1.Menyusun kurikulum program studi sesuai kebutuhan stakeholder serta berkordinasi dengan dekan dan program studi lain.
2.Melakukan kordinasi dengan dekan dalam perencaan, dan pelaksanaan proses kegiatan akademik di tingkat program studi.
3.Melakukan kordinasi dan monitoring terhadap pelaksanaan kegiatan akademik di tingkat program studi secara keseluruhan.
4.Memonitoring kegiatan akademik seperti seminar, pelatihan, kegiatan penelitian, dan diskusi masing-masing konsentrasi.
5.Menyiapkan jadwal kuliah dan ujian sesuai kalender akademik yang ditetapkan.
6.Melakukan pengarahan dan monitoring pelaksanaan kerja unit-unit di bawah program studi.
7.Mengadakan penyediaan sarana dan prasarana (literature, peralatan) di tingkat program studi yang mendukung kebutuhan tenaga edukatif dalam pelaksanaan kegiatan akademik.
8.Melakukan perencanaan dan pembinaan tenaga edukatif di tingkat program studi.
9.Melakukan pengarahan, monitoring, dan evaluasi pelaksanaan kegiatan akademik tingkat program studi secara keseluruhan.
10.Pemantauan dosen pemegang mata kuliah MPK dan merencanakan dosen pemegang mata kuliah Keahlian Berkarya, Keilmuan dan Ketrampilan, serta mata kuliah pilihan.
11.Pemantauan pelaksanaan ujian-ujian.
12.Memberikan pengesahan program mata kuliah yang akan di tempuh oleh mahasiswa/ KRS mahasiswa.
13.Penunjukan dosen penasehat akademik dan pembimbing praktikum.
14.Penunjukan Pembimbing dan penguji skripsi serta menetapkan jadwal ujian skripsi.
15.Pemantauan dan mengevaluasi pelaksanaan perkuliahan dan bimbingan mahasiswa.
16.Pengkoordinasian penyusunan diktat oleh dosen di program studi.
17.Pengupayaan kerjasama dengan instansi terkait dalam rangka pengembangan Program studi.
18.Pengarahan dan pembinaan kegiatan ekstra kurikuler dan HMPS.
19.Penyusunan evaluasi dan pelaporan pelaksanaan tugas.
...
Senin, 04 Oktober 2010
JOB DESCRIPTION KETUA PROGRAM STUDI SASTRA INGGRIS
Minggu, 11 Juli 2010
Pengertian Handout, Modul, Buku dan Diktat

Diktat adalah bahan pembelajaran yang disusun berdasarkan kurikulum dan silabus, terdiri dari bab-bab, memuat detail penjelasan, referensi yang digunakan, memiliki standar jumlah halaman tertentu dan biasanya dipersiapkan atau dikembangkan sebagai buku.
Diktat berisi:
1. Pedoman substansi :
Substansi diktat disusun berdasarkan kurikulum, silabi dan SAP
2. Pedoman format:
Bagian-bagian yang harus ada:
a. Bagian Awal
1) Halaman Sampul
2) Halaman Penulis dan Penerbit
a) Halaman Persembahan (ungkapan untuk siapa saja), jika diperlukan
b) Halaman Pengesahan atau validasi standar UII.
3) Kata Pengantar
Memberikan informasi garis besar tentang diktat yang ditulis:
a) Pokok-pokok pemikiran/permasalahan dalam diktat
b) Siapa pengguna atau pembaca diktat
c) Pendekatan penulisan diktat (perbedaan dengan yang lain)
d) Informasi tambahan atau suplemen dan bila perlu media pembelajaran lain
4) Daftar Isi
5) Daftar Gambar/ Tabel / Takarir
b. Bagian Isi
Bagian isi terdiri dari bab-bab, sub bab yang diturunkan berdasarkan silabus, SAP yang meliputi:
1) Judul/Topik Pembelajaran.
2) Rumusan Kompetensi yang harus diperoleh mahasiswa dengan topik pembelajaran dan
Kata-kata/istilah/ungkapan kunci.
3) Isi/Materi Topik Pembelajaran.
4) Lembar Pertanyaan.
a) Model-model pertanyaan atau tes/latihan dapat berupa:
i. tes benar-salah (true-false test),
ii. soal isian (essay test),
iii. tes pilihan ganda (multiple choice test), dan tugas-tugas lain.
b) Topik/Materi Diskusi.
c) Saran-saran lebih lanjut.
d) Kunci Jawaban (jika diperlukan).
c. Bagian akhir
Daftar Pustaka (yang digunakan dalam menulis diktat)
Indeks (bila diperlukan)
Lampiran
Informasi Tentang Penulis Diktat : yang memuat hubungan antara materi diktat dengan keahlian penulis
Catatan: sebuah diktat sebaiknya jumlah halaman minimal 40 halaman [standar CCP], spasi 1,5, ukuran kertas A4
B. Modul
Modul adalah satuan program pembelajaran yang terkecil, yang dapat dipelajari oleh mahasiswa sendiri secara perseorangan (self instructional) setelah mahasiswa menyelesaikan satu satuan dalam modul, selanjutnya mahasiswa dapat melangkah maju dan mempelajari satuan modul berikutnya.
Pembelajaran dengan menggunakan modul, merupakan strategi tertentu dalam menyelenggarakan pembelajaran indiv idual. Modul pembelajaran, sebagaimana yang
dikembangkan di Indonesia, merupakan suatu paket bahan pembelajaran (learning materials) yang memuat deskripsi tentang tujuan pembelajaran, lembaran petunjuk dosen yang menjelaskan cara mengajar yang efisien, bahan bacaan bagi mahasiswa, lembaran kunci jawaban pada lembar kertas kerja mahasiswa, dan alat-alat evaluasi pembelajaran.
Modul berisi :
1. Judul Modul
Judul ini berisi tentang nama modul dari suatu mata kuliah tertentu.
2. Petunjuk Umum
Memuat penjelasan tentang langkah-langkah yang akan ditempuh dalam perkuliahan, sebagai berikut :
a. Kompetensi Dasar
b. Pokok bahasan
c. Indikator Pencapaian
d. Referensi
Diisi petunjuk dosen tentang buku-buku referensi yang dipergunakan.
e. Strategi Pembelajaran
Menjelaskan pendekatan, metode, langkah yang dipergunakan dalam proses pembelajaran.
f. Lembar Kegiatan Pembelajaran
Petunjuk bagi mahasiswa untuk memahami langkah-langkah dan materi perkuliahan
g. Evaluasi
Evaluasi dilakukan untuk mengetahui kemampuan mahasiswa setelah menyelesaikan
pembelajaran satu modul. Evaluasi ini diberikan setelah pembelajaran berakhir (post test) berupa:
tes benar-salah (true-false test), soal isian (essay test), tes pilihan ganda (multiple choice test), dan tugas-tugas lain.
3. Materi Modul
Berisi penjelasan secara rinci tentang materi yang dikuliahkan pada setiap pertemuan
4. Evaluasi Semester
Evaluasi ini terdiri dari tengah dan akhir semester dengan tujuan untuk mengukur kompetensi
mahasiswa sesuai materi kuliah yang diberikan.
C. Handout
1. Pengertian dan tujuan
Handout atau HO adalah “segala sesuatu” yang diberikan kepada mahasiswa ketika mengikuti kegiatan perkuliahan. HO dimaksudkan untuk memperlancar dan memberikan bantuan informasi atau materi pembelajaran sebagai pegangan bagi mahasiswa. HO dapat digunakan untuk beberapa kali pertemuan sangat tergantung dari disain dan lama waktu untuk penyelesaian satuan perkuliahan tersebut.
2. Komponen Handout:
Komponen handout terdiri dari:
a. Identitas handout: Nama fakultas, jurusan/prodi, kode mata kuliah, nama mata kuliah, pertemuan ke, handout ke, jumlah halaman dan mulai berlakunya handout.
b. Materi pokok/materi pendukung perkuliahan yang akan disampaikan; kepedulian, kemauan dan keterampilan dosen dalam menyajikan ini sangat menentukan kualitas HO.
3. Jenis Handout (00000)
Jenis handout dibagi berdasarkan karakteristik mata kuliah yang dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu handout mata kuliah praktek dan non praktek.
a. Handout untuk mata kuliah praktek berisi:
1) Materi pokok kegiatan praktek, di dalamnya;
2) Langkah-langkah kegiatan/proses yang harus dilakukan mhs, langkah demi langkah dalam memilih alat, merangkai dan menggunakan alat/ instrumen yang akan digunakan/dipasangkan dalam unit/rangkaian kegiatan praktek
3) Pembelajaran dengan melakukan praktek ini berbeda dengan pembelajaran teori,
pengalaman dan keterampilan mhs sangat diharapkan dalam penggunaan alat/instrumen
praktek (harus mutlak benar), salah dalam merangkai/menggunakan akan berakibat fatal , kerusakan atau bahkan kecelakaan.
4) Perlu/seringkali dilakukan pre-test terlebih dulu, sebelum mhs memasuki ruangan lab/bengkel, untuk mengetahui sejauh mana mhs telah siap dengan segala apa yang akan dilakukan praktek tsb.
5) Penggunaan alat evaluasi (reported sheet) sangat diperlukan untuk umpan balik dan untuk melihat tingkat ketercapain tujuan, serta kompe-tensi-kompetensi yang harus dikuasai dan dicapai oleh setiap mhs.
6) Keselamatan kerja di lab/bengkel perlu dibudayakan dalam kegiatan praktek, baik praktek di lab mapun di bengkel.
b. Handout untuk matakuliah non praktek:
1) Acuan handout adalah SAP.
2) Format handout
(a) Bebas (slide, transparansi, paper based), dan dapat berbentuk narasi kalimat tapi singkat atau skema/flowchart dan gambar.
(b) Tidak perlu pakai header maupun footer untuk setiap slide cukup yang halaman pertama saja.
3) Content handout:
(a) Overv iew materi
(b) Rincian materi
4. Untuk mata kuliah praktek format identitasnya sama, isi handout disesuaikan dengan kekhususan materinya.
5. Contoh bentuk-bentuk tampilan handout non praktek sebagai berikut:
D. BUKU
Buku adalah salah satu sumber bacaan, berfungsi sebagai sumber bahan ajar dalam bentuk materi cetak (printed material).
Secara umum buku dibedakan menjadi 4 jenis; yaitu:
1. Buku sumber yaitu buku yang biasa dijadikan rujukan, referensi, dan sumber untuk kajian ilmu tertentu, biasanya berisi suatu kajian ilmu yang lengkap,
2. Buku Bacaan, adalah buku yang hanya berfungsi untuk bahan bacaan saja, misalnya novel, cerita, legenda, dll,
3. Buku Pegangan, yaitu buku yang bisa dijadikan pegangan guru atau pengajar dalam
melakukan proses pengajaran
4. Buku bahan ajar, yaitu buku ynag disusun, untuk proses pembelajaran, dan beisi bahan-bahan atau materi pelajaran yang akan diajarkan,
Dalam penusunan buku ada kode etik, aturan dan ketentuan yang mengatur, jadi begi para penyusun buku, buku apapaun itu, harus tunduk apda kenetuan yang berlaku, diataranya secara umum sebagai berikut;’
a. Buku tidak boleh mengganggu ketentraman social,
b. Buku tidak boleh menggangu unsure sara,
c. Tidak boleh menjadi bahan prokontra antara beberapa etnis, golongan, ras, suku bangsa, budaya ataupun agama.
d. Buku harus bisa dipertanggungjawabkan keberaannya,
...
Senin, 30 November 2009
JUDUL PROPOSAL PENELITIAN PENDIDIKAN DOSEN UNY TH 2007
1. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yg Berwawasan Sosiokultural Berbasis Potensi Pertanian dan Kelautan (Suatu Kajian Analisis Isi)
2. Assesment Kebutuhan Pengembangan Pengelolaan Kelembagaan PKBM di DIY
3. Pengembangan Program Pendidikan SMK di DIY
4. Upaya Membentuk Kepribadian Anak Usia Dini dg Pendidikan Multikultural di TK Salam Nitiprayan Yogyakarta
5. Petilasan Kraton Pesanggrahan Ambarketawang dan Potensinya sbg Sumber, Media, dan Lab Natural dlm Model Pemblj Metodologi Rekonstruksi Sejarah
6. Penerapan Problem Solving Method dlm Pemblj Matematika Ekonomi Lanjut di Prodi Pend. Ekonomi FISE UNY
7. Pemetaan Jaringan Kerja Pendidikan Anak Usia dini di Yogyakarta
8. Peningkatan Kualitas Guru dalam Pembelajaran IPA SMP melalui Kegiatan Lesson Study
9. Analisis Muatan Kurikulum (Content Analysis) Bds Studi Kasus Eksplanatoris pd Pemahaman Mhs Tk Akhir ttg Kompetensi Profesional Guru di Jurs Pend Fisika FMIPA UNY
10. Penerapan Meta Analisis utk Mengkaji Hsl Implementasi Model-model Pembelajaran dlm Penlt Action Research Bid Sains di Lingk Lembaga Penelitian UNY
11. Pengembangan Model Pembelajaran Kimia SMU dengan Diskusi Jigsaw pada Mahasiswa Pend Kimia FMIPA UNY
12. Analisis Model Sertifikasi Guru Menggunakan Pendekatan Responsive Evaluation
13. Pengembangan Model Pembelajaran Problem Solving untuk Meningkatkan Kreatifitas Mahasiswa pada Mata Kuliah Praktik Fabrikasi
14. Peran Bursa Kerja Khusus sebagai Upaya Penempatan Lulus SMK dlm rangka Terwujudnya Link and Match antara Sekolah dengan Dunia Industri
15. Muatan Edukasi dalam "Dolanan" Anak-Anak
16. Pengembangan SOP Pelayanan Prima MK Manajemen Usaha Boga untuk Meningkatkan Kompetensi Mahasiswa
17. Kepriyayian Tokoh dlm Novel Warna Lokal Jawa dan Sumbangannya dlm Pengembangan Karakter Bangsa
18. Perumusan Nilai-nilai Pendidikan Budi Pekerti dlm Lagu-lagu Dolanan Anak Tradisional Jawa (Sebuah Penelitian Eksploratif-Fundamental)
19. Tingkat Kesegaran Jasmani Siswa Kls V SD di Kec Pengasih Kab Kulonprogo
...
