008:12). Hal ini dibuktikan pada penelitian sebelumnya, bahwa terdapat perbedaan skor yang sangat signifikan antara siswa yang diajar secara konvensional dan menggunakan multimedia. Siswa juga terlihat sangat antusias ketika proses belajar berlangsung. Pembelajaran dengan konsep multimedia dapat diberikan secara mandiri, materi pembelajaran yang berupa software dapat dipergunakan pada waktu dan tempat secara fleksibel (Cholifah, 2008 : 20) Penerapan pembelajaran kontekstual di Amerika berakar filsafat progresivisme John Dewey, yang intinya mengatakan bahwa siswa akan belajar dengan baik jika apa yang mereka pelajari berhubungan dengan apa yang telah mereka ketahui, serta proses belajar akan produktif jika siswa terlibat aktif dalam proses belajar di sekolah. Selain teori progresivisme John Dewey, teori kognitif melatarbelakangi pula filosofi pembelajaran kontekstual. Siswa akan belajar dengan baik jika mereka terlibat dalam segala kegiatan di kampus dan berkesempatan untuk menemukan sendiri. Mahasiswa menunjukkan hasil dalam bentuk apa yang mereka ketahui dan apa yang mereka lakukan. Berpijak dari dua pandangan itu, filosofi konstruktivisme berkembang. Siswa harus mengkonstruksi sendiri pengetahuannya. Melalui landasan filosofi kontruktivisme CTL dipromosikan menjadi alternatif strategi belajar yang baru. Melalui strategi CTL siswa diharapkan belajar melalui “pengalaman langsung”, bukanlah menghafal. Johnson (2002:25) mengartikan CTL merupakan suatu proses pendidikan yang bertujuan membantu siswa melihat makna dalam bahan pelajaran yang mereka pelajari dengan cara menghubungkannya dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari, yaitu dengan konteks lingkungan pribadi, sosial, dan budayanya. Untuk mencapai tujuan tersebut, sistem CTL akan menuntun siswa melalui kedelapan komponen utama CTL : melakukan hubungan yang bermakna, mengerjakan pekerjaan yang berarti, mengatur cara kerja sendiri, bekerjasama, berpikir kritis dan kreatif, memelihara/merawat pribadi siswa, mencapai standar yang tinggi, dan menggunakan asesmen autentik. Adapun definisi CTL yang mendasari penelitian ini adalah konsep belajar dimana guru/dosen menghadirkan dunia nyata ke dalam situasi pembelajaran (ke dalam kelas) dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapanya dalam kehidupan mereka sehari-hari, sementara siswa memperoleh pengetahuan dan ketrampilan dari konteks yang terbatas, sedikit demi sedikit. Dari proses mengkonstruksi sendiri dapat digunakan sebagai bekal untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya sebagai anggota masyarakat. 

