Minggu, 30 Agustus 2015

MOVE ON, MOVE UP, MOVE AWAY !!


Per tanggal 1 Juni 2015 saya sudah tidak lagi menjabat sebagai Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris. Sehari sebelumnya di saat saya membuka acara Research Exhibition yang diadakan oleh prodi Pendidikan Bahasa Inggris tiba-tiba hp saya berdering, staff rektorat meminta saya menemui bapak rektor saat itu juga.

Sebenarnya beberapa minggu sebelumnya saya sudah mendengar bahwa akan ada formasi jabatan dan salah satu pejabat struktural yang akan diganti adalah saya. Tentu saja hal ini saya sambut dengan senang dan gembira ria karena sudah 11 tahun saya menjabat sebagai kaprodi (periode 2004-2008, periode 2008-2013, periode 2013-2015). Terus terang saya sudah lelah, jenuh dan hal ini berdampak saya menjadi tidak produktif. 

Saat saya masuk ruangan pak rektor beliau menyambut dengan ramah, sebagai awal pembuka beliau menyampaikan terimakasih telah dibantu 'berjuang' di saat kampus sedang bermasalah tahun 2013 lalu. Kemudian beliau menyampaikan, berdasarkan penilaian pimpinan, maka salah satu pejabat yang akan diganti adalah saya, dan rektorat akan memberikan saya jabatan yang lain. Bapak rektor juga menyarankan agar saya segera melanjutkan S3. Dengan senang hati saya terima formasi ini, tetapi saya mohon maaf kepada pak rektor agar saya diijinkan menjadi dosen biasa saja.

Dengan tidak lagi menjabat tentunya berdampak luar biasa bagi saya hehehe...

1. Masalah keuangan, tentunya juga berdampak meski tidak seberapa ya. Saat mendengar ada formasi jabatan saya konsultasikan pada suami bagaimana jika saya langsung menemui pak rektor agar saya juga ikut di formasi. Tetapi suami melarang supaya segalanya berjalan sesuai alur saja... Hehe saya yakinkan pada suami bahwa rejeki itu sudah ada takarannya. Meski tidak melalui tunjangan jabatan pasti akan ada dari sumber yang lain. Dan Alhamdulillah ternyata jika kita meyakini hal tsb maka hal tsb akan terjadi secara nyata. Logikanya saat mahasiswa libur saya tidak akan dapat honor mengajar (hmmm kalau gaji tetap dan tunjangan sertifikasi sih tetap mengalir tapi kan sudah ada post nya sendiri hehe) tetapi entah bagaimana saya dan suami masih bisa survive, ada saja rejeki yang kita dapatkan dan tidak terduga dari mana arahnya.

2. Saya benar-benar merasa bebas merdeka !!!! Kalau saat menjabat saya sering menemukan masalah yang selalu saya katakan : Masalah tidak dicari tetapi datang dengan sendirinya... Tetapi kali ini saya benar benar bisa merasakan menjadi manusia yang bebas lepas tanpa ada beban... Apalagi di saat liburan semester saya lebih banyak tinggal di rumah sambil berkreasi clay...

3. Saya bisa menjadi istri yang baik yang bisa senantiasa melayani kebutuhan suami. Jujur saja saat menjabat saya cenderung pulang sore saat di rumah sudah kelelahan dan suami sering saya belikan masakan siap saji... Hmmm untung suami tidak pernah rewel dalam hal makanan. Tetapi sekarang saya bisa belanja di tukang sayur, menyiram tanaman, memasak (yaa sambil itung-itung menghemat keuangan :) )