Selasa, 18 Agustus 2009
ABSTRAKSI

Cholifah, Maria. Keefektifan Penguasaan Kosakata Bahasa Mandarin dengan Berbasis Konsep Multimedia Di Universitas Kanjuruhan Malang
Kata kunci : Kosakata, Bahasa Mandarin, Multimedia
Tanggung jawab para pendidik dalam memasuki era globalisasi adalah menyiapkan siswanya untuk menghadapi semua tantangan yang berubah sangat cepat dalam masyarakat kita. Kemampuan untuk berbicara bahasa asing adalah kriteria yang biasa diminta masyarakat untuk memasuki lapangan kerja baik di Indonesia maupun diseluruh dunia. Oleh karena itu bahasa asing selain bahasa Inggris menjadi penting. Dengan demikian semakin jelas bahwa penguasaan bahasa asing selain bahasa Inggris, dalam hal ini bahasa Mandarin, merupakan hal yang sangat mendesak.
Bahasa Mandarin saat ini sudah diberikan sejak Taman Kanak-kanak hingga di Perguruan Tinggi. Sayangnya hingga level Perguruan Tinggi, para mahasiswa masih menganggap bahwa bahasa Mandarin lebih sulit daripada bahasa Inggris. Dosen dan mahasiswa kurang memahami bagaimana proses pembelajaran bahasa Mandarin yang efektif. Mahasiswa masih menganggap bahwa menghafal kosakata adalah hal yang cukup sulit. Mahasiswa kurang memahami bahwa kosakata merupakan hal yang mendasari seseorang dapat berbicara, sehingga kosakata harus terus menerus dikuasai oleh mahasiswa.
Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengukur keefektifan penggunaan multimedia pada penguasaan kosakata bahasa Mandarin pada mahasiswa semester 2 Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris dengan bahasa pilihan bahasa Mandarin di Universitas Kanjuruhan Malang. Penelitian ini adalah penelitian Quasi Eksperimental dengan mengaplikasikan non-randomized pretest posttest control group. Sebelum diadakan perlakuan, mahasiswa kelompok eksperimental dan kontrol diberikan tes awal, kemudian dihitung rerata dan stardard deviasi. Untuk mengetahui homogenitas dari varian kelompok tersebut digunakan uji t. Untuk mengukur apakah variabel bebas dapat mempengaruhi variabel terikat, maka peneliti mengadakan perlakuan dan kemudian menghitung rerata skor tes akhir dari kedua kelompok tersebut. Level signifikansi pada penelitian ini adalah 0.05.
Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa rerata kelompok control adalah 72, sedangkan kelompok eksperimental adalah 79. Setelah dihitung dengan menggunakan uji t, maka t hitung adalah 12.28, sedangakan t table adalah 1.67 dengan taraf signifikansi 0.05. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa t hitung lebih besar dari t table, maka terdapat keefektifan penguasaan kosakata bahasa Mandarin dengan menggunakan konsep multimedia.
Dari hasil kuisioner yang telah diberikan dosen kepada kelompok eksperimental dapat disimpulkan bahwa siswa juga merasa senang dan terbantu jika pembelajaran kosakata bahasa Mandarin menggunakan konsep multimedia. Saran yang diberikan oleh peneliti berdasarkan penelitian eksperimental ini adalah diharapkan peneliti lain dapat mengembangkan penelitian ini dengan metode lain misalnya penelitian tindakan kelas. Hendaknya penggunaan multimedia dapat dikembangkan lebih menarik dan lengkap sehingga siswa merasa tertarik mempelajari bahasa Mandarin.
...
Rabu, 25 Februari 2009
BELAJAR DAN MENGAJAR
A. Belajar
Belajar pada hakikatnya adalah suatu aktivitas yang mengharapkan perubahan tingkah laku(behavioral change) pada individu yang belajar. Perubahan tingkah laku tersebut terjadi karena usaha individu yang bersangkutan. Belajar dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti: bahan yang dipelajari, faktor instrumental, lingkungan, dan kondisi individual si pelajar. Faktor-faktor tersebut diatur sedemikian rupa, agar mempunyai pengaruh yang membantu tercapainya kompetensi secara optimal.
Proses belajar yang dimaksudkan untuk mencapai tujuan pendidikan dan pembelajaran merupakan proses yang komplek dan senantiasa berlangsung dalam berbagai situasi dan kondisi. Percival dan Ellington (1984) menggambarkan model sistem pendidikan dalam proses belajar yang berbentuk kotak hitam (black box).
Masukan (input) untuk sistem pendidikan atau sistem belajar terdiri dari orang, informasi, dan sumber lainnya. Keluaran(output) terdiri dari orang/siswa dengan penampilan yang lebih maju dalam berbagai aspek. Sedangkan di antara masukan dan keluaran terdapat “black box"
Pada dasarnya, belajar merupakan masalah bagi setiap orang. Dengan belajar maka pengetahuan, keterampilan, kebiasaan, nilai, sikap, tingkah laku dan semua perbuatan manusia terbentuk, disesuaikan dan dikembangkan. Dari berbagai pandangan para ahli yang mencoba memberikan definisi belajar dapat diambil kesimpulan bahwa belajar selalu melibatkan tiga hal pokok yaitu: adanya perubahan tingkah laku, sifat perubahannya relatif permanen serta perubahan tersebut disebabkan oleh interaksi dengan lingkungan, bukan oleh proses kedewasaan ataupun perubahan-perubahan kondisi fisik yang temporer sifatnya. Oleh karena itu pada prinsipnya belajar adalah proses perubahan tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara siswa dengan sumber-sumber atau objek belajar, baik yang secara sengaja dirancang
(by design) maupun yang tidak secara sengaja dirancang namun dimanfaatkan yang berupa proses belajar atau pendidikan. (by utilization)
Proses belajar tidak hanya terjadi karena adanya interaksi antara siswa dengan guru. Hasil belajar yang maksimal dapat pula diperoleh lewat interaksi antara siswa dengan sumber-sumber belajar lainnya. Perolehan belajar, di samping penguasaan materi pembelajaran itu sendiri, dapat juga berupa kemampuan-kemampuan lain. Dari pengalaman belajar yang dialami, seseorang dapat belajar bagaimana caranya belajar.Aktivitas belajar sangat berkaitan dengan fungsi otak manusia. Sebagai organisme hidup, manusia merupakan suatu organisasi biologik yang dalam ujud strukturalnya terjadi secara genetik. Namun dalam perkembangan dan cara berfungsinya, otak manusia sangat dipengaruhi oleh hasil interaksinya dengan objek belajar atau lingkungan. Konsekuensi dari berfungsinya organisasi biologik itu adalah inteligensi (kecerdasan) yang bersumber dari otak manusia. Meskipun pada waktu anak manusia dilahirkan ia tidak memiliki ide atau konsep, namun konstitusinya memungkinkan untuk bereaksi terhadap lingkungan melalui saluran pengalaman yang dibawa sejak lahir (uncoscious awareness)(Conny Semiawan, 1988). Pada tahap awal perkembangan otak siswa, reaksi-reaksi berjalan secara refleks, namun selanjutnya akan menjadi suatu organisasi mental yang semakin mantap dan terstruktur.Belahan otak manusia terbagi menjadi dua, kiri dan kanan. Tugas, fungsi dan ciri setiap belahan otak adalah khusus dan membuat reaksi secara berbeda terhadap berbagai jenis pengalaman belajar. Keterlibatan otak sebelah kanan lebih tertuju pada variabel keseluruhan, holistik (utuh), imaginatif, sedangkan belahan otak sebelah kiri lebih berfungsi untuk mengembangkan berfikir rasional, linear dan teratur. Emosi, terletak dalam ke dua belahan otak dan memberi warna tertentu terhadap kejadian belajar yang dialami oleh seseorang. Bila keseimbangan berfungsinya kondisi otak terjaga, dengan melibatkan emosi, maka terjadilah belajar kreatif.Untuk memberikan landasan akademik/filosofis terhadap pelaksanaan pembelajaran khususnya pada jenjang SMU, maka perlu dikemukakan sejumlah pandangan dari para ahli pendidikan serta pembelajaran. Ada tiga pakar pendidikan yang teori serta pandangannya bisa digunakan sebagai acuan dalam mengembangkan dan mengimplementasikan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), yaitu John Dewey, Vygotsky, dan Ausubel.
Menurut Dewey(2001), tugas sekolah adalah memberi pengalaman belajar yang tepat bagi siswa. Selanjutnya ditegaskan bahwa tugas guru adalah membantu siswa menjalin pengalaman belajar yang satu dengan yang lain, termasuk yang baru dengan yang lama. Pengalaman belajar baru melalui pengalaman belajar yang lama akan melekat pada struktur kognitif siswa dan menjadi pengetahuan baru bagi siswa.
Menurut Vygotsky (2001), terdapat hubungan yang erat antara pengalaman sehari-hari dengan konsep keilmuan (scientific), tetapi ada perbedaan secara kualitatif antara berpikir kompleks dan berpikir konseptual. Berpikir kompleks didasarkan atas kategorisasi objek berdasarkan suatu situasi, sedangkan berpikir konseptual berbasis pada pengertian yang lebih abstrak. Ia menegaskan bahwa pengembangan kemampuan menganalisis, membuat hipotesis, dan menguji pengalaman sehari-hari pada dasarnya terpisah dari pengalaman sehari-hari. Kemampuan ini tidak ditentukan oleh pengalaman sehari-hari saja, tetapi lebih tergantung pada tipe spesifik interaksi sosial.
Menurut Ausubel(1969), pengalaman belajar baru akan masuk ke dalam memori jangka panjang dan akan menjadi pengetahuan baru apabila memiliki makna. Pengalaman belajar adalah interakasi antara subjek belajar dengan objek belajar, misalnya siswa mengerjakan tugas membaca, melakukan pemecahan masalah, mengamati suatu gejala, peristiwa, percobaan, dan sejenisnya. Agar pengalaman belajar yang baru menjadi pengetahuan baru, semua konsep dalam matapelajaran diusahakan memiliki nilai terapan di lapangan.
B. Mengajar
Joyce, Weil & Showers (1992) menyatakan bahwa mengajar (teaching) pada hakikatnya adalah membantu siswa memperoleh informasi, ide, keterampilan, nilai, cara berfikir, sarana untuk mengekspresikan dirinya, dan cara-cara belajar bagaimana belajar. Hasil akhir atau hasil jangka panjang dari proses mengajar adalah kemampuan siswa yang tinggi untuk dapat belajar dengan mudah dan efektif di masa mendatang. Tujuan utama dari kegiatan mengajar adalah pada siswa yang belajar. Dengan demikian hakikat mengajar adalah memfasilitasi siswa agar mereka mendapatkan kemudahan dalam belajar
...
Sabtu, 22 November 2008
KISI-KISI PROGRAM PENELITIAN DP2M (2)
D.HIBAH BERSAING (WARNA SAMPUL PROPOSAL ORANGE)
Tujuan : Inovasi dan invensi dalam bidang Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Kesenian
(Ipteks)
Tema :
1. Tema bebas,
2. Original,
3. Ada unsur kebaruan,
4. Ada relevansi dengan latar belakang peneliti dan berkaitan dengan matakuliah yang diampu
Pengusul :
1. Dosen dengan pendidikan minimum S2,
2. Track record penelitian yang pernah dilakukan,
3. Tim terdiri dari maksimum 4 (empat) peneliti, diutamakan multidisiplin,
4. Komposisi peneliti dapat berubah setiap tahun sesuai kebutuhan penelitian,
5. Maksimum 2 x sebagai ketua dan/atau anggota, kecuali bagi peneliti yang
berhasil mempublikasikan hasilnya pada jurnal internasional dan
memperoleh HKI dapat mengajukan untuk periode berikutnya,
6. Tidak merangkap sebagai ketua peneliti dan/atau anggota program DP2M
lainnya pada tahun yang sama,
7. Peneliti hanya diperbolehkan untuk mengusulkan 1 (satu) proposal hibah
bersaing pada tahun yang sama,
8. Pengusul yang berstatus sebagai mahasiswa, lembaga pengusul adalah
lembaga perguruan tinggi asal yang bersangkutan,
9. Diutamakan bagi dosen yang ada relevansinya dengan bidang keilmuan dan
matakuliah yang diampu
Institusi Pengusul : Seluruh perguruan tinggi di Indonesia
Mitra Pengusul : Tidak diperlukan
Metode Seleksi :
1. Dikoordinasikan oleh DP2M
2. Untuk menjaga objektivitas seleksi, dibentuk 10 (sepuluh) kelompok bidang
keilmuan,
3. Desk evaluation, presentasi
Monitoring dan Evaluasi :
1. DP2M mengkoordinasikan monev tahunan secara terpusat,
2. Seminar hasil penelitian dilakukan terpusat,
3. Site visit, bila diperlukan
Luaran :
1. Proses dan produk ipteks (metode, blue print, prototype, sistem, kebijakan,
model),
2. Potensi HKI,
3. Artikel ilmiah (dalam jurnal nasional/internasional)
4. Memperkaya bahan ajar, Laporan penelitian,
5. Teknologi tepat guna
Biaya : Sesuai kebutuhan dengan batas maksimum Rp 50,- juta per tahun
Waktu Pelaksanaan :
1. Maksimum 2 Periode, kecuali bagi peneliti yang berhasil mempublikasikan hasilnya pada jurnal internasional dan memperoleh HKI dapat mengajukan untuk periode berikutnya.
