Selasa, 16 Oktober 2012

KETIKA CINTA HARUS USAI



Aku memandang lekat tubuh yang tengah tergolek tidur di sampingku. Tegap dan tampan, tak bercacat. Tubuh yang sangat kukenal, yang telah berada disisiku selama 10 tahun terakhir hidupku. Tubuh seorang yang sangat kucintai, yang menjadi ayah dari anak-anakku.


 Benakku menembus waktu, mengingat masa ketika kuliah dulu. Siapa yang tak pernah mendengar nama Yudhis. Mahasiswa kedokteran dari universitas negeri, ketua senat, aktivis Rohis, kader Lembaga Dakwah Kampus, dan seabrek jabatan lainnya. Siapa pula yang tak kenal dengannya di kampus. Yudhis sering muncul di depan publik. Kepandaiannya berorasi mengagumkan. Menggugah semangat dan memukau yang mendengarnya. Aku merasa amat mengenal Yudhis. 


Kami satu angkatan dan sering bekerja sama dalam banyak kegiatan dan kepanitiaan. Beberapa kali Yudhis menjadi ketua dan aku sebagai sekretaris. Sudah menjadi rahasia umum kalau Yudhis banyak penggemarnya. Fans-nya berasal dari beragam kalangan. Dari cewek gaul sampai aktivis, satu angakatn, hingga adik kelas, sefakultas maupun tidak. Yudhis punya kharisma yang luar biasa. Tutur katanya lembut dan sopan, wajahnya putih bersinar. Nilai plus yang lain adalah IP-nya tetap tingi walau aktivitasnya bejibun.  Menjalani banyak kegiatan bersama dan interaksi berfrekuensi tinggi diantara kami berdua, diam-diam menjadikan aku sebagai salah satu yang berada diantara jajaran para penggemar gelapnya. Simpati yang mulai berkembang dari benih itu kukubur ke sedalam-dalamnya hatiku. Biar ia terpendam di sana dan tak ada yang tahu. Aku dan Yudhis, kami sama-sama tahu, tak ada kata pacaran dalam kosa kata kami. Apalagi kami berada dalam satu wadah pembinaan. Sekecil apa pun "rasa" yang sempat menyeruak, sesegera mungkin aku enyahkan. Kadangkala sulit bagiku untuk mengendalikan gejolak hati. 

Berada pada masa usia yang telah cukup untuk mengenal kata "cinta". Berada pada masa di mana di dunia yang sama masyarakat telah mafhum dengan hubungan cinta di kalangan mahasiswa. Tidak pernah terlintas sedikitpun aku akan pacaran. Sejak kecil ayah telah menanamkan pendidikan yang keras dan benar. Memproteksi anak-anak perempuannya dari segala kemungkinan fitnah. Tapi hati ini. Uhh, tak mungkin aku membohongi diri sendiri bahwa aku menyukai Yudhis. Yudhis perhatian padaku? Ah,masa iya? Kutepuk pipiku untuk menyadarkan diri dari keterlenaan sesaat. Ya, Yudhis memang perhatian padaku, tapi juga perhatian ke yang lainnya. 

Seorang pemimpin dituntut untuk perhatian kepada anak buahnya. Tidak aneh kalau dia sering menghubungiku untuk membicarakan berbagai masalah dalam kegiatan kami. Aku berada di balik lemari sekretariat, sibuk membereskan file-file Forum Studi. Kala itu sekretariat sepi, hanya ada aku seorang. Tiba-tiba terdengar percakapan dari balik lemari. Aku tak bisa melihat siapa mereka. Mereka pun tak menyadari ada sepasang telinga yang berada di balik lemari. "Nur, kamu tahu nggak? Kak Yudhis perhatian banget ke aku. Aku nggak terlihat di rapat sekali saja, dia langsung menelepon aku!" seru suara pertama. "Wah, kamu beruntung banget Mel. Kak Yudhis kan cakep, pinter, kaya lagi. Lumayanlah, biar Kijang tapi keluaran terbaru loh." Suara ke dua menimpali. "Bagiku dia perfect banget. Kamu lihat sendiri kan tadi bagaimana dia memandangku. Terus senyumnya. Manis banget bo!" "Memang kalau aku perhatiin, Kak Yudhis ada feeling sama kamu. Tapi saingannya banyak Mel. Tau kan siapa aja yang naksir dia. Putri, Heni, Sinta. Belum lagi kakakkakak angkatan." "Masa bodoh sama mereka. Yang penting Kak Yudhis suka sama aku." Terselip nada GR dari suaranya. Bukannya aku bermaksud menguping, tapi dialog itu tersimak dengan sendirinya. Dari suaranya aku bisa mengenali mereka.  Adik tingkat, 3 angkatan di bawahku. Rasanya tak salah juga kalau ia merasa GR. Kadang Yudhis memang terlalu tebar pesona.