C. Metode Penelitian Rancangan penelitian ini adalah kolaboratif penelitian tindakan kelas (Collaborative Classroom Action Research). Dalam hal ini, peneliti dibantu guru pengajar bahasa Mandarin dalam melakukan penelitian tindakan kelas ini. Karena penelitian ini dilakukan di kelas, maka penelitian ini diarahkan untuk mengembangkan pembelajaran berbicara dalam bahasa Mandarin, yaitu dengan menggunakan konsep multimedia. Dalam penelitian ini, peneliti bertindak sebagai seorang praktisi yang mengajar siswa dengan menggunakan konsep multimedia. Sedangkan guru bertindak sebagai pengamat (kolaborator) yang mengamati strategi yang dikembangkan oleh peneliti di kelas. Karena penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas, maka kegiatan penelitian dilakukan dalam bentuk siklus. Dalam hal ini, peneliti menerapkan model penelitian tindakan kelas yang dikembangkan oleh Kemmis dan Mc Taggart (1988), yang meliputi empat tahap: (1) perencanaan, (2) implementasi, (3) observasi, dan (4) analisis dan refleksi. Dalam tahap perencanaan, peneliti mempersiapkan strategi yang akan dikembangkan, mendesain skenario pembelajaran, mempersiapkan media pengajaran, membuat lembar observasi, membuat catatan lapangan, dan menentukan kriteria keberhasilan. Dalam tahap implementasi, peneliti menerapkan kosep multimedia. Dalam tahap observasi, peneliti mengumpulkan data selama proses belajar mengajar berlangsung. Dalam hal ini, peneliti mengamati konsep multimedia yang diterapkan di kelas dan hal-hal yang merupakan keunggulan dari strategi tersebut. Dalam tahap analisis dan refleksi, peneliti membandingkan hasil analisa data dengan kriteria keberhasilan. Penelitian ini akan dilanjutkan ke siklus berikutnya jika criteria keberhasilan belum dapat dicapai. Dalam siklus berikutnya, peneliti mengadakan beberapa revisi dalam penerapan konsep multimedia. Namun, jika kriteria keberhasilan telah dicapai, maka penelitian dianggap berhasil, dan tidak perlu meneruskan ke siklus berikutnya. Secara umum, aspek tes berbicara bahasa Mandarin meliputi a) kosakata, b) tata bahasa, c) kelancaran d)pengucapan. Dalam penelitian ini, peneliti hanya akan meneliti kemampuan bebicara mahasiswa berdasar kelancaran dan pengucapan. Berdasarkan tes awal, peneliti melihat bahwa kemampuan mahasiswa dalam berbicara sagat rendah, sehingga peneliti ingin mengembangkan kemampuan berbicaradengan konsep multimedia. Pada tahap ini peneliti menyusun rencana perkuliahan berdasarkan pokok bahasan yang akan diajarkan meliputi merumuskan kompetensi pembelajaran yang harus dicapai mahasiswa, menyusun langkah-langkah pembelajaran, merencanakan kegiatan apa yang sesuai dengan pokok bahasan yang akan diajarkan, dan bagaimana melaksanakannya, serta menyusun alat evaluasi yang sesuai dengan indikator-indikator yang nampak. Skenario pembelajaran pada penelitian ini dibagi menjadi tiga tahap, yaitu kegiatan awal, kegiatan utama dan kegiatan akhir. Pada kegiatan awal, peneliti memberikan motivasi kepada mahasiswa dengan mengadakan brainstorming. Dosen yang juga sebagai peneliti mengadakan tanya jawab dengan mengulas materi sebelumnya. Setelah itu, peneliti memberikan beberapa contoh percakapan sederhana dengan menggunakan konsep multimedia kepada mahasiswa. Kegiatan utama difokuskan pada pengenalan bacaan dengan menggunakan kosep multimedia. Mahasiswa diberi kesempatan untuk menirukan ungkapan sederhana sebagai bahan pengembangan topik. Diharapkan mahasiswa dapat saling menanggapi. Kegiatan akhir adalah dosen memberikan tes lisan, mahasiswa diminta untuk memperbaiki pelafalan dan dosen memberikan pelafalan yang benar. Setelah tugas tersebut dikumpulkan, dosen mengecek kemampuan mahasiswa (berkelompok) dengan meminta mempraktekan percakapan di depan kelas. Waktu yang dibutuhkan untuk kegiatan-kegiatan tersebut adalah 90 menit. 