2. Tiap periode untuk multi tahun (maksimum 3 tahun)
Penerimaan Proposal : Proposal diterima DP2M selambat-lambatnya setiap akhir bulan Maret
E. HIBAH PASCA SARJANA (WARNA SAMPUL PROPOSAL BIRU TUA)
Tujuan :
1. Meningkatkan mutu pendidikan pasca sarjana melalui peningkatkan mutu penelitian yang berkualitas internasional.
2. Terobosan baru dalam Ipteks bagi masa depan
Tema :
1. Ada unsur kebaruan,
2. Originalitas
3. Memahami dan mengetahui Road Map penelitian yang akan dilakukan
4. Lingkup penelitian disesuaikan dengan thesis/desertasi mahasiswa pasca sarjana terkait dengan penelitian yang diusulkan.
5. Track record peneliti (dosen) menjadi acuan
Pengusul :
1. Dosen yang mempunyai bimbingan Doktor dan/atau Magister.
2. Tim peneliti terdiri atas ketua, maksimum 2 anggota tim peneliti yang juga
bertindak sebagai dosen pembimbing mahasiswa pasca.
3. Anggota peneliti dianjurkan dari disiplin yang berbeda dan dapat diganti
sesuai kebutuhan.
4. Dosen yang dapat menjadi ketua dan anggota peneliti harus dosen tetap
perguruan tinggi yang layak sebagai pembimbing mahasiswa pasca
(dilengkapi surat keterangan).
5. Keterlibatan mahasiswa minimum 4 orang S2 dan 2 orang S3.
6. Bagi program pasca sarjana yang belum memiliki program doktor minimal 6
orang S2 dalam 3 tahun. Usulan tahun pertama harus menyertakan minimal
2 mahasiswa program S2.
7. Mahasiswa S2 hanya boleh dilibatkan antara semester 1 dan semester 3
dari masa studinya selama maksimum 1 tahun.
8. Mahasiswa S3 hanya boleh dilibatkan antara semester 1 dan semester 5
dari masa studinya selama maksimum 2 tahun.
Institusi Pengusul : Seluruh perguruan tinggi di Indonesia yang memiliki program pasca sarjana pada bidang penelitian yang diusulkan
Mitra Pengusul : Tidak Diperlukan
Metode Seleksi :
1. Proposal lengkap yang telah lolos seleksi ditingkat perguruan tinggi
pengusul.
2. Desk evaluation, presentasi usulan penelitian
3. Dikoordinasikan DP2M
Monitoring dan Evaluasi :
1. Dikoordinasikan oleh DP2M,
2. Presentasi hasil program tahun berjalan,
3. Site visit
Luaran :
1. Thesis, desertasi,
2. Publikasi nasional/internasional,
3. Jumlah lulusan mahasiswa pascasarjana,
4. Jumlah lulusan doktor,
5. HKI
Biaya : Sesuai kebutuhan dengan batas maksimum Rp 90,- juta per tahun
Waktu Pelaksanaan :
1. Maksimum 2 Periode, kecuali bagi peneliti yang berhasil mempublikasikan hasilnya pada jurnal internasional dan memperoleh HKI dapat mengajukan untuk periode berikutnya.
2. Tiap periode untuk multi tahun (maksimum 3 tahun)
Penerimaan Proposal : Proposal diterima DP2M selambat-lambatnya setiap akhir bulan September
F. RAPID (WARNA SAMPUL PROPOSAL UNGU)
Tujuan :
1. Kegiatan ini ditujukan untuk mengkomersialisasikan hasil hasil penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, sehingga dalam RAPID aktivitas penelitiannya tidak menonjol dan titik beratnya untuk (Commercializing technology research product).
2. Terbentuknya suatu kerjasama yang saling menguntungkan antara dunia industri dengan Perguruan Tinggi.
Tema :
1. Tema ditetapkan berdasarkan permintaan top down,
2. Setiap tema didukung TOR terfokus yang dibuat dan ditetapkan oleh DP2M berdasarkan isu-isu strategis nasional dan/atau internasional,
3. Berdasarkan permintaan atau kebutuhan dari dunia usaha dan industri,
4. Ada unsur kebaruan dalam Iptek,
5. Sudah mempunyai hasil penelitian dan teknologi yang mendukung topik kegiatan RAPID.
Pengusul :
1. Ketua pelaksana harus tenaga dosen tetap perguruan tinggi,
2. Berpendidikan Doktor (S3),
3. Mempunyai pengalaman yang memadai dalam bidang penelitian dan pengabdian kepada masyarakat,
4. Tim pelaksana Rapid sebanyak-banyaknya terdiri atas 5 (lima) orang, terdiri atas peneliti dan praktisi terkait dengan bidang garapan.
5. Track record penelitian selaras dengan hasil produk yang akan dihasilkan,
6. Memiliki networking dengan dunia industri yang relevan.
Institusi : Seluruh perguruan tinggi di Indonesia
Mitra Pengusul :
1. Adalah Badan Usaha berstatus badan hukum,
2. Tergolong industri menengah ke atas,
3. Telah beroperasi minimal selama 5 tahun dan mempunyai prospek
pemasaran yang baik.
4. Bersedia berkolaborasi dengan Perguruan Tinggi
Metode Seleksi :
1. Pra proposal yang dikirimkan ke DP2M adalah praproposal yang telah diseleksi dan dinyatakan layak oleh lembaga yang bertanggung jawab terhadap kegiatan penelitian dan pengabdian pada masyarakat dari Perguruan Tinggi pengusul.
2. Desk evaluation,
3. Presentasi Pra Proposal,
4. Site visit oleh Tim Pakar dari DP2M
5. Full proposal evaluation oleh Tim Pakar DP2M
6. Presentasi Full Proposal
7. Site Visite oleh Tim Pakar DP2M Evaluasi tahap akhir dan penetapan
Monitoring dan Evaluasi :
1. Dikoordinasikan oleh DP2M,
2. Presentasi hasil program tahun berjalan,
3. Site visit,
4. Dilaksanakan secara bertahap sesuai keperluan
Luaran :
1. Produk siap untuk industrial scale,
2. Proses teknologi komersial;
3. Produk teknologi komersial,
4. Income Generating Unit bagi institusi dan pelaksana terkait,
5. Artkel Ilmiah Nasional/Internasional,
6. Memperkaya bahan ajar,
7. HKI (paten)
Biaya :
1. Mitra industri harus berkontribusi in-cash minimal 25% terhadap nilai
nominal kontrak, tidak termasuk in-kind
2. Perguruan tinggi berkewajiban berkontribusi sebesar 15% terhadap nilai
nominal kontrak, tidak termasuk in-kind,
3. Sesuai kebutuhan seperti yang tertera dalam TOR terkait dengan batas
maksimum Rp 300 juta,- per tahun
Waktu Pelaksanaan :
1. Sesuai dengan TOR
2. Sesuai kebutuhan
Penerimaan Proposal : Proposal diterima DP2M berdasarkan permintaan dalam TOR
...
Minggu, 02 November 2008
KISI KISI PROGRAM PENELITIAN DP2M (1)
A. DOSEN MUDA/STUDI KAJIAN WANITA
Tujuan : Memberikan pembinaan bagi peneliti muda sekaligus memberikan pelatihan cara membuat proposal dan melakukan pelatihan secara baik.
Tema : Tema bebas sesuai dengan bidang yang ditekuni dan menjadi perhatian peneliti (disarankan sesuai atau ada relevansinya dengan matakuliah yang diampu peneliti)
Pengusul :
1. Doktor dan lektor kepala tidak diperkenankan mengajukan (not eligible) kecuali penelitian studi Kajian Wanita diperbolehkan dengan ketentuan bukan bidang kajian wanita.
2. Seorang peneliti hanya diperbolehkan sebagai ketua dan sebagai anggota
di judul penelitian lain atau sebagai anggota di 2 kegiatan penelitian,
3. Susunan tim peneliti maksimum 2 anggota
4. Waktu maksimum 1 (satu) tahun fiskal,
5. Dosen yang belum mempunyai pengalaman meneliti untuk mendapatkan
dana kompetisi.
6. Tidak merangkap sebagai ketua peneliti program DP2M lainnya pada tahun
yang sama
Institusi Pengusul :
1. Perguruan Tinggi BHMN tidak diperkenankan
2. Atau Perguruan Tinggi lain dengan kriteria:
· Jumlah doktor > 25% dan
· Jumlah Guru Besar > 10% dan
· Jumlah PS (>35%) dalam institusi yang sudah menyelenggarakan
program pasca sarjana dan;
· Dana penelitian yang dibiayai DP2M > Rp 1 milyard.
Mitra Pengusul :
1. Tidak diperlukan,
2. Diperbolehkan menunjuk peneliti yang lebih senior sebagai pembimbing
Metode Seleksi :
1. Desk evaluation,
2. Perbanyak zone seleksi,
3. Institusi (PTN) dengan SDM cukup untuk membina PTS disekitarnya,
4. Panduan dan kriteria pemilihan reviewer,
Monitoring dan Evaluasi :
1. Melekat pada institusi yang bersangkutan melalui lembaga penelitian,
2. DP2M menerima hasil monev tahunan dari perguruan tinggi,
3. Seminar hasil penelitian bagi peneliti terpilih di zona atau wilayah oleh
perguruan tinggi yang ditentukan DP2M,
Luaran :
1. Laporan penelitian,
2. Proposal penelitian untuk diajukan ke program yang lebih tinggi dan terkait
pada penelitian dosen muda sebelumnya,
3. Draft artikel ilmiah
Biaya :
1. Maksimum Rp 10 juta,- per tahun (disesuaikan dengan kebutuhan)
2. Tidak ada honorarium peneliti
Waktu Pelaksanaan : Maksimum 1 (satu) tahun
Penerimaan Proposal : Proposal diterima DP2M selambat-lambatnya setiap akhir bulan Maret
B. PENELITIAN FUNDAMENTAL (WARNA SAMPUL PROPOSAL ABU-ABU)
Tujuan : Memperkaya khasanah ilmu pengetahuan (body of knowledge) sebagai jawaban
atas pertanyaan mengapa (why).
Tema :
1. Tema bebas,
2. Ada unsur kebaharuan,
3. Topik sesuai kreasi peneliti,
4. Biasanya hasil penelitian ini tidak siap untuk dipakai secara langsung.
Pengusul :
1. S3 atau Lektor Kepala ke atas,
2. Tidak ada batas maksimum sebagai peneliti,
3. Track record penelitian dari pengusul
4. Publikasi ilmiah dalam jurnal,
5. Tim maksimum terdiri dari 3 (tiga) peneliti,
6. Tidak merangkap sebagai ketua peneliti program DP2M lainnya pada tahun
yang sama.
7. Diutamakan bagi dosen yang ada relevansinya dengan bidang keilmuan
dan mata kuliah yang diampu.
Institusi Pengusul : Seluruh perguruan tinggi di Indonesia
Mitra Pengusul : Tidak diperlukan
Metode Seleksi :
1. Dikoordinasikan oleh DP2M,
2. Desk evaluation,
Monitoring dan Evaluasi :
1. DP2M mengkoordinasikan monev tahunan secara terpusat,
2. Seminar hasil penelitian dilakukan terpusat
Luaran :
1. Artikel ilmiah 1 tahun setelah selesai penelitian (dalam jurnal terakreditasi),
2. Laporan penelitian,
3. Bahan ajar dan memperkaya Satuan Acara Perkuliahan
4. Orientasi penelitian:
a. mekanisme
b. proses
c. fenomena
5. Potensi mengahasilkan HKI
Biaya : Maksimum Rp 40 juta,- per tahun (berlaku sejak tahun 2006)
Waktu pelaksanaan : Maksimum 2 (dua) tahun, dapat dilakukan hanya untuk 1 (satu) tahun,
Penerimaan Proposal : Proposal diterima DP2M selambat-lambatnya setiap akhir bulan Maret
C. HIBAH PEKERTI (WARNA SAMPUL PROPOSAL BIRU MUDA)
Tujuan :
1. Menggalang kerjasama penelitian antara peneliti TPP(Tim Peneliti Pengusul)
dan TPM (Tim Pengusul Mitra) baik dalam dan luar negeri;
2. Menggalang kerjasama secara institusional;
3. Meningkatkan mutu peneliti TPP melalui pemagangan;
4. Terbentuknya kolaborasi secara kelembagaan TPP dan TPM yang berkesinambungan
Tema :
1. Tema bebas
2. Ada unsur kebaruan (novelty)
3. Topik disepakati dan hasil kreasi TPP dan TPM
4. Diharapkan menjadi ciri khas TPP dan terkait dengan bidang keilmuwan dan
matakuliah yang diampu.