Berulang kali kudengar para ikhwan menasehatinya tentang masalah ini. Akhirnya Yudhis menyadari bahwa kharismanya telah menyebabkan banyak hati yang jatuh bergelimpangan. Dan ia mulai membangun jarak. Kini tubuh laki-laki yang berstatus suamiku itu bergerak. Menggeliat perlahan. Lalu tetap mendengkur halus. Kupandangi wajahnya. Hidung mancungnya menurun kepada kedua buah cinta kami, Ghazali dan Sabila. Kata banyak orang, Ghazali adalah fotocopy-an dari ayahnya. Aku perhatikan bibir suamiku yang berwarna merah. Agak tak lazim memang seorang laki-laki berbibir merah. Masih kuingat saat bibir itu mengucap janji setia. Mitsaqan ghalizha, sebuah perjanjian yang amat tegung dalam pandangan Allah. Betapa mantap ia berucap dalam ijab kabul kami. Mengingatnya menyeruakkan rasa haru. Membuat tetes kecil bergulir di kedua pipiku.

 ***** 

Sore itu aku dan ayah ibuku sedang mengobrol di teras belakang sambil menyamil kue buatan ibu. "Nduk, sekarang apa rencanamu selanjutnya?" Ayah tetap saja memanggilku dengan 'Nduk', panggilan terhadap anak perempuan dalam bahasa Jawa. "PTTmu sudah selesai. Kamu mau pilih kuliah lagi ambil spesialis atau mau nikah?" Dahiku mengernyit. Nikah? "Nikah Yah? Mau nikah sama siapa? Nggak ada calon nih!" "Masih ingat Bram, putranya Om dan Tante Rono? Dulu waktu kecil sering main sama kamu." Keluarga Ronodipuro, masih priyayi dan punya bisnis besar. Keluarga mereka memang bersahabat dengan keluargaku. Kuingat pula Bram kecil yang sering merebut dan merusakkan mainanku.

Aku menganguk-angguk tanda ingat. "Sekarang Bram sudah jadi Branch Manager di perusahaan papanya. Dia juga punya bisnis otomotif. Bengkel dan tempat modifikasi. Ayah kemarin ke sana. Lumayan besar, pelanggannya juga banyak sepertinya." "Tante Rono sering ngobrol-ngobrol sama ibu. Dia ingin mencarikan istri untuk Bram. Katanya sudah cari kemana-mana nggak ada yang cocok. Eh setelah ketemu kamu beberapa kali dan ngobrol sama kamu seperti kemarin itu, dia bilang pilihannya jatuh ke kamu Nduk." Ibu menjelaskan sambil menuangkan the dari teko ke dalam cangkir ayah yang sudah kosong. "Tante Rono itu seneng lho sama kamu. Katanya kamu cocok jadi istri Bram." 

 "Oooo.begitu," ujarku. "Bagaimana Nduk?" tanya ayah. "Bagaimana apanya Yah?" tanyaku kembali. "Kamu mau nggak?" "Ihhhh Ayah. Nggak bisa dijawab sekarang dong! Harus dipikir-pikir, harus istikharah. Paling tidak ketemu dulu. Belum tentu Bram juga langsung mau kan Yah." Akhirnya tibalah saat pertemuan itu. Om Rono, Tante Rono, dan Bram datang ke rumah kami tepat pukul tujuh malam. Setelah sedikit basa-basi di ruang tamu, kami lalu berbincang di meja makan, berusaha mengakrabkan antara kedua keluarga. Bram kini tidak terlalu banyak berbeda dengan Bram kecil. Ketampanan yang telah terlihat di masa kecil kini makin menunjukkan kesempurnaannya. Penampilannya perlente dengan pakaian dari merek terkenal. Tercium pula aroma wangi yang berasal dari tubuhnya. Alamak, gumamku dalam hati, aku saja tak pernah berparfum, kecuali jika mau sholat. Selama perbincangan itu aku sudah merasa tidak sreg. 