D. Hasil Penelitian Mengacu pada hasil penelitian selama siklus 1 hingga siklus 2, meningkatkan kemampuan siswa dalam berbicara bahasa Mandarin dengan menggunakan bantuan multimedia ternyata cukup efektif. Penguasaan bicara Mandarin dengan menggunakan multimedia dapat diaplikasikan pada pengajaran bahasa Mandarin terhadap mahasiswa. Implementasi ini dapat juga disesuaikan dengan tingkat pemahaman mahasiswa. Terlebih materi yang diberikan adalah sesuai dengan pengalaman kehidupan siswa. Berdasarkan observasi peneliti selama proses perkuliahan, banyak mahasiswa yang merasa kesulitan dalam berbicara, terutama dari segi pengucapan dan kelancaran. Mahasiswa membutuhkan sarana yang menarik yang dapat meningkatkan motivasi dalam belajar, dimana mahasiswa merasa senang, tidak ada paksaan dalam mempelajari percakapan bahasa Mandarin. Dengan memperhatikan tes awal, tes akhir dan respon mahasiswa terhadap pembelajaran berbicara dengan menggunakan mltimedia, dapat disimpulkan adanya kemajuan atau peningkatan dalam penguasaan berbicara bahasa Mandarin. Pada tes awal, diperoleh rerata 5.74. Kedua, ada peningkatan rerata pada tes akhir siklus 1, yaitu 6.51. rerata tersebut belum mencapai criteria keberhasilan yang ditargetkan oleh peneliti. Ketiga, ada peningkatan rerata tes akhir pada siklus 2 yaitu 7.1. Sehingga penelitian ini sudah dapat dihentikan. Seluruh indicator keberhasilan telah terpenuhi, yaitu a) mahasiswa terlihat aktif dan antusias dalam diskusi dan presentasi, b) rerata tes akhir adalah 7.1. Berdasarkan refleksi dan data yang didapat dari 1 siklus, peneliti menyimpulkan beberapa hal yang berhubungan dengan kelebihan atau keuntungan dalam meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Mandarin dengan menggunakan multimedia. Pertama, pembelajaran bahasa Mandarin dengan menggunakan multimedia dapat meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Mandarin bagi mahasiswa. Mahasiswa dapat menirukan dan menyimak percakapan bahasa Mandarin dengan bebas tanpa ada batasan ide. Dengan mengaplikasikan system tersebut, perkuliahan bahasa Mandarin dapat lebih relax karena situasi kelas yang relax menjadikan mahasiswa lebih mudah menerima materi perkuliahan. Strategi penguasaan bahasa Mandarin dengan menggunakan multimedia dapat diaplikasikan pada seluruh tingkat pemahaman mahasiswa, beginner, intermediate dan advanced. Pada siklus 1, dosen membagi anggota kelompok berdasarkan tempat duduk mereka. Dosen tidak memperhatikan mahasiswa yang aktif dan pasif. Dosen mengadakan penelitian sendiri, kolaborator hanya diminta mengoreksi hasil tes akhir. Secara umum siklus 1 berjalan cukup baik, walaupun ada beberapa hal yang harus diperbaiki. Misalnya, a) mahasiswa yang masih terlihat pasif dan kurang tertarik dengan multimedia; b) terjadi dominasi pada saat diskusi dan presentasi; c) beberapa kelompok kesulitan dalam mengucapkan ungkapan. Pada siklus 2, prosedur pelaksanaan sedikit diubah. Peneliti dan kolaborator ikut dalam diskusi untuk menghindari kegaduhan dalam kelas. Peneliti dan kolaborator membantu secara langsung pada saat diskusi dan presentasi. Suasana kelas dapat dikuasai oleh dosen dengan baik. Rerata tes akhir pada siklus 1 adalah 6.51 sedangkan rerata tes akhir pada siklus 2 adalah 7.1. Sehingga siklus 2 dapat dikatakan berhasil. Berdasarkan pendapat mahasiswa tentang pengajaran bahasa Mandarin sebelum menggunakan bantuan multimedia, 12 (80%) orang mahasiswa berpendapat membosankan dan 3 (20%) orang mahasiswa berpendapat sangat membosankan. Kesan mahasiswa tentang kegiatan pembelajaran bahasa Mandarin dengan menggunakan multimedia adalah sangat menyenangkan dan menyenangkan. Sembilan (60%) mahasiswa berpendapat sangat menyenangkan dan enam (30%) mahasiswa berpendapat menyenangkan. Sebanyak 12 (80%) mahasiswa menyatakan bahwa pembelajaran bahasa Mandarin dengan menggunakan multimedia sangat membantu meningkatkan kemampuan dalam menghafal berbicara bahasa Mandarin dan 3 (20%) mahasiswa menyatakan bahwa pembelajaran bahasa Mandarin dengan menggunakan multimedia membantu meningkatkan kemampuan dalam berbicara. Mahasiswa yang berpendapat materi perkuliahan yang diajarkan sangat menarik sejumlah 6 (40%) orang dan yang berpendapat menarik sejumlah 9 (60%) orang mahasiswa. Pendapat mahasiswa tentang tingkat kesulitan materi perkuliahan yang diajarkan adalah 6 (40%) orang menjawab sangat mudah, 9 (60%) orang menjawab mudah. Sebanyak 6 (40%) orang mahasiswa menjawab sangat setuju bila pengajaran bahasa Mandarin dengan menggunakan multimedia selanjutnya dan 9 (60%) orang mahasiswa menjawab setuju bila pengajaran bahasa Mandarin dengan menggunakan multimedia diaplikasikan selanjutnya. 