Pengusul :
1. TPP adalah kelompok peneliti yang memerlukan pemagangan dari pihak lain,
2. TPM adalah kelompok peneliti yang mampu memberikan bimbingan dan
bantuan teknis kepada TPP, ditunjukkan dengan Track record TPM
3. TPP yang telah mempunyai acceptance letter dari TPM luar negeri untuk
program yang diusulkan memperoleh prioritas dari DP2M.
4. Memahami/mengetahui Road Map penelitian yang akan dilakukan,
5. Mempunyai program penelitian yang akan dikembangkan secara bersamasama,
6. Setiap TPM hanya diperkenankan menerima maksimum 2 TPP
7. Susunan tim peneliti TPP terdiri atas 1 ketua, maksimum 2 anggota,
8. Tim peneliti TPP maksimum bergelar Master (S2),
9. TPP tidak berstatus mahasiswa, tidak memegang jabatan struktural,
10. Tim peneliti TPM terdiri atas 1 ketua dan 1 anggota,
11. Tim peneliti TPM harus bergelar Doktor (S3),
12. Tidak berasal dari PT yang sama,
13. Peneliti TPP lulusan luar negeri, baru dapat bermitra dengan TPM luar negeri
setelah 2 tahun sejak kelulusannya.
Institusi Pengusul : Seluruh perguruan tinggi di Indonesia
Mitra Pengusul : Perguruan Tinggi atau Lembaga Riset yang mampu melakukan pemagangan
ditinjau dari SDM, sarana maupun prasarana yang dimiliki.
Metode Seleksi :
1. Full proposal yang telah lolos seleksi ditingkat perguruan tinggi pengusul.
2. Desk evaluation, presentasi usulan penelitian
3. Dikoordinasikan DP2M.
Monitoring dan Evaluasi :
1. Dikoordinasikan oleh DP2M, Presentasi hasil program tahun berjalan oleh TPP dan TPM,
2. Laporan penelitian dibuat oleh TPP dan disetujui oleh TPM,
3. Laporan kemajuan pelaksanaan magang oleh TPM,
4. Site visit di institusi TPP dan TPM
Luaran :
1. Proposal riset kompetitif untuk diaplikasikan Nasional maupun Internasional,
2. Pengayaan bahan ajar,
3. Publikasi Jurnal Ilmiah nasional/internasional.
4. HKI (terutama paten)
Biaya : Disesuaikan kebutuhan dengan batas maksimum Rp75,- juta per tahun
Waktu Pelaksanaan :
- Maksimum 2 Periode, kecuali bagi peneliti yang berhasil mempublikasikan hasilnya pada jurnal internasional dan memperoleh HKI dapat mengajukan untuk periode berikutnya.
- Tiap periode untuk multi tahun (maksimum 3 tahun)
Penerimaan proposal : Proposal diterima DP2M selambat-lambatnya setiap akhir bulan Maret
...
Selasa, 26 Agustus 2008
JUDUL BUKU TEKS BIDANG BAHASA, SASTRA DAN PENDIDIKAN YANG DIDANAI DP2M TH 2008
1.E-Learning: Pembelajaran Konteporer dalam Matematika
2.Ilmu Retorika Bahasa Arab (Balaghah)
3.Pragmatik dan Penelitian Pragmatik
4.Bahasa Madura
5.Implementasi Kurikulum Tingakt Satuan Pendidikan
6.Perencanaan Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Berbasis KTSP Teori dan Penerapan
7.Berkenalan dengan Sosiologi
8.Model Pembelajaran Sains di Taman Kanak-Kanak dengan Bermain sambil Belajar
9.Tiga Pendekatan Sintaksis
...
JUDUL PROPOSAL MULTI TAHUN BIDANG BAHASA, SASTRA DAN PENDIDIKAN YANG DIDANAI DP2M TH 2005 DAN 2006
1.Sastra Anak Sebagai Wahana Pengenalan dan Pengasuhan Ideologi : Sebuah Kajian Wacana Kekerasan terhadap Perempuan dalam Fiksi Jawa Modern
2.Peran Keluarga Inti dalam Proses Komunikasi Antar Budaya Pada Masyarakat Cina Pontianak
3.Peranan Bahasa Tonsea dalam Pengobatan Tradisional sebagai Cermin Pola Pikir dan Perilaku Masyarakat Tonsea (Suatu Studi Etnolinguistik)
4.Karakteristik Ujaran Anak-anak Bilingual Indonesia Jawa di Malang jawa Timur
5.Pengembangan Model Pembelajaran Berbasis Komputer untuk Optimalisasi Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi
6.Konstruksi Makna Semantis dan Pragmatis pada Bahasa Indonesia Anak sebagai Upaya Membentuk Kompetensi Komunikatif
7.Pemahaman Makna Tindakan Wali Santri Memasukkan Anaknya Ke Pondok Pesantren Salafiyah Dalam Perspektif Fenomenologi
8.Evaluasi Pemahaman Gender Mahasiswa Bahasa Inggris Universitas Mulawarman Dalam Teks Sastra Inggris
9.Pergeseran Kadar Pengucapan Bunyi Bahasa Inggris Oleh Pembelajar Bahasa Inggris Penutur Bahasa Jawa Di Surakarta
...
JUDUL PROPOSAL HIBAH BERSAING BIDANG BAHASA, SASTRA DAN PENDIDIKAN YANG DIDANAI DP2M TH 2005 DAN 2006
1.Pengembangan Modul Pengajaran ESP-Bahasa Inggris Maritim Berorientasi Kebutuhan Pasar Untuk Mahasiswa Jurusan Nautika Pada Akademi Maritim Di Indonesia
2.Pengembangan Model Bahan Ajar Bahasa Indonesia Berbasis Kompetensi Berdasarkan Pendekatan Komunikatif dan Meaningful Learning yang Berperspektif Multikultural.
3.Pengembangan Cerita Rakyat Minahasa Dalam Mengungkap Nilai-nilai Pendidikan Serta Implementasinya pada Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP Kabupaten Minahasa.
4.Model Pembelajaran Karawitan Gending-lagu AnakanakBagi Anak-anak Tingkat Sekolah Dasar Upaya Menggali Nilai-nilai Pendidikan Budaya Jawa
5.Pemanfaatan Modul Pembelajaran Penulisan Naskah Drama Bagi Perempuan Penulis Naskah Drama Berperspektif Jender
6.Penyusunan Ensiklopedi Dan Katalog Kesusastraan Bali Untuk Menunjang Pengajaran Muatan Lokal Bahasa Daerah Bali Di Sekolah-Sekolah Di Provinsi Bali
7.Pengembangan Model Siklus Belajar Berdasarkan Potensi-Potensi Kearifan Lokal Masyarakat Bali dalam Bidang Pendidikan (Studi Pengembangan Model Siklus Belajar Berbasis Budaya)
8.Pengembangan model pembelajaran kajian cerpen berciri lokalitas melalui pendekatan integratif dalam upaya memberdayakan pembelajaran sastra di SMU Jawa Timur
9.Pengembangan Model Authentic Assesment dalam Pembelajaran Bahasa di Sekolah Menengah Atas sebagai Prosedur Penilaian Berbasis Kontekstual
10.Pengembangan Software Multimedia Pembelajaran Bahasa Inggris SD Berbasis Komputer
11.Pengembangan Materi Pembelajaran Bahasa Inggris SMA Berbasis Kompetensi
12.Pengembangan Metode Komunikasi Bagi Penyandang Cacat Buta (Tunanetra) dan Tuli (Tunarungu) Melalui Metode Bahasa Isyarat-Sentuhan
13.Pengembangan Model Strategi Pembelajaran Pendidikan Budi Pekerti dengan Pendekatan Kontruktivistik di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Kota Madiun
...
Jumat, 18 Juli 2008
SUDAH PATUTKAH KITA MENJADIKAN E-LEARNING SEBAGAI ALTERNATIF SUMBER BELAJAR SISWA ?

Oleh : Maria Cholifah, SS, M.Pd.
1. Pendahuluan
Pergeseran paradigma dalam pranata pendidikan yang semula terpusat menjadi desentralistis membawa konsekuensi dalam pengelolaan pendidikan, khususnya di tingkat Perguruan Tinggi. Kebijakan tersebut dapat dimaknai sebagai pemberian otonomi yang seluas-luasnya kepada stake holders (civitas akademika) dalam mengelola sistem pendidikan dan pengajarannya, termasuk di dalamnya berinovasi dalam pengembangan kurikulum dan model-model pembelajaran.
Otonomi yang luas itu, hendaknya diimbangi dengan perubahan yang berorientasi kepada kinerja dan partisipasi secara menyeluruh dari komponen pendidikan yang terkait. Kondisi ini gayut dengan perubahan kurikulum yang sedang diluncurkan dewasa ini oleh pemerintah, yakni Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Konsekuensi yang harus ditanggung oleh sekolah dan perguruan tinggi adalah restrukturisasi dalam pengelolaannya (capacity building), profesionalisme tenaga pengajar, penyiapan infrastruktur, kesiapan siswa dalam proses belajar dan iklim akademik (academic atmosphere).
IT atau Information Technology memberikan kontribusi yang luar biasa dalam hal penyebaran materi Informasi ke seluruh belahan dunia. IT merupakan suatu alat Globalisator yang luar biasa – salah satu instrumen vital untuk memicu time-space compression (menyusutnya ruang dan waktu), karena kontaknya yang tidak bersifat fisik dan individual, maka ia bersifat massal dan melibatkan ribuan orang. Hanya dengan berada di depan komputer yang terhubung dengan internet, seseorang bisa terhubung ke dunia virtual global untuk ‘bermain’ informasi dengan ribuan komputer penyedia informasi yang dibutuhkan, yang juga terhubung ke internet pada saat itu.
Perkembangan teknologi informasi (TI) yang sedemikian pesat tersebut menciptakan kultur baru bagi semua orang di seluruh dunia. Dunia pendidikan pun tak luput dari sentuhannya. Integrasi teknologi informasi ke dalam duina pendidikan telah menciptakan pengaruh besar. Dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi, mutu dan efisiensi pendidikan dapat ditingkatkan.
Salah satu produk integrasi teknologi informasi ke dalam dunia pendidikan adalah e-learning atau elektronik learning. Saat ini e-Learning mulai mengambil perhatian banyak pihak, baik dari kalangan akademik, profesional, perusahaan maupun industri. Di institusi pendidikan tinggi misalnya, e-Learning telah membuka cakrawala baru dalam proses belajar mengajar. Sedangkan di lingkungan industri, e-Learning dinilai mampu membantu proses dalam meningkatkan kompetensi pegawai atau sumber daya manusia. (Agusmanthono, 2006:2)
Menurut Darin E. Hartley dalam Muktiraga (2007: 1) e-learning merupakan suatu jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke siswa dengan menggunakan media internet, intranet atau media jaringan komputer lain. LearnFrame.Com dalam Glossary of e-learning Terms [Glossary, 2001] menyatakan suatu definisi yang lebih luas bahwa: e-learning adalah system pendidikan yang menggunakan aplikasi elektronik untuk mendukung belajar mengajar dengan media internet, jaringan komputer maupun komputer stand alone.
Pemerintah telah mengeluarkan Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 31 dan SK Mendiknas No. 107/U/2001 tentang PTJJ. Di mana secara lebih spesifik UU ini mengizinkan penyelenggara pendidikan di Indonesia untuk melaksanakan pendidikan melalui cara PTJJ dengan memanfaatkan teknologi informasi.
2. Kelebihan E-Learning
Jika pembelajaran konvensional di kelas mengharuskan siswa untuk hadir di kelas pada jam-jam tertentu (seringkali jam ini bentrok dengan kegiatan rutin siswa), maka e-learning memberikan fleksibilitas dalam memilih waktu dan tempat untuk mengakses pelajaran. Siswa tidak perlu mengadakan perjalanan menuju tempat pelajaran disampaikan, e-learning bisa diakses dari mana saja yang memiliki akses ke Internet. Bahkan, dengan berkembangnya mobile technology (dengan palmtop, bahkan telepon selular jenis tertentu), semakin mudah mengakses e-learning. Berbagai tempat juga sudah menyediakan sambungan internet gratis (di bandara internasional dan cafe-cafe tertentu), dengan demikian dalam perjalanan pun atau pada waktu istirahat makan siang sambil menunggu hidangan disajikan, siswa dapat memanfaatkan waktu untuk mengakses e-learning.
E-learning juga memberikan kesempatan bagi siswa untuk memegang kendali atas kesuksesan belajar masing-masing, artinya siswa diberi kebebasan untuk menentukan kapan akan mulai, kapan akan menyelesaikan, dan bagian mana dalam satu modul yang ingin dipelajarinya terlebih dulu. Mereka dapat memulai dari topik-topik ataupun halaman yang menarik minatnya terlebih dulu, ataupun bisa melewatkan bagian yang dianggap telah kuasai. Jika mengalami kesulitan untuk memahami suatu bagian, siswa dapat mengulang-ulang lagi sampai merasa mampu memahami. Banyak siswa merasa cara belajar independen seperti ini lebih efektif daripada cara belajar lainnya yang memaksakannya untuk belajar dengan urutan yang telah ditetapkan.