Entah kenapa. Kalau bicara masalah fisik, Bram memang bak pemain sinetron. Tapi namanya tidak sreg, ya tidak sreg. Hal begini kan tidak bisa dipaksa-paksa. Ditengah-tengah asyiknya mengobrol, tiba-tiba Om Rono bicara dengan nada keras, "Bram memang harus punya istri seperti Arni. Supaya dia bisa belajar banyak tentang agama dan tidak lagi keluyuran ke café sampai pagi." Semuanya langsung terdiam. Tante Rono dan Bram memperlihatkan mimik wajah gusar mendengar kata-kata Om Rono. Aku, ayah, dan ibu juga kaget. Ibu berusaha mencairkan suasana yang jadi sedikit dingin dengan menawarkan sup asparagus kepada kami semua. Oopss, rupanya Bram ini anak café. 

Nggak heran juga, terlihat dari gayanya. Sepulangnya mereka dari rumah kami, ayah mengatakan akan mencari informasi lebih jauh tentang Bram. Bagaimana kehidupan dan pergaulannya. Om dan Tante Rono cukup sholeh. Tapi jaman sekarang orang tua tidak bisa dijadikan standar bagi kesholehan seorang anak. Anak kyai belum tentu jadi kyai. Anak perampok belum tentu perampok juga. Aku pasrah, memohon kepada Allah diberi jodoh yang terbaik bagiku. Aku percaya karena Dia telah berjanji dalam firmannya Surah An-Nuur 26, "Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji. 

Dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik pula." Kalau Bram bukan jodohku, pasti Allah akan tunjukkan jalannya, dan begitu pula jika sebaliknya. Kabar itu justru datang dari Tante Rono sendiri. Bukan dari siapa-siapa yang menyebarkan gossip. Bukan pula dari Toni, sepupuku yang diberi tugas ayah untuk mencari tahu tentang Bram. Tante Rono berkunjung ke rumah sambil bercucuran air mata lalu mencurahkan isi hatinya pada ibu. "Jeng, hancur sudah hati saya. Mau ditaruh dimana wajah dan kehormatan keluarga Ronodipuro." Isak Tante Rono sesenggukan. "Memang Bram anaknya susah diatur. Tapi saya tak menyangka semuanya jadi begini. Rasanya kami sudah berusaha mendidiknya dengan benar." Ibu menenangkan sambil mengusap-usap pundak Tante Rono. "Tenanglah Mbakyu. Yang sabar. Memang ada apa tho?!" Sekonyong-konyong tangisnya malah jadi tak terbendung. Aku bangkit menyodorkan tissue kepada Tante Rono. "Bram itu Jeng..dia.dia.dia.menghamili sekretarisnya!" Seusai keterbata-bataannya, Tante Rono melanjutkan tangisnya.  "Perempuan itu menuntut untuk dinikahi. Kami tak bisa menolak." "Astaghfirullahaladzhim!!" ujarku dan ibu bersamaan.

Benarlah ini jawaban dari Allah. Bram bukan jodohku. Aku menatap trenyuh kepada Tante Rono. Kasihan, pasti berat sekali bebannya menerima kenyataan darah dagingnya menghamili anak orang di luar nikah. Semoga Bram benar-benar bertobat dan mau memperbaiki dirinya. "Saya nggak enak sama Jeng, sama Arni," kata Tante Rono setelah tangisnya mereda. "Padahal rencana sudah mau lamaran. Tadinya saya berharap sekali kita bisa besanan. Arni pasti bisa membimbing Bram untuk menjadi lebih baik." "Sudahlah Mbakyu. Kita tidak apa-apa kok. Keluarga kami tetap akan menjadi sahabat keluarga Mbakyu. Semoga jodoh Bram inilah yang terbaik. Mbakyu yang tabah ya!" Batalnya perjodohan antara aku dan Bram tidak memberikan dampak apapun pada kehidupanku. Aku tetap memohon jodoh kepada Rabb-ku Yang Maha Mendengar. Tak sampai sebulan kemudian, dengan tak disangka-sanga, datanglah serombongan keluarga ke rumahku. Mereka hanya punya satu tujuan, melamarku.