E. Kesimpulan dan Saran Berdasarkan refleksi dari tiap siklus dapat disimpulkan sebagai berikut, pertama, siklus 2 telah memenuhi criteria keberhasilan. Mahasiswa sangat antusias pada saat diskusi dan presentasi. Respon mahasiswa terhadap pembelajaran bahasa Mandarin dengan menggunakan multimedia sangat memuaskan. Kedua, hasil rerata tes akhir siklus 2 telah memenuhi criteria keberhasilan yaitu 7.1. Sebelum diadakan penelitian tindakan kelas, rerata tes awal adalah 5.74, rerata tes akhir pada siklus 1 adalah 6.51, rerata tes akhir pada siklus 2 adalah 7.1. Secara umum pembelajaran bahasa Mandarin dengan menggunakan multimedia dapat meningkatkan penguasaan mahasiswa terhadap keterampilan berbicara bahasa Mandarin. Walaupun ada beberapa hal yang masih harus diperbaiki, misalnya a) partisipasi dosen dan kolaborator, b) pemilihan anggota kelompok. Saran yang diberikan oleh peneliti adalah, dosen, guru atau peneliti lain dapat menyesuaikan materi bahan ajar bahasa Mandarin yang diberikan kepada siswa, pemilihan tersebut hendaknya disesuaikan dengan tingkat penguasaan mereka. Kedua, jumlah mahasiswa yang terlalu besar mengakibatkan kelas menjadi gaduh. Hal ini dapat diminimalisasi dengan meminta salah satu mahasiswa untuk menjadi asisten sebagai ketua kelompok. Asisten dapat membantu dosen mengatur kelas saat mahasiswa lain menemukan kesulitan. Ketiga, diharapkan selama proses perhitungan tes awal dan tes akhir, dosen tidak menghitung secara keseluruhan tetapi dosen lebih memperhatikan kesulitan yang dihadapi oleh mahasiswa yang masih mendapatkan nilai yang minim. 

F. Daftar Pustaka Ary, Donald. 1999. Introduction to Research in Education. New York. Holt, Rinehart and Winston Pub. Cahyono, Bambang. 1997. Pengajaran Bahasa Inggris; Teknik, Strategi, dan Hasil Penelitian. Malang, IKIP Malang. Cholifah, Maria. 2008. Keefektifan Penguasaan Kosakata Bahasa Mandarin dengan Konsep Multimedia di Universitas Kanjuruhan Malang. Jurnal Sytagma. Malang : Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Kanjuruhan Malang. Direktorat Pendidikan Menengah Umum.1999. Penelitian Tindakan (Action Research). Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta. Djiwandono, Soenardi. 1996. Tes Bahasa Dalam Pengajaran. Bandung, Penerbit ITB Bandung. Jiao, Renmin. 2007. Chinese Language for Children. Singapore. People's Education Press of China. Johnson, Elaine, B.2002. Contextual Teaching and Learning. California. Corwin Press, INC. Latief, Mohammad Adnan. 2002. Pembelajaran Bahasa Inggris Berbasis Konteks. Bahasa dan Seni. Jurnal Bahasa, Sastra Seni dan Pengajarannya. Malang: Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Latief, Mohammad Adnan. 2003. Penelitian Tindakan Kelas Pembelajaran Bahasa Inggris. Jurnal Ilmu Pendidikan. Malang, Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia. Latief, Mohammad Adnan. 2001. Reliability of Language Skills Assessment Result. Jurnal Ilmu Pendidikan. Malang, Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia. Latief, Mohammad Adnan. 2000. Validitas Hasil Pengukuran. Malang, Bahasa dan Seni. Jurnal Bahasa, Sastra Seni dan Pengajarannya. Malang: Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Somantri, Nurdin. 2001. Pengajaran Bahasa Inggris dengan Menggunakan Multimedia. (http://alcob.com), diakses pada 10 Januari 2008. Thorn, W. 1995. Points to Consider when Evaluating Interactive Multimedia. The Internet TESL Journal. Ur, Penny. 1999. A Course in Language Teaching. Practice and Theory. Great Britain. Cambridge University Press. ...

1 komentar:

H.Siswoyo ESPERO mengatakan...

assalamualaikum.
saya danang ilmi MH FKIP bhs inggris
tolong saya di beri nomor teleponnya bu maria.
facebooknya bu maria juga sudah saya add.
terima kasih bu.. mohon maaf.
assalamualaikum