Banyak biaya yang dapat diminimalisasi dari cara pembelajaran dengan e-learning. Biaya di sini tidak hanya dari segi finansial tetapi juga dari segi non-finansial. Secara finansial, biaya yang bisa dihemat, antara lain biaya transportasi ke tempat belajar dan akomodasi selama belajar (terutama jika tempat belajar berada di kota lain dan negara lain), biaya administrasi pengelolaan (misalnya: biaya gaji dan tunjangan selama pelatihan, biaya instruktur dan tenaga administrasi pengelola pelatihan, makanan selama pelatihan), penyediaan sarana dan fasilitas fisik untuk belajar (misalnya: penyewaan ataupun penyediaan kelas, kursi, papan tulis, LCD player, OHP). Biaya non-finansial yang bisa dihemat antara lain: produktivitas tetap dapat dipertahankan bahkan diperbaiki karena siswa yang telah bekerja tidak harus meninggalkan pekerjaan yang sedang pada posisi sibuk untuk mengikuti pelatihan (jadwal pelatihan bisa diatur dan disebar dalam satu minggu ataupun satu bulan), daya saing juga bisa ditingkatkan karena karyawan bisa senantiasa meningkatkan pengetahuan dan keterampilan yang berkaitan dengan pekerjaannya, sementara bisa tetap melakukan pekerjaan rutinnya.
3. Kelemahan E-Learning
Berdasakan survei yang dilakukan oleh Chartered Management Institute (CMI) dan Centre for Applied Human Resource Research, Inggris mensurvei hampir 1000 orang manajer dan 12 pemimpin perusahaan besar dan menemukan, prediksi bahwa online learning akan menggantikan ruang kelas belum sepenuhnya terbukti secara menggembirakan. Menurut survei, hanya separo manajer yang telah memanfaatkan sumber-sumber daya online untuk memecahkan permasalahan, dan hanya satu dari 5 yang membuka program e-learning yang terstruktur. (Muktiraga, 2007:5)
Hampir 50% responden menyatakan penolakan terhadap e-learning disebabkan karena fasilitas online tersebut “menghilangkan sentuhan kemanusiaan”, dan selebihnya lebih menyukai dialog tatap muka langsung karena pembelajaran dengan bimbingan tutor lebih efektif. Rasa bosan juga merupakan hambatan terbesar dan responden tersebut juga berpendapat bahwa konten yang mereka temukan dalam materi online gagal untuk “mengikat” dan menarik mereka. Tiga dari 10 mengaku kurang termotivasi untuk menyelesaikan materi online tersebut, dengan 17% beralasan “kurangnya support“.
Bagaimanapun e-learning tidak dapat menggantikan sepenuhnya terhadap sistem belajar mengajar seperti di bangku sekolah atau kuliah, belajar di sekolah juga memiliki keunggulan dibandingkan dengan e-learning, yaitu proses pendidikan hanya bisa terjadi dalam interaksi langsung dalam segi-segi afektif seperti : sikap, nilai, apresiasi, kehalusan perasaan yang mana tidak cukup hanya diberitahukan atau diinformasikan, tetapi harus dihayati dan ditularkan melalui interaksi langsung. Pengembangan kemampuan-kemampuan dasar juga tidak bisa dipelajari sendiri, tetapi membutuhkan bimbingan, latihan, pendamping guru secara langsung. Pada usia pendidikan dasar untuk segi-segi tetentu membutuhkan contoh langsung. Bagaimanapun tugas seorang guru dan dosen tidak hanya mengajar tetapi juga mendidik agar mengahasilkan generasi penerus bangsa yang terbaik.
4. Kendala E-Learning
4.1 Kendala E-Learning di Indonesia
Sebuah studi yang dilakukan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Diten Dikti ) RI (2003) menunjukkan bahwa sub sektor pendidikan tinggi terdiri dari 82 perguruan tinggi negeri (PTN) dan lebih dari 2.236 perguruan tinggi swasta (PTS). PTN menampung 1 juta mahasiswa dan sekitar 2 juta mahasiswa berada di PTS. Bagian yang lebih kecil dari populasi mahasiswa, sekitar 200.000 mahasiswa berada di perguruan tinggi agama dan institusi pendidikan professional. Tingkat partisipasi di pendidikan tinggi masih rendah (sekitar 12,8 %) dibandingkan dengan negara berkembang lainnya di lingkup regional, seperti Filipina (32%) dan Thailand (30%). (Agusmantho, 2006:4)
Manfaat IT di bidang pendidikan memang menggiurkan bagi kaum akademisi yang haus akan informasi, juga bagi mereka yang hendak memobilisasi bangsa Indonesia agar lebih maju lagi dalam bidang ini. Namun ada beberapa kendala di Indonesia yang menyebabkan IT dan Internet belum dapat digunakan seoptimal mungkin. Pemerintah memang masih perlu mempersiapkan banyak hal untuk ini.
Salah satu kendala utamanya : kurangnya ketersediaan sumber daya manusia untuk melakukan proses transformasi teknologi, dan menyediakan infrastruktur telekomunikasi beserta perangkat hukumnya yang mengaturnya. Dalam hal perangkat hukumnya, yang menjadi pertanyaan dilematis adalah, “apakah infrastruktur hukum yang melandasi operasional pendidikan di Indonesia cukup memadai untuk menampung perkembangan baru berupa penerapan IT untuk pendidikan gaya baru ini?”, Sedangkan Cyberlaw yang menjadi senjata untuk menjerat pelaku kriminalitas di dunia maya tidak terdengar “kabarnya”.
Selain itu masih terdapat kekurangan pada hal pengadaan infrastruktur teknologi telekomunikasi, multimedia dan informasi yang merupakan prasyarat terselenggaranya IT untuk pendidikan sementara penetrasi komputer (PC) di Indonesia masih rendah. Biaya penggunaan jasa telekomunikasi juga masih mahal bahkan jaringan telepon masih belum tersedia di berbagai tempat di Indonesia. Untuk itu perlu dipikirkan akses ke Internet tanpa melalui komputer pribadi di rumah. Sementara itu tempat akses Internet dapat diperlebar jangkauannya melalui fasilitas di kampus, sekolah, bahkan melalui warung Internet. Hal ini tentunya diperhadapkan kembali kepada kesiapan pihak pemerintah maupun pihak swasta; Yang pada akhirnya pemerintahlah yang memegang kunci keberhasilan penerapannya. Sebab pemerintah merupakan pihak yang dapat menciptakan iklim kebijakan dan regulasi yang kondusif bagi investasi swasta di bidang pendidikan. Namun sementara pemerintah sendiri masih demikian pelit untuk mengalokasikan dana untuk kebutuhan pendidikan. Saat ini baru Institut-institut pendidikan unggulan yang memiliki fasilitas untuk mengakses jaringan IT yang memadai. Ambil contoh penerapan e-learning di kampus ITB, IPB, UI, Unpad, Universitas Hasanuddin, Universitas Negeri Malang, dan universitas lainnya baik negeri maupun swasta, seperti Universitas Bina Nusantara (Ubinus) Jakarta. Tetapi masih banyak pula institut-institut pendidikan lainnya yang belum diperlengkapi dengan fasilitas IT.
4.2 Kendala E-Learning Pada Pengajaran Bahasa Asing
Sebagai seorang pengajar bahasa asing (Bahasa Mandarin) saya tidak dapat sepenuhnya menjadikan e-learning sebagai sumber belajar utama bagi mahasiswa saya. Ada komponen-komponen tertentu dalam sistem belajar mengajar yang menuntut dosen bertatap muka dengan mahasiswanya. Misalnya ketika mengajarkan menulis Hanzi (huruf mandarin), dosen harus memantau perkembangan keterampilan mahasiswa dalam menulis huruf Mandarin (urutan goresan, bentuk goresan setiap huruf).
Menurut Ur (1999:120), “Aktivitas kelas yang mengembangkan kemampuan siswa dalam berbicara merupakan komponen penting dalam pembelajaran bahasa”. Hal ini didukung juga dengan pendapat masyarakat bahwa keberhasilan pengajaran bahasa asing ditunjukkan dengan kemampuan siswa dalam berkomunikasi. Sehingga siswa harus sering dilatih bicara agar siswa tidak merasa minder dan kekurangan kosakata. Di sinilah kewajiban seorang pengajar memberikan motivasi terhadap siswanya. Motivasi tersebut dapat berupa pendekatan afektif atau pengajaran yang menarik seperti games, diskusi, pembelajaran berbasis konteksual dll.
Pembelajaran berbasis kontekstual adalah mengajak siswa untuk terjun langsung mengamati kejadian dan keadaan yang nyata, sehingga siswa tidak hanya mengimajinasikan ilmu yang telah diserap. Dosen, guru dapat mengajak siswanya pergi ke tempat rekreasi agar siswa dapat menggambarkan dan menceritakan situasi dan kondisi yang ada di sana. Hal tersebut tidak akan bisa dilakukan dalam e-learning.
Dosen atau guru harus memberikan ujian secara tatap muka agar nilai yang didapat reliable dan valid. Terlebih jika materi yang diberikan adalah percakapan, pronunciation practice.
5. Bagaimanakah E-Learning yang Ideal ?
Menurut Ramadhani (2008: 2), ada empat langkah dalam manajemen pengelolaan program e-learning yakni pertama menentukan strategi yang jelas tentang target audience, pembelajarannya, lokasi audience, ketersediannya infrastruktur, budget dan pengembalian investasi yang tidak hanya berupa uang tunai. Kedua, menentukan peralatan misalnya hoste vs installed LMS dan Commercial or OS-LMS, ketiga adalah adanya hubungan dengan perusahan yang mengembangkan penelitian berkaitan dengan program e-learning yang dikembangkan di sekolah dan kampus. Ke empat menyiapkan bahan-bahan yang akan dibutuhkan bersifat spesifik, usulan yang dapat diimplementasikan serta menyiapkan short response time. Kesemuanya itu, hendaknya perlu dipikirkan masak-masak dalam konteks investasi jangka panjang.
Kompetensi dasar yang harus dimiliki guru dan dosen untuk menyelenggarakan model pembelajaran e-learning adalah pertama kemampuan untuk membuat desain instruksional (instructional design) sesuai dengan kaedah-kaedah paedagogis yang dituangkan dalam rencana pembelelajaran. Kedua, penguasaan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) dalam pembelajaran yakni pemanfaatan internet sebagai sumber pembelajaran dalam rangka mendapatkan materi ajar yang up to date dan berkualitas. Terakhir adalah penguasaan materi pembelajaran (subject matter) sesuai dengan bidang keahlian yang dimiliki.
Langkah-langkah kongkrit yang harus dilalui oleh guru/dosen dalam pengembangan bahan pembelajaran adalah mengidentifikasi bahan pelajaran yang akan disajikan setiap pertemuan, menyusun kerangka materi pembelajaran yang sesuai dengan tujuan instruksional dan pencapainnya sesuai dengan indikator-indikator yang telah ditetapkan. Bahan tersebut selanjutnya dibuat tampilan yang semenarik mungkin dengan didukung oleh gambar, video dan bahan animasi lainnya agar siswa lebih tertarik dengan materi yang akan dipelajari serta diberikan latihan-latihan sesuai dengan kaedah-kaedah evaluasi pembelajaran sekaligus sebagai bahan evaluasi kemajuan siswa. Bahan pengayaan (additional matter) hendaknya diberikan melalui link ke situs-situs sumber belajar yang ada di internet agar siswa mudah mendapatkannya. Setelah bahan tersebut selesai maka secara teknis guru tinggal meng-upload ke situs e-learning yang telah dibuat.
Dalam penetapan kualitas pembelajaran dengan menggunakan model e-learning telah dikembangkan oleh lembaga Qualitative Standards Scholarship Assessed: An Evaluation of the Professoriate yang dikembangkan oleh Glassick, Huber and Maeroff, (2005), dengan indikator-indikator instrumen yang telah dikembangkan meliputi: kejelasan tujuan pembelajaran, persiapan bahan pembelajaran yang cukup, penyiapan metoda belajar yang sesuai, menghasilkan hasil pembelajaran yang signifikan positif, efektifitas dalam mempresentasikan bahan pelajaran serta umpan balik yang kritis dari peserta didik.
Beberapa hal yang perlu dicermati dalam menyelenggarakan program e-learning / digital classroom adalah guru menggunakan internet dan email untuk berinteraksi dengan siswa untuk mengukur kemajuan belajar siswa, siswa mampu mengatur waktu belajar, dan pengaturan efektifitas pemanfaatan internet dalam ruang multi media.
6. Kesimpulan dan Saran
Semua bentuk sarana pendidikan (e-learning atau bukan) adalah bertujuan membantu peserta didik memahami bahan ajar yang diberikan tenaga pendidik kepadanya, disamping itu harus pula mampu membangkitkan minat belajar pada peserta didik tersebut, juga mampu membangkitkan rangsangan indera penglihatan, pendengaran, perabaan, pengecapan serta penciuman. Untuk tujuan tersebut maka seorang pendidik perlu memiliki sebuah media pembelajaran yang memadai, agar bahan ajar dapat diserap peserta didik dengan sebaik-baiknya.
Penggunaan berbagai media pembelajaran selama dapat menunjang kelancaran dan peningkatan kualitas pendidikan dapat saja digunakan, dengan catatan tenaga pendidik yang bersangkutan telah mengetahui kekurangan serta kelebihan media yang digunakannya tersebut. Setiap inovasi pembelajaran akan menghasilkan sesuatu yang menarik bagi peserta didik, tetapi inovasi tanpa pengembangan lebih lanjut justru akan berdampak kurang menarik, dan mengurangi minat peserta didik terhadap bahan ajar yang disajikan.
DAFTAR PUSTAKA
Agusmanthono, 2006. E-Learning Sebagai Solusi Permasalahan Pendidikan Indonesia. (http://agoestbkl.multiply.com), diakses pada 18 Juni 2008
Ary, Donald. 1999. Introduction to Research in Education. New York. Holt, Rinehart and Winston Pub.