KETIKA CINTA HARUS USAI 2
 

Suatu siang di hari Ahad, 10 tahun yang lalu, serombongan keluarga datang. Aku, ayah dan ibu kaget bukan kepalang. Kami tidak mengira akan ada yang datang membawa sepasukan orang dengan berderet mobil yang tiba-tiba sudah rapi parkir di depan rumah. Dua hari sebelumnya Yudhis memang meneleponku. Katanya ia akan ke rumahku Ahad ini. Tapi, siapa yang mengira seperti ini. Kupikir ia sekedar silaturahmi atau ada kepentingan tertentu. Dengan sedikit basa-basi, orang tua Yudhis menyampaikan maksud kedatangan mereka untuk melamarku. 

Ditodong begini aku tak sanggup berkutik. Bunga-bunga di taman hatiku pun semerbak, setelah sekian lama dipendam kini bermekaran. Ayah, ibu dan keluarga semua menyukai Yudhis. Tentu saja! Apa lagi yang kurang dari seorang Yudhis? Tampan, pandai, kaya, dan sholeh. Ayah Yudhis juga pengusaha sukses, walau kalibernya sedikit di bawah Om Rono. Yudhis adalah sosok sempurna yang berwujud nyata. Membuat bangga bagi yang menggandengnya. Menyenangkan diajak ngobrol. Tidak memalukan bagi orangtua yang menjadikannya menantu. Dan pasti akan jadi suami yang bisa membimbingku, bisa mengerti aku, dan menjadi pemimpin dalam rumah tangga. Siapalah yang sanggup menolak Yudhis? 

Terlihat orangtuaku langsung jatuh hati pada Yudhis. Tapi ayah tetap menyerahkan keputusan padaku, karena akulah yang akan menjalani pernikahan. Aku diam ketika ditanya. "Arni diam saja, berarti iya. Begitu kan Pak Margono?" ujar ayah Yudhis. Ayah mengangguk-angguk saja. "Maaf," aku berpaling ke arah Yudhis, "belum bisa langsung menjawab ya atau tidak. Beri aku kesempatan untuk mempertimbangkan dan sholat istikharah." "Oh monggo, silahkan saja. Kalau Arni butuh waktu, sampaikan saja kira-kira berapa lama akan mempertimbangkan lamaran ini dan kapan akan memberikan jawaban. Tapi jangan lama-lama. Kasian Yudhis lho...!" ayah Yudhis menjawab sambil berseloroh. 

Aku diam saja, bingung mau menjawab apa. Aku sendiri tidak tahu berapa lama yang kubutuhkan untuk mengambil keputusan terpenting dalam hidupku ini. "Begini saja Mas, kita sama-sama berdoa saja semoga semua dimudahkan oleh Allah SWT. Nanti kalau Arni sudah bisa memutuskan, saya yang akan menghubungi Mas Permadi. Bagaimana Mas?" kata ayah. Ayah Yudhis melirik ke arah Yudhis. Yudhis mengangguk pelan. "Baiklah Pak Margono, kalau memang begitu. Yah, memang sebaiknya hal-hal seperti pernikahan ini tidak terburu-buru menjawabnya. 

Kami memang tidak mengharapkan ada jawaban saat ini juga. Paling tidak kita sudah silaturahmi, nambah saudara. Kami juga ingin mengenal Arni lebih dekat, juga Bapak dan Ibu sekeluarga. Karena, terus terang kami juga kaget. Yudhis ini nggak ada angin nggak ada hujan, tahu-tahu minta saya dan mamanya untuk melamar. Padahal saya nggak pernah lihat Yudhis itu pacaran. Lha ini anak mau nikah sama siapa tho? Paling tidak kan calonnya mesti dikenalkan dulu, diajak main ke rumah. Bergaul sama keluarga besar. Dilihat bibit, bebet, bobot. Dan itu kan nggak langsung ujug-ujug begini, pakai waktu. Tapi Yudhis ngotot, katanya sistemnya bukan begitu, nggak ada pacaran-pacaran. 