4. Nah ini yang saya sukaaaa sekali !! saya bisa mengembangkan hobi saya... Selama menjabat saya hanya bisa mengumpulkan alat dan bahan kreasi clay sambil berangan-angan kapan ya saya bisa secepatnya bisa mengembangkan hobi saya ini... Makanya saat pak rektor akan memberikan jabatan lain saya mohon ijin untuk menjadi dosen biasa saja. Dan saat ini saya bisa membuat aneka kreasi clay kemudian saya tawarkan di berbagai lapak, salah satunya blog http://momo-clay.blogspot.com Dan Alhamdulillah karena saya sudah fokus ke hobi saya ini saya bisa memenangkan juara 3 Art Challenge yang diadakan oleh Komunitas Seni Clay Indonesia bekerjasama dengan Fimo modelling clay Indonesia. Anggota dari komunitas tersebut ribuan, mungkin saya lagi hoki aja ya bisa mendapatkan juara 3 :)




Hadiah dari fimo modelling clay Indonesia berupa clay machine, fimo airbasic, fimo pushmold 2 pcs dan fimo soft 10pcs. Sebenarnya bukan masalah hadiahnya tetapi ada kepuasan tersendiri ketika saya bisa membuktikan bahwa saya mampu berkreasi meski saya masih juga harus mengembangkan keterampilan saya dalam berkreasi...
...

Selengkapnya >>

Rabu, 15 April 2015

I am Addicted to Fimo (^__^)


Akhir akhir ini saya benar benar 'jatuh cinta' sama Fimo Polymer Clay, entah kenapa melihat warna dan cara membuatnya yang mudah saya sudah tidak mau lagi beralih ke clay lain terutama air dry clay yang ribet harus mewarna terlebih dahulu sebelum memakai. Ditambah lagi yang namanya air dry clay pasti mudah kering jika kita tidak pandai menyimpannya dan hasil jadinya akan menyusut... Berkreasi dengan fimo polymer clay sangatlah mudah, jenis clay ini sangat keras sehingga sebelum dikreasikan harus di conditioning (baca : diulet-ulet :d) tetapi dengan keras dan kaku ini justru clay tidak akan penyok saat dibentuk. Fimo clay juga dapat ditipiskan untuk bunga, alis boneka dll.




Inilah bunga mawar diameter sekitar 1cm hasil bikinan saya selama beberapa hari. Tentu saja saya tidak dapat membuat dengan cepat karena saya buat malam hari setelah beraktifitas di kampus. Clay imut ini harus dipanggang selama 5 menit dengan panas 100 derajat. Setelah itu baru dapat dirangkai diatas plat bros, pin dll kemudian di oven lagi selama 10 menit 100 derajat.



Namanya saja sudah kecanduan fimo jadi tidak sayang untuk mengeluarkan duit buat beli aneka produk fimo :d Rasanya tas, sepatu, baju branded sudah lewat dah kalah sama fimo.. Setiap hari oprek oprek fimo meski tetap sadar bahwa terakhir unggah proposal penelitian dan pengabdian masyrakat dikti tanggal 30 april hihihi... 

 Bagi anda yang mau memesan fimo polymer clay dapat menghubungi saya no HP/WA : 08113632078 Akan ada harga spesial jika anda membeli semakin banyak... Ok, next akan saya jelaskan jenis fimo polymer clay dan cara penggunaannya.. -to be continued-
...

Selengkapnya >>

ENGLISH DAY

"English day" is the activity for the students of English Education study program. It is conducted only every wednesday to encourage my students activity in speaking English. The students must speak English start at 8 am until 4 pm. There are four spies that I spread along B and C corridor. The students must wear the pin "Let's speak English with me". And at the last semester I will announce for the winners, it means the students who are very active and have commitment to speak English all day long. So far I just want my students become active, so let's forget about the grammar and pronunciation :). This program seems good enough to motivate the students. I do hope this "English day" will be everlasting even I am not the head of English edcation study program anymore... ...

Selengkapnya >>

Rabu, 01 April 2015

GENERAL LECTURE


Untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam penerapan teknologi pembelajaran bahasa Inggris, maka program studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Kanjuruhan melaksanakan kuliah umum dengan pemateri Mark Klinski dari Polandia. Kuliah umum ini dilaksanakan tanggal 31 Maret 2015 di aula sarwarkiti dan diikuti oleh seluruh mahasiswa program studi pendidikan bahasa Inggris.