Djiwandono, Soenardi. 1996. Tes Bahasa Dalam Pengajaran. Bandung, Penerbit ITB Bandung.
Johnson, Elaine, B.2002. Contextual Teaching and Learning. California. Corwin Press, INC.
Latief, Mohammad Adnan. 2001. Reliability of Language Skills Assessment Result. Jurnal Ilmu Pendidikan. Malang, Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia.
Latief, Mohammad Adnan. 2000. Validitas Hasil Pengukuran. Malang, Bahasa dan Seni. Jurnal Bahasa, Sastra Seni dan Pengajarannya. Malang: Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang.
Muktiraga. 2007. E-Learning VS I-Learning. (http://muktiraga.wordpress.com), diakses pada 18 Juni 2008.
Ramadhani, Masykur. 2008. E-Learning di Sekolah dan KTSP. (http://www.penaltila.org), diakses pada 18 Juni 2008
Syahid, Bambang Alam. 2007. E-Learning. Makalah tidak dipublikasikan
Ur, Penny. 1999. A Course in Language Teaching. Practice and Theory. Great Britain. Cambridge University Press.
...
Minggu, 01 Juni 2008
ORIENTASI PENELITIAN ILMIAH

PENDAHULUAN
Pada waktu ini kita sedang menyaksikan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat dinamis. Perkembangan ilmu pengetahuan itu bertujuan untuk mengungkapkan kaedah-kaedah baru mengenai fenomena alam, sosial atau kemanusiaan serta penerapannya untuk meningkatkan ksejahteraan umat manusia. Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan masukan yang sangat penting dalam pembangunan nasional.
Ilmu pengetahuan dan teknologi dikembangkan melalui kegiatan penelitian. Penelitian merupakan salah satu dharma perguruan tinggi, disamping dharma pendidikan dan pengabdian pada masyarakat. Dengan demikian, penelitian menjadi salah satu unsur kegiatan pokok dosen dan mahasiswa dalam melaksanakan tugas di perguruan tinggi. Penelitian merupakan wahana penting bagi perguruan tinggi untuk turut berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pembangunan nasional. Dalam makalah ini diuraikan metode penelitian, yang merupakan pengertian, ciri, jenis dan proses penelitian.
ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI
Ilmu pengetahuan berawal dari rasa ingin tahun mengenai suatu fenomena yang kita
temukan dalam kehidupan sehari-hari. Rasa ingin tahu tersebut merangsang kita untuk mengetahui lebih mendalam mengenai apa, mengapa atau bagaimana fenomena yang kita temukan. Dengan demikian, ilmu pengetahuan barawal dari adanya fenomena, baik fenomena itu terjadi di alam, masyarakat atau diri manusia.
Fenomena dapat pula timbul dari gagasan yang berupa praduga (konjektur), tanpa
adanya kejadian yang konkrit. Fenomena itu dapat pula diciptakan melalui percobaan dalam lingkungan yang terkendali. Selanjutnya fenomena itu diamati dan dinalar untuk mencari hubungan sebab-akibat (kausalitas) antara variabel dalam fenomena tersebut. Proses pengamatan dan penalaran tersebut dilakukan secara sistematis dengan cara yang disebut metode ilmiah. Jadi, ilmu pengetahuan adalah pengetahuan tentang hubungan sebab-akibat suatu fenomena yang disusun secara sistematis dari pengamatan, penalaran atau percobaan. Kaedah ilmu pengetahuan tersebut dapat diterapkan untuk memecahkan suatu masalah. Teknologi adalah ilmu tentang penerapan ilmu pengetahuan. Dalam
konteks makalah ini, teknologi dipandang sebagai cabang ilmu pengetahuan.
Pengembangan ilmu pengetahuan dimulai dengan menetapkan postulat-postulat, yaitu asumsi yang dianggap benar tanpa harus dibuktikan. Selanjutnya disusun logika, yaitu aturan berpikir yang berlaku dalam cabang ilmu pengetahuan yang bersangkutan. Logika tersebut diterapkan dengan sistematis untuk membangun tesis (pendapat) atau teori tentang hubungan sebab-akibat sebagai hasil postulat dan logika dalam sistem berpikir tersebut diatas. Dalam membangun ilmu pengetahuan, kebenaran hubungan sebab-akibat dijabarkan dari fakta-fakta yang diamati dari fenomena yang diteliti. Dan kebenaran tersebut harus bersifat universal dan dapat diuji kembali. Cara pengembangan ilmu pengetahuan seperti diuraikan di atas disebut metode ilmiah.
Dengan demikian ilmu pengetahuan dan metode ilmiah mempunyai sifat:
a. Logis
b. Obyektif
c. Sistematis
d. Andal.
e. Dirancang
f. Akumulatif.
Logis atau masuk akal, yaitu sesuai dengan logika atau aturan berpikir yang ditetapkan dalam cabang ilmu pengetahuan yang bersangkutan. Definisi, aturan,
inferensi induktif, probabilitas, kalkulus, dll. merupakan bentuk logika yang menjadi
landasan ilmu pengetahuan. Logika dalam ilmu pengetahuan adalah definitif. Obyektif atau sesuai dengan fakta. Fakta adalah informasi yang diperoleh dari pengamatan atau penalaran fenomena. Obyektif dalam ilmu pengetahuan berkenaan dengan sikap yang tidak tergantung pada suasana hati, prasangka atau pertimbangan nilai pribadi. Atribut obyektif mengandung arti bahwa kebenaran ditentukan oleh pengujian secara terbuka yang dilakukan dari pengamatan dan penalaran fenomena.
Sistematis yaitu adanya konsistensi dan keteraturan internal. Kedewasaan ilmu pengetahuan dicerminkan oleh adanya keteraturan internal dalam teori, hukum,
prinsip dan metodenya. Konsistensi internal dapat berubah dengan adanya penemuan-penemuan baru. Sifat dinamis ini tidak boleh menghasilkan kontradiksi
pada azas teori ilmu pengetahuan.
Andal yaitu dapat diuji kembali secara terbuka menurut persyaratan yang ditentukan
dengan hasil yang dapat diandalkan. Ilmu pengetahuan bersifat umum, terbuka dan
universal.
Dirancang. Ilmu pengetahuan tidak berkembang dengan sendirinya. Ilmu pengetahuan dikembangkan menurut suatu rancangan yang menerapkan metode ilmiah. Rancangan ini akan menentukan mutu keluaran ilmu pengetahuan. Akumulatif. Ilmu pengetahuan merupakan himpunan fakta, teori, hukum, dll. yang terkumpul sedikit demi sedikit. Apabila ada kaedah yang salah, maka kaedah itu akan diganti dengan kaedah yang benar. Kebenaran ilmu bersifat relatif dan temporal, tidak pernah mutlak dan final, sehingga dengan demikian ilmu pengetahuan bersifat dinamis dan terbuka.
PENELITIAN DAN CIRINYA
Kegiatan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi dilakukan dengan penelitian. Penelitian bertujuan untuk menciptakan ilmu pengetahuan baru atau menerapkan teknologi untuk memecahkan suatu masalah. Penelitian dilakukan dengan metode ilmiah. Jadi, penelitian adalah kegiatan yang menggunakan metode ilmiah untuk mengungkapkan ilmu pengetahuan atau menerapkan teknologi.
Penelitian mempunyai ciri:
a. Kontribusi
b. Metode ilmiah
c. Analitis
Keluaran penelitian harus mengandung kontribusi atau nilai tambah, harus ada sesuatu yang baru untuk ditambahkan pada perbendaharaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada. Originalitas yang dikandung dalam kontribusi penelitian dapat berlainan tingkatnya, dan tingkat kontribusi ini akan menentukan mutu penelitian.
Misalnya, hasil penelitian S3 biasanya mempunyai kontribusi yang sangat mendasar, mempunyai keberlakuan universal, atau mempunyai dampak luas pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kontribusi penelitian S2 bersifat kelanjutan atau penambahan teori, proses atau penerapan yang telah ada.
Sedangkan penelitian S1 biasanya merupakan hasil karya mandiri dalam menerapkan pengetahuan dan ketrampilan yang diperolehnya selama belajar di tingkat S1. Kontribusi itu dirumuskan sebagai tesis penelitian.
Pelaksanaan penelitian dilakukan dengan metode ilmiah. Penerapan metode ilmiah
dalam penelitian bertujuan agar keluaran penelitian dapat dipertanggung jawabkan
kebenarannya atau mutunya.
Tesis sebagai keluaran penelitian diuraikan atau dibuktikan secara analitis, yaitu
dijelaskan hubungan sebab-akibat antara variabel-variabel dengan menggunakan metode ilmiah.
Telah dikemukakan bahwa penelitian merupakan suatu kegiatan untuk memperoleh jawaban atau penjelasan mengenai suatu fenomena yang diamati. Jika fenomena itu sudah ada, penelitian akan berkisar mengenai struktur fenomena tersebut. Peneliti diminta menerangkan komponen-komponen yang esensial yang membentuk fenomena tersebut, dan bagaimana hubungan sebab-akibat diantara komponenkomponen tersebut. Jika fenomena belum ada, penelitian akan bertujuan untuk menciptakan fenomena tersebut. Pertanyaan yang dijawab dalam penelitian ialah struktur yang bagaimana yang harus diciptakan untuk menghasilkan fenomena dengan fungsi dikehendaki, dan apa yang dapat digunakan untuk menciptakan struktur tersebut.
JENIS PENELITIAN
Penelitian dapat dikelompokkan menjadi beberapa kategori, misalnya:
a. Penelitian kualitatif (incl. penelitian historis dan deskriptif)
b. Penelitian teoritis
c. Penelitian eksperimental
d. Penelitian rekayasa (incl. penelitian perangkat lunak)
Penelitian kualitatif adalah penelitian yang tidak menggunakan model-model matematik, statistik atau komputer. Proses penelitian dimulai dengan menyusun asumsi dasar dan aturan berpikir yang akan digunakan dalam penelitian. Asumsi dan aturan berpikir tersebut selanjutnya diterapkan secara sistematis dalam pengumpulan dan pengolahan data untuk memberikan penjelasan dan argumentasi mengenai tesis yang diajukan. Dalam penelitian kualitatif, proses pengumpulan dan pengolahan data dapat menjadi sangat peka dan pelik, karena informasi yang dikumpulkan dan diolah harus tetap obyektif dan tidak dipengaruhi oleh pendapat peneliti sendiri. Penelitian kualitatif banyak diterapkan dalam penelitian historis atau deskriptif.
Penelitian historis menerapkan metode pemecahan yang ilmiah dengan pendekatan historis. Proses penelitiannya meliputi pengumpulan dan penafsiran fenomena yang
terjadi di masa lampau untuk menemukan generalisasi yang berguna untuk memahami, meramalkan atau mengendalikan fenomena atau kelompok fenomena.
Penelitian jenis ini kadang-kadang disebut juga penelitian dokumenter karena acuan yang dipakai dalam penelitian ini pada umumnya berupa dokumen.
Penelitian historis dapat bersifat komparatif, yakni menunjukkan hubungan dari beberapa fenomena yang sejenis dengan menunjukkan persamaan dan perbedaan; bibliografis, yakni memberikan gambaran menyeluruh tentang pendapat atau pemikiran para ahli pada suatu bidang tertentu dengan menghimpun dokumendokumen tentang hal tersebut : atau biografis, yakni memberikan pengertian yang luas tentang suatu subyek, sifat dan watak pribadi subyek, pengaruh yang diterima oleh subyek itu dalam masa pembentukan pribadinya serta nilai subyek itu terhadap perkembangan suatu aspek kehidupan.
Penelitian deskriptif adalah penelitian tentang fenomena yang terjadi pada masa sekarang. Prosesnya berupa pengumpulan dan penyusunan data, serta analisis dan
penafsiran data tersebut. Penelitian deskriptif dapat bersifat komparatif dengan
membandingkan persamaan dan perbedaan fenomena tertentu; analitis kualitatif untuk menjelaskan fenomena dengan aturan berpikir ilmiah yang diterapkan secara sistematis tanpa menggunakan model kuantitatif; atau normatif dengan mengadakan klasifikasi, penilaian standar norma, hubungan dan kedudukan suatu unsur dengan unsur lain.
Penelitian teoritis adalah penelitian yang hanya menggunakan penalaran semata untuk memperoleh kesimpulan penelitian. Proses penelitian dapat dimulai dengan menyusun asumsi dan logika berpikir. Dari asumsi dan logika tersebut disusun praduga (konjektur). Praduga dibuktikan atau dijelaskan menjadi tesis dengan jalan menerapkan secara sistematis asumsi dan logika. Salah satu bentuk penerapan asumsi dan logika untuk membentuk konsep guna memecahkan soal adalah membentuk model kuantitatif. Dalam beberapa penelitian teoritis tidak diadakan pengumpulan data.
Penelitian ekperimental adalah penelitian yang dilakukan dengan menciptakan fenomena pada kondisi terkendali. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan hubungan sebab-akibat dan pengaruh faktor-faktor pada kondisi tertentu. Dalam bentuk yang paling sederhana, pendekatan eksperimental ini berusaha untuk menjelaskan, mengendalikan dan meramalkan fenomena seteliti mungkin. Dalam penelitian eksperimental banyak digunakan model kuantitatif.