Ya sudah akhirnya kami berembug dengan keluarga untuk datang hari ini. Kami ini hanya mendapatkan sedikit gambaran tentang Arni dan keluarga dari Yudhis. Jadi kami senang sekali bisa berkenalan dengan Bapak sekeluaga. Kami minta maaf kalau kedatangan kami merepotkan." "Wah nggak kok Mas, sama sekali tidak merepotkan. Lha malah seneng kok dikunjungi sekeluarga besar begini." Ayah tersenyum menanggapi penuturan ayah Yudhis yang panjang dan lebar. "Kami harap Yudhis bersedia menunggu jawaban dari Arni. Dan kami mohon apapun jawabannya nanti tidak membuat rasa tidak enak diantara kita semua. Mudah-mudahan masih bisa terus bersilaturahmi ya Mas...!" Malamnya kuceritakan kedatangan Yudhis sekeluarga kepada sahabatku yang juga satu kuliah dengan aku dan Yudhis dulu.

Menurutnya, dari informasi yang bisa dipercaya, Yudhis memang sudah menyukaiku sejak kuliah. Oh, itukah sebabnya ia selalu memilihku menjadi sekretaris? Katanya, ketika kabar aku akan dilamar oleh Bram sampai ke telinganya, Yudhis kalang kabut. Dan akhirnya tanpa ba bi bu ia langsung datang melamar. Akhirnya, Yudhis berhasil membawaku ke pelaminan. Betapa bangganya aku bersanding dengannya. Sang aktivis yang didamba banyak gadis. Dan kenyataannya akulah yang mendapatkannya, setelah menyingkirkan banyak saingan di hati Yudhis. Kudapati tatapan mata cemburu dan iri dari beberapa teman dan adik kelas yang kutahu pernah menyukai Yudhis, saat mereka datang ke resepsi pernikahan kami. 

Hari-hari kami selanjutnya tentulah sangat indah. Bak lapis legit yang manisnya selalu ada di setiap gigitan. Tak ada duka. Tak ada lagi gelisah, gundah. Semua yang ada hanyalah bahagia dan bahagia. Lalu cinta kami berbuah. Lahir Ghazali, lalu Sabila. Semuanya menambah manisnya cinta kami. Di awal pernikahan kami, aku dan Yudhis tetap aktif di dalam kegiatan dakwah dan sosial. Hampir setiap malam kami habiskan dengan tahajud berjamaah.

 ***** 

Kini air mataku mengalir di kedua pipiku. Aku terisak tak bersuara. Memandangi wajah tampan yang tetap terlelap tenang. Ramadhan yang lalu, tidak lagi kami lewati dengan penuh syahdu. Tak ada tarawih bersama. Tak ada tilawah bersama anak-anak. Jika dihitung, Yudhis hanya sempat 3 kali berbuka puasa di rumah. Sisa yang 27 hari entah berbuka puasa di mana. Ia selalu pulang malam, bahkan Subuh sekalian, setelah orang-orang selesai bersahur. Beberapa tahun yang lalu, Yudhis sibuk, aku pun sibuk. Sebagai dokter spesialis jantung, Yudhis tergolong dokter muda yang cukup laris. Aku sibuk mengurus anak, rumah, dan praktek di puskesmas. Kesibukan kami membuat tak lagi aktif dan terikat dengan kegiatan dakwah yang sebelumnya kami geluti. 