Sarapan bersama sesaat setelah Mr Mark dijemput dari IRO Universitas Muhammadiyah Malang


Disambut oleh tarian khas Malang saat memasuki aula sarwakirti


Para mahasiswa terlihat sangat antusias





Bapak ibu dosen dan MC


Sambutan dari ketua program studi


Sambutan dari wakil dekan 1 mewakili fakultas


Baca doa dulu sebelum dimulai



Kuliah umum bersama dosen yang cukup interaktif dengan para mahasiswa


Hiburan lagu dari mahasiswa..



Pemberian vandel dan sertifikat


Foto bersama bapak dan ibu dosen program studi pendidikan bahasa Inggris


Makan siang bersama


Dimuat di koran pendidikan ...

Selengkapnya >>

Jumat, 23 Januari 2015

HAPPY 10th (TIN) WEDDING ANNIVERSARY

Temukanlah seorang pria yang menggenggam erat tanganmu di depan teman-temannya... Yang mengenalkanmu kepada orang tuanya.... Yang bisa berkomitmen, tidak mengulangi kesalahan dan tidak mengingkari janjinya... yang mengerti, memeluk dan mengusap air matamu ketika kamu terpuruk.... Yang memujimu, bukan berkata kotor... Yang bisa melindungimu ketika semua orang menghinamu... Yang bisa membagi waktunya untuk bersamamu... Maka dialah orangnya... ...

Selengkapnya >>

Minggu, 21 September 2014

ENCOURAGEMENT (Prof. Rheynald Kasali, Ph.D)

LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat,bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa. Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali,sampai dia menyerah.Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi nilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri. Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?” “Dari Indonesia,” jawab saya.Dia pun tersenyum.

 Budaya Menghukum 

 Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat. “Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anakanaknya dididik di sini,”lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai.Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement!” Dia pun melanjutkan argumentasinya. “Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbedabeda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya. Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor. Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah. Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafikgrafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti. Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan. Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian. Ketika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakanakan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi. Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan. Ada semacam balas dendam dan kecurigaan. Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak. Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan. Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal. Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.” Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif. Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda. 

Melahirkan Kehebatan 

 Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan seterusnya. Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas...; Kalau,...; Nanti,...; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah. Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh. Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh. Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh. Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti. ...

Selengkapnya >>

Selasa, 15 Juli 2014

SEMINAR DAN WORKSHOP KURIKULUM 2013

Waduh lama banget ya, saya tidak mem posting kegiatan saya di blog. Hal ini dikarenakan wifi dikampus yang sedikit aneh dimana tampilan blog saya tidak muncul link untuk sign in. Alhamdulillah sekarang sudah bisa berselancar dengan cepat di rumah (^__^). Inilah kegiatan seminar dan workshop kurikulum 2013 yang dilaksanakan pada 10 Juni 2014 oleh prodi pendidikan Bahasa Inggris. Pada acara seminar dan workshop ini prodi mengundang Prof. Yazid Basthomi, MA guru besar dari Universitas Negeri Malang sebagai pemateri.
Acara ini dihadiri oleh dekan FKIP, bapak FI Soekarman, M.Pd, seluruh dosen tetap, alumni, pengguna lulusan, dan mahasiswa.
Prof Yazid dengan merendah mengatakan bahwa beliau belum bisa dikatakan expert dalam menyusun kurikulum 2013, bahkan beliau bertanya pada peserta siapa yang sudah pernah mengikuti seminar dan workshop KKNI sebelumnya? Dengan tidak kalah merendah, seluruh stake holder tidak ada yang menjawab walaupun kami sudah berkali-kali mengikuti seminar dan workshop KKNI :)
Seluruh stake holder sangat antusias mengikuti seminar dan workshop.
Pemberian cenderamata oleh kaprodi
Saking antusiasnya, meskipun acara sudah selesai tetapi pembahasan KKNI masih tetap berlanjut.
Foto bersama bapak dan ibu dosen prodi Pendidikan Bahasa Inggris
...

Selengkapnya >>