Penelitian rekayasa adalah penelitian yang menerapkan ilmu pengetahuan menjadi suatu rancangan guna mendapatkan kinerja sesuai dengan persyaratan yang ditentukan. Rancangan tersebut merupakan sintesis unsur-unsur rancangan yang dipadukan dengan metode ilmiah menjadi suatu model yang memenuhi spesifikasi tertentu. Penelitian diarahkan untuk membuktikan bahwa rancangan tersebut memenuhi spesifikasi yang ditentukan. Penelitian berawal dari menentukan spesifikasi rancangan yang memenuhi spesifikasi yang ditentukan, memilih alternatif yang terbaik, dan membuktikan bahwa rancangan yang dipilih dapat memenuhi persyaratan yang ditentukan secara efisiensi, efektif dan dengan biaya yang murah. Penelitian perangkat lunak komputer dapat digolongkan dalam penelitian rekayasa.
PROSES PENELITIAN
Penelitian merupakan suatu siklus. Setiap tahapan akan diikuti oleh tahapan lain
secara terus menerus. Tahapan-tahapan penelitian itu adalah:
a. Identifikasi masalah
b. Perumusan masalah
c. Penelusuran pustaka
d. Rancangan penelitian
e. Pengumpulan data
f. Pengolahan data
g. Penyimpulan hasil
Tahapan ini hendaknya tidak dilihat sebagai lingkaran tertutup, tetapi sebagai suatu
spiral yang semakin lama makin tinggi. Penyimpulan hasil suatu penelitian akan
merupakan masukan bagi proses penelitian lanjutan, dan seterusnya. Identifikasi masalah. Penelitian dimulai dari pertanyaan yang belum dapat dijawab oleh seorang peneliti. Untuk ini diperlukan adanya motivasi yang berupa rasa ingin tahu untuk mengembangkan dan menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Untuk melihat dengan jelas tujuan dan sasaran penelitian, perlu diadakan identifikasi masalah dan lingkungan masalah itu. Masalah penelitian selanjutnya dipilih dengan kriteria, antara lain apakah penelitian itu dapat memecahkan permasalahan, apakah penelitian itu dapat diteliti dari taraf kemajuan pengetahuan, waktu, biaya maupun kemampuan peneliti sendiri, dan lain-lain. Permasalahan yang besar biasanya dibagi menjadi beberapa sub-masalah. Substansi permsalahan diidentifisikasikan dengan jelas dan konkrit. Pengertian-pengertian yang terkandung didalamnya dirumuskan secara operasional. Sifat konkrit dan jelas ini, memungkinkan pertanyaan-pertanyaan yang diteliti dapat dijawab secara eksplisit, yaitu apa, siapa, mengapa, bagaimana, bilamana, dan apa tujuan penelitian.
Dengan identifikasi yang jelas peneliti akan mengetahui variabel yang akan diukur
dan apakah ada alat-alat untuk mengukur variabel tersebut.
Perumusan masalah. Setelah menetapkan berbagai aspek masalah yang dihadapi, peneliti mulai menyusun informasi mengenai masalah yang mau dijawab atau memadukan pengetahuannya menjadi suatu perumusan. Untuk itu, diperlukan perumusan tujuan penelitian yang jelas, yang mencakup pernyataan tentang mengapa penelitian dilakukan, sasaran penelitian, maupun pikiran penggunaan dan dampak hasil penelitian. Permasalahan yang masih samar-samar dan diragukan mulai dipertegas dalam bentuk perumusan yang fungsional. Verbalisasi gagasan-gagasan dapat dirumuskan agar orang lain dapat memahaminya.
Pandangan-pandangan teori diuraikan secara jelas, sehingga mudah diteliti dan dapat dijadikan titik tolak penelitian. Perumusan masalah dapat dilakukan dengan pembuatan model.
Hipotesis merupakan salah satu bentuk konkrit dari perumusan masalah. Dengan adanya hipotesis, pelaksanaan penelitian diarahkan untuk membenarkan atau menolak hipotesis. Pada umumnya hipotesis dirumuskan dalam bentuk pernyataan yang menguraikan hubungan sebab-akibat antara variabel bebas dan tak bebas gejala yang diteliti. Hipotesis mempunyai peranan memberikan arah dan tujuan pelaksanaan penelitian, dan memandu ke arah penyelesaiannya secara lebih efisien. Hipotesis yang baik akan menghindarkan penelitian tanpa tujuan, dan pengumpulan data yang tidak relevan. Tidak semua penelitian memerlukan hipotesis.
Penelusuran pustaka. Penelitian dimulai dengan penelusuran pustaka yang berhubungan dengan subyek penelitian tersebut. Penelusuran pustaka merupakan langkah pertama untuk mengumpulkan informasi yang relevan untuk penelitian.
Penelusuran pustaka dapat menghindarkan duplikasi pelaksanaan penelitian. Dengan penelusuran pustaka dapat diketahui penelitian yang pernah dilakukan dan dimana hal itu dilakukan.
Rancangan penelitian. Rancangan penelitian mengatur sistematika yang akan dilaksanakan dalam penelitian. Memasuki langkah ini peneliti harus memahami berbagai metode dan teknik penelitian. Metode dan teknik penelitian disusun menjadi rancangan penelitian. Mutu keluaran penelitian ditentukan oleh ketepatan rancangan penelitian.
Pengumpulan data. Data penelitian dikumpulkan sesuai dengan rancangan penelitian yang telah ditentukan. Data tersebut diperoleh dengan jalan pengamatan, percobaan atau pengukuran gejala yang diteliti. Data yang dikumpulkan merupakan pernyataan fakta mengenai obyek yang diteliti.
Pengolahan data. Data yang dikumpulkan selanjutnya diklasifikasikan dan diorganisasikan secara sistematis serta diolah secara logis menurut rancangan
penelitian yang telah ditetapkan. Pengolahan data diarahkan untuk memberi argumentasi atau penjelasan mengenai tesis yang diajukan dalam penelitian, berdasarkan data atau fakta yang diperoleh. Apabila ada hipotesis, pengolahan data diarahkan untuk membenarkan atau menolak hipotesis. Dari data yang sudah terolah kadangkala dapat dibentuk hipotesis baru. Apabila ini terjadi maka siklus penelitian dapat dimulai lagi untuk membuktikan hipotesis baru.
Penyimpulan hasil. Setiap kesimpulan yang dibuat oleh peneliti semata-mata didasarkan pada data yang dikumpulkan dan diolah. Hasil penelitian tergantung pada kemampuan peneliti untuk menfasirkan secara logis data yang telah disusun secara sistematis menjadi ikatan pengertian sebab-akibat obyek penelitian. Setiap kesimpulan dapat diuji kembali validitasnya dengan jalan meneliti jenis dan sifat data dan model yang digunakan.
HASIL PENELITIAN
Keluaran penelitian dapat berupa teori, metode proses dalam prototip baru. Keluaran penelitian merupakan kontribusi penelitian pada perbendaharaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hasil tersebut dapat dikelompokkan menjadi perangkat lunak (informasi dasar dan publikasi ilmiah) serta perangkat keras (prototip), dll.
Informasi dasar. Yang dimaksud dengan informasi dasar disini ialah hasil penelahaan sesuatu aspek mengenai alam lingkungan, masyarakat, kondisi sosial, budaya dan sebagainya. Hasil penelahaan tersebut disusun sebagai teori, metode, proses baru.
Publikasi ilmiah. Hasil penelitian disebarluaskan melalui publikasi ilmiah. Publikasi
ilmiah adalah sarana agar kontribusi penelitian dapat dibahas dan diuji kembali secara terbuka oleh masyarakat ilmiah. Publikasi ilmiah memungkinkan masuknya umpan balik bagi peneliti. Umpan balik ini penting karena dengan demikian suatu hasil penelitian akan diuji dan diuji lagi. Dengan cara demikianlah sifat akumulatif dalam metode ilmiah itu berlangsung.
Prototip. Bentuk lain dari keluaran penelitian adalah perangkat keras atau prototip.
Prototip merupakan produk awal penelitian. Prototip tersebut masih dalam skala
laboratorium dan jumlahnya tidak banyak. Prototip selanjutnya dapat dikembangkan
untuk menjadi produksi masal.
PENUTUP
Penguasaan metode penelitian dapat meningkatkan kemampuan dosen dan mahasiswa untuk menghasilkan keluaran penelitian yang bermutu. Keluaran penelitian dapat menjadi kontribusi perguruan tinggi dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pembangunan nasional. Dengan demikian, penelitian merupakan wahana penting bagi perguruan tinggi untuk turut berperan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pembangunan nasional.
DAFTAR ACUAN
[1] Gay, L.R. and Diehl, P.L. 1992. Research Methods for Business and
Management. Macmillan Publishing Co, New York
[2] Koentjaraningrat. 1977. Methode-methode Penelitian Masyarakat. Penerbit
Gramedia, Jakarta
[3] Lastrucci, C.L. 1963 The Scientific Approach Basic Principles of the Scientific
Method. Schenkam Publishing Company Inc.. Cambridge. Massachusetts
[4] Leedy, P.D. 1974. Practical Research Planning and Design. Macmillan
Publishing Company Inc., New York
[5] Neale, J.M. and Liebert, R.M. 1986. Science and Behavior: An Introduction to
Methods of Research. Prentice Hall, Englewood Cliffs, New Jersey
[6] Wilson, E.B. 1952. Introduction to Scientific Research. McGraw-Hill Book
Company Inc., New York
[7] -----. 1992. Panduaan Metode Penelitian. Direktorat Pembinaan Penelitian dan
Pengabdian pada Masyarakat, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi,
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta
Prof Muhammadi adalah Gurubesar tetap pada Fakultas Teknik Universitas
Indonesia
...
Minggu, 25 Mei 2008
ESENSI PENGENDALIAN EKSPERIMEN DALAM ILMU PENDIDIKAN
A.Pendahuluan
Ciri umum pengembangan ilmu pengetahuan adalah dilakukannya penelitian-penelitian ilmiah bagi cabang ilmu pengetahuan yang ada. Makin banyak penelitian dilakukan bagi suatu cabang ilmu maka makin kokoh keberadaan cabang ilmu tersebut di lingkungan keilmuan, dan makin profesional pula kemungkinan penerapan cabang ilmu tersebut
Ilmu pendidikan, sebagai bagian dari ilmu-ilmu sosial, merupakan cabang ilmu yang relatif muda dan masih harus terus menerus memperjuangkan eksistensinya agar benar-benar berterima serta tidak inferior terhadap cabang-cabang ilmu pengetahuan yang lain, khususnya terhadap ilmu-ilmu alam (natural sciences). Dalam melaksanakan berbagai penelitian ilmiah dalam bidang pendidikan, sebagian ahli pendidikan tentu saja akan sampai pula pada pengamatan hubungan antar fenomena yang bercorak hubungan
sebab-akibat (causal relationship). Untuk menjelaskan hubungan kausalitas antar variabel ini jenis penelitian yang perlu banyak dilakukan dan yang mempunyai daya penjelasan terbaik atau terkuat adalah jenis eksperimen.
Untuk melaksanakan dan mendapatkan hasil penelitian jenis eksperimen yang sebaik-baiknya, peneliti atau calon peneliti pendidikan harus benar-benar memahami dahulu ciri-ciri serta persyaratan pelaksanaan penelitian eksperimen itu sendiri. Hal ini perlu demikian adanya agar para peneliti tidak terjebak dalam pengambilan kesimpulan yang salah (bias) atas hasil-hasil penelitiannya. Penelitian jenis eksperimen mempunyai kelebihan dan kekurangan tersendiri sehingga kemungkinan keterpakaiannya dalam suatu cabang ilmu berbeda-beda antara satu dengan yang lain, tergantung pada karakteristik dari cabang-cabang ilmu yang hendak menggunakannya.
Makalah ini mencoba mengangkat sebagian isu penting penelitian jenis eksperimen dalam rangka berandil guna bagi kejelasan dan pemantapan pengembangan penelitian-penelitian pendidikan yang sedang atau akan dilakukan para peneliti pendidikan, khususnya dari kalangan sivitas akademika IKIP dan sejenisnya.
B. Logika Dasar Eksperimentasi
Eksperimentasi dimulai dengan mengembangkan hipotesis hubungan sebab-akibat antara variabel terikat dan variabel bebasnya. Selanjutnya dilakukan berturut-turut: pengukuran nilai (kualitas) variabel terikatnya (pretest), mengenakan perlakuan (kondisi pengubah nilai) terhadap variabel bebasnya, dan mengukur kembali nilai variabel terikatnya (posttest) untuk melihat ada tidaknya perubahan nilai (kualitas). Masalah pokok dalam melaksanakan eksperimen adalah menjaga kondisi eksperimen sedemikian sehingga tidak ada faktor lain yang sempat menyertai jalannya eksperimen
yang dapat mengacaukan atau mengaburkan pengukuran hasil penelitian (posttest).
Di sisi lain, suatu eksperimen adalah suatu kegiatan empirik yang ciri hakikinya justru terikat pada ruang dan waktu. Selama berada dalam kondisi ruang dan waktu eksperimen, khususnya yang terkait dengan ruang yang luas dan waktu yang lama, kemungkinan bagi proses eksperimen untuk tidak terganggu dari faktor yang tidak diinginkan sungguh merupakan hal yang sulit terjadi kalau tidak dapat dikatakan mustahil. Seni melaksanakan eksperimen terletak pada usaha dan kemampuan peneliti untuk melindungi jalannya eksperimen dari segala gangguan dari luar yang dapat
mempengaruhi hasil eksperimen. Bobot perlindungan eksperimen dari gangguan luar ini disebut keterlindungan atau closure. Kualitas eksperimen, dan pada gilirannya juga keterpakaian atau kegunaan hasil eksperimen, akan sangat ditentukan oleh bobot atau kekokohan keterlindungannya. Dari sini dapat disimpulkan bahwa pengembangan dan perkembangan berbagai ragam rancangan eksperimen pada hakikatnya adalah aktualisasi dari penguatan keterlindungan ragam rancangan eksperimen termaksud.