Tali temali yang selama ini membentengi, satu persatu mulai putus. Di awal karirnya, Yudhis sering bercerita ia beberapa kali terlewat waktu sholat kalau sedang ada operasi yang memakan waktu berjam-jam, dari satu waktu sholat ke waktu sholat yang lain. Aku selalu mengingatkan agar ia selalu sholat tepat waktu. "Kalau lagi operasi mana bisa ditinggal," kata Yudhis saat aku menegurnya. "Masa untuk sholat nggak bisa ditinggal sebentar saja?" kataku. "Kamu kayak nggak ngerti saja. Kalau ditinggal bisa-bisa pasiennya meninggal. Nanti keluarga pasien menuntut dan menuduh malpraktek. Yah, ini kan darurat, nggak apa-apa kan?" kata Yudhis enteng. Awalnya ia menganggap darurat, tapi kali kesekian saat tidak ada darurat, ia semakin menganggapnya enteng. Aku heran dengan sikapnya yang sangat mudah menggampangkan sholat. 

Entah kapan dan bagaimana mulainya, Yudhis mulai sering pulang malam di luar jadwal rumah sakit. Namun, aku percaya penuh padanya. Dan sebagai istri yang baik aku berusaha untuk tak banyak bertanya yang macam-macam. Yudhis mulai mempunyai komunitas tersendiri dalam lingkungannya. Komunitas yang sangat berbeda dengan komunitas kami semasa kuliah dulu. Ibadah kami sangat garing. Yudhis malas mengimamiku. Kalau ia capek, aku disuruh sholat sendirian. Apalagi Qiyamullail, sudah lama sekali kami tinggalkan. Capek! Begitu selalu alasannya. Hubungan di tempat tidur juga terkena imbasnya. Segala-galanya jadi kering, tanpa ruh. Menjalaninya bagai rutinitas dan kewajiban semata. Buah cinta kami mulai besar dan mulai nakal. Aku sering kewalahan menghadapinya sendirian. Kalau aku bicara pada Yudhis, jawabnya, "Lho itu tanggung jawabmu sebagai ibu. Kamu bisa mendidik anak nggak sih? Tugasku itu cari uang!" Ia pasti lupa isi khutbah nikah di pernikahan kami dulu. "Mendidik anak adalah tugas kedua orang tua, baik ibu maupun bapak. Ayah yang menjadi imam harus bisa menjadi nahkoda yang baik bagi biduk rumah tangganya. Dasar-dasar pendidikan itu harus berdasarkan arahan sang ayah." Kadangkala aku bisa sabar menghadapi Yudhis, tapi kadang pula kami bertengkar hebat. Yudhis semakin sering pulang diatas jam 1 pagi. Kalau kutelepon ke rumas sakit, dijawab kalau Yudhis sudah pulang dan tidak ada jadwal yang mengharuskannya pulang pagi.

Walau begitu aku tetap berkata pada diriku sendiri, everything runs smooth, everything is ok. Jam berapa pun ia pulang, aku tetap berusaha melayaninya. Mulai dari membuatkannya teh, kopi atau susu panas. Atau menyiapkan air panas kalau ia ingin mandi. Secapek apapun aku, kuusahakan sekuat tenaga untuk menyambut kedatangannya dengan senyum. Yudhislah yang biasa pulang dengan wajah kusut masai dan mata merah. Tanpa senyum. Hanya perintah yang keluar dari bibir merahnya. Kadang-kadang ia bersikap manis. Tapi itu hanya jika ia ingin melampiaskan hasratnya padaku. Aku bukanlah seorang istri yang mau dilaknat oleh malaikat hingga pagi. Tugas seorang istri berusaha kutunaikan dengan baik. Malam-malam panjang, ketika menanti Yudhis pulang, sering kuisi dengan sholat tahajud. Aku memohon agak Allah membuka kembali hati Yudhis dan memberikan takdir yang baik bagi kami sekeluarga. "Arni, aku ada berita nih! Tapi kamu jangan kaget ya. Kamu percaya kan sama aku? Ini tentang Yudhis," suara Toni, sepupuku, terdengar di HPku. Aku mengangguk walau tahu ia tak akan melihat anggukanku. 

 "Aku beberapa kali ini melihat suamimu. Pertama kali aku lihat dia lagi makan siang sama perempuan yang rambutnya dicat kemerahan di Chopstix Pondok Indah Mall. Nggak jauh kan dari tempat suamimu praktek."   Toni melanjutkan, "Bukan cuma itu, aku pernah nguntit suamimu itu ke beberapa tempat. Afterhour, D'S Place, Barbados." "Oh ya?