C. Penerapan Eksperimen dalam Ilmu-ilmu Alam dan Ilmu-ilmu Sosial
Dalam eksperimen pada ilmu-ilmu alam peneliti secara relatif mempunyai kemampuan melindungi variabel (closure) yang tinggi dengan cara membuat lingkungan buatan sehingga menutup kemungkinan pengaruh dari luar. Di sini dikatakan bahwa peneliti memiliki closure yang sempurna. Di sisi lain, karena ilmu-ilmu sosial terkait dengan subjek yang berujud manusia, pengendalian-pengendalian tersebut akan terikat dengan aspek-aspek etis, moral, dan pertimbangan-pertimbangan hukum. Selain itu, peneliti juga tidak dapat mengubah unsur-unsur pribadi subjeknya, misalnya, seks, umur,
status ekonomi, pendidikan, pekerjaan, dan penghasilan. Jadi, tampak bahwa eksperimen memang merupakan metode yang dapat dan tepat serta umum dipakai untuk mengumpulkan data dalam ilmu-ilmu alam, namun, dengan alasan seperti tersebut di atas, jenis eksperimen memang kurang luas dan cukup sulit serta rumit untuk dapat digunakan
dalam ilmu-ilmu sosial. Walaupun demikian, untuk dapat melaksanakan eksperimen, peneliti ilmu-ilmu sosial dapat menggunakan sejumlah kendali yang bercorak simbolik, yaitu tidak dengan mengubah nilai-nilai dari subjeknya, melainkan mempertahankan nilai-nilai itu tetap selama eksperimen dilaksanakan, misalnya, peneliti memang tidak dapat mengubah kelamin subjeknya, tetapi peneliti dapat menganalisis secara terpisah untuk seks yang berbeda.
Dalam sebagian besar eksperimen bidang ilmu-ilmu sosial, khususnya bidang pendidikan, pengendalian penuh kondisi eksperimen umumnya tidak dapat dilaksanakan. Dengan subjek berupa manusia, secara teoritik, akan ada beribu-ribu faktor yang mungkin mengotori suatu eksperimen. Hakikat cara untuk mengurangi pengotoran tersebut adalah membuat eksperimen termaksud sesingkat mungkin (pengendalian aspek waktu) dan dilakukan
dalam ruang (tempat) yang terbatas dan terlindung (laboratorium). Bila penyingkatan waktu dan penggunaan laboratorium ini tidak dimungkinkan, maka peneliti harus puas atau sadar untuk menerima kenyataan bahwa hasil eksperimen yang diukurnya (posttest) pasti telah terkotori oleh faktor-faktor lain yang tidak diperhitungkan dalam eksperimen termaksud. Langkah selanjutnya yang perlu diambil adalah bahwa peneliti harus berusaha mengukur semua pengaruh-pengaruh dari luar tersebut, dan kemudian
mengeluarkannya dari nilai perbedaan antara posttest dan pretest yang didapatnya, sehingga sisa dari pengeluaran itu dapat dianggap (syah) sebagai hasil perlakukan eksperimen yang dimaksudkan. Bagaimana caranya?
Secara umum, cara yang dapat dilakukan untuk menghindari salah ukur dan salah tafsir terhadap hasil eksperimen adalah menggunakan dua kelompok amatan, yaitu kelompok eksperimen dan kelompok pembanding. Terhadap dua kelompok ini harus dapat dikenai dua asumsi pokok, yaitu, pertama bahwa subjek pada kedua kelompok mempunyai karakteristik yang sama. Kedua, baik pretest maupun faktor-faktor lain yang mempengaruhi subjek
pada kedua kelompok mempunyai bobot yang sama pula.
D.Validitas Dalam pada Rancangan Eksperimen
Sekarang telah banyak tersedia rancangan-rancangan eksperimen tertentu yang sengaja dikembangkan untuk meniadakan pengaruh-pengaruh tertentu yang disesuaikan dengan tujuan penelitian eksperimen yang tertentu pula. Rancangan-rancangan khusus tersebut, yaitu rancangan yang mengandung usaha-usaha untuk meyakinkan adanya kebenaran (ketepatan dan kecermatan) hasil eksperimen, adalah hasil aktualisasi usaha untuk
meningkatkan validitas dalam (internal validity) dari rancangan-rancangan eksperimen yang bersangkutan. Untuk rancangan eksperimen yang dapat mengembangkan perlindungan
penuh terhadap jalannya eksperimen atau rancangan eksperimen yang dapat mencapai penjelasan yang cukup akurat terhadap proses pengukuran hasil eksperimennya (melaksanakan berbagai usaha kompensasi terhadap segala atau berbagai pengotoran yang mungkin) atau rancangan eksperimen yang mempunyai validitas dalam yang sempurna disebut rancangan eksperimen murni (True Experimental designs). Untuk rancangan eksperimen yang hanya dapat mengembangkan perlindungan sebagian terhadap jalannya
eksperimen atau rancangan eksperimen yang hanya dapat mencapai sebagian saja penjelasan yang cukup akurat terhadap proses pengukuran hasil eksperimennya atau rancangan eksperimen yang mempunyai validitas dalam yang hanya memadai disebut rancangan eksperimen kuasi (Quasi Experimental Designs). Sedangkan rancangan eksperimen (rancangan yang mengenakan perlakuan terhadap subjek) namun tidak mengembangkan perlindungan terhadap jalannya eksperimen atau rancangan yang tidak
mempunyai validitas dalam yang memadai disebut rancangan pra-eksperimen (Pre-Experimental Designs atau Nondesigns).
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi bobot atau kualitas validitas dalam suatu rancangan eksperimen atau faktor-faktor yang mungkin mengotori jalannya eksperimen berserta kemungkinan kompensasinya adalah sebagai berikut.
1. Pengotoran karena Sejarah (History)
Dalam penelitian istilah "history" dimaksudkan sebagai semua kejadian di luar yang dimaksudkan dari suatu eksperimen yang muncul bersamaan dengan saat dilakukannya suatu eksperimen sehingga sangat mungkin mengukur hasil eksperimen terganggu atau terkotori oleh adanya kejadian tersebut. Untuk menghindari hal ini umumnya digunakan suatu grup pembanding yang dalam segala aspek terkena kejadian luar yang sama dengan kejadian luar yang mengenai kelompok eksperimen. Bedanya hanyalah bahwa kelompok pembanding tidak dikenai perlakuan eksperimen yang hendak diamati. Bila pengukuran nilai yang diamati pada kedua kelompok menunjukkan perbedaan, maka sangat mungkin
perbedaan tersebut adalah akibat perlakuan eksperimen itu sendiri.
2 Pengotoran karena Pemilihan (Selection)
Pada suatu eksperimen mungkin saja kelompok subjek yang dikenai perlakuan kebetulam mempunyai karakteristik tertentu yang justru bersesuaian atau bertentangan secara khusus dengan unsur yang dieksperimenkan. Dengan demikian, hasil eksperimen ini menjadi bersifat khusus sehingga tidak dapat digeneralisasikan seperti yang dirancangkan. Untuk menghindari hal ini subjeknya harus dikenai randomisasi pemilihan baik untuk masuk sebagai anggota dalam kelompok eksperimen maupun untuk kelompok pembanding. Untuk usaha randomisasi ini telah tersedia berbagai cara yang perlu dipilih bersesuaian dengan bentuk dan tujuan rancangan eksperimennya.
3 Pengotoran karena Kematangan (Maturation)
Bias kematangan terkait dengan proses perubahan yang terjadi dengan sendirinya dalam diri subjek yang dikenai perlakuan eksperimen. Khususnya untuk jenis eksperimen yang membutuhkan waktu yang lama, sehingga selain terkena perlakuan, subjek yang bersangkutan dengan sendirinya sudah berubah karakteristiknya. Cara mengatasinya adalah juga dengan menyediakan kelompok pembanding yang mempunyai sifat pertumbuhan kematangan yang sama dengan pertumbuhan kematangan kelompok eksperimen. Atau dapat pula dengan cara, kalau dimungkinkan, menggunakan rentang waktu perlakuan yang sangat
pendek, sehingga pertumbuhan yang ada masih dapat diabaikan pengaruhnya.
4. Pengotoran karena Tes (Testing)
Pengalaman pernah mengikuti tes yang sejenis, misalnya pretes, sangat mungkin memberikan pengaruh pada proses pengerjaan tes berikutnya, misalnya postes, sehingga hasil postes ini tidak murni lagi menggambarkan pengaruh perlakuan yang dieksperimenkan, melainkan tercampur dengan pengaruh pengalaman mengikuti tes sebelumnya. Kompensasinya adalah dengan menyediakan kelompok pembanding tambahan yang juga dikenai perlakuan namun tidak dikenai pretes.
5. Pengotoran karena Instrumen (Instrumentation)
Pengamat, evaluasi atau evaluator, penginterviu (semacam bentuk instrumen) dan bagian-bagian instrumen penelitian yang lain yang disertakan dalam perjalanan waktu eksperimen sangat mungkin berubah kondisi dari waktu ke waktu, misalnya, kelelahan, kejenuhan, keantusiasan, keterpesonaan, keausan dan lain-lain yang akan mempengaruhi objektvitas pengamatan atau penilaiannya. Dengan demikian pengukuran hasil akhir eksperimen dengan sendirinya ternoda atau terkotori. Kompensasi untuk kondisi ini adalah persiapan antisipatif yang matang terhadap kemungkinan itu sendiri.
6 Pengotoran karena Regresi Statistik (Statistical Regression)
Dalam melakukan analisis statistik tertentu, sangat mungkin ada langkah-langkah yang sengaja dilakukan demi penyederhanaan atau kepraktisan pelaksanaan, misalnya penyeleksian subjek dengan intervalisasi atau kategorisasi kelompok sekor tinggi dan rendah dengan sekor tertentu yang kasar atau berbeda tajam. Langkah-langkah ini tentu
saja mengurangi kemurnian pengukuran hasil penelitian, karena akan terjadi kecenderungan pada postes pengisian bagian sekor yang hilang. Yang ekstrem tinggi cenderung direndahkan, sedang yang ekstrem rendah cenderung dinaikkan. Kompensasinya adalah menghindari seleksi dengan sekor ekstrem.
7. Pengotoran karena Subjek Gugur (Experimental Mortality)
Bila yang gugur justru subjek-subjek pokok yang diamati dalam eksperimen jelas hasil akhir eksperimen akan tidak memadai. Kompensasinya adalah menggunakan sampel yang cukup besar dan randomisasi yang cukup sempurna.
8. Pengotoran karena Kestabilan (Stability)
Perubahan-perubahan yang bersifat kebetulan atau sporadik sangat mengganggu kemurnian hasil eksperimen. Hal ini dapat diketahui dengan berbagai cara tes statistik. Untuk kompensasi hal ini belum ada saran
yang dapat diajukan.
9. Pengotoran karena Kombinasi Interaktif (Interactive Combinations of Factors)
Pengotoran ini sangat banyak ragamnya, khususnya eksperimen yang menginklusikan banyak variabel. Kompensasinya adalah dengan pengembangan teoritisasi hubungan antar variabel yang secermat mungkin, termasuk kemungkinan hubungan interaktifnya.
10.Pengotoran karena Harapan (Expectancy)
Karena satu dan lain hal, pelaksana perlakuan eksperimen, secara sadar atau tidak sadar, sangat mungkin mempunyai pengharapan tertentu atas berhasilnya eksperimen. Akibat dari adanya harapan ini sangat mungkin tanpa sadar yang bersangkutan memberikan secara nyata atau tersirat hal-hal atau kunci-kunci keberhasilan eksperimen kepada subjek eksperimen. Dengan demikian pengukuran hasil eksperimen akan
dikotori dengan pengaruh harapan pelaksana eksperimen tersebut. Kompensasinya, antara lain, adalah mengkondisi pelaksana agar tidak tahu atau tidak sadar kalau sedang melakukan eksperimen.
E. Kesimpulan
Eksperimen merupakan metode dengan kendali yang tinggi untuk menunjukkan keberadaan hubungan sebab-akibat (causal relationship) antara satu atau lebih variabel bebas dan satu atau lebih variabel terikat. Pada eksperimen yang ideal peneliti melakukan kendali atau kontrol terhadap lingkungan di tempat eksperimen tersebut dilakukan dan menjaga agar kondisi lingkungan tersebut tetap agar faktor-faktor luar tidak
mempengaruhi jalannya ekpserimen.
Telah tersedia berbagai rancangan eksperimen yang mempunyai sistem kendali yang berbeda-beda terhadap kemungkinan-kemungkinan pengotoran pengukuran hasil eksperimen. Rancangan ini perlu dipilih oleh calon peneliti sesuai dengan tujuan penelitian serta kemampuan umum penanganannya.
Kepustakaan
Tuckman, B.W. (1978). Conducting Educational Research. Second Edition. New
York: Harcourt Brace Jovanovich, publishers.
Bailey, Kenneth D. (1976). Methods of Social Research. London: Collier
Macmillan Publishers.
diambil dari:Lembaga Penelitian Univereitas Negeri Yogyakarta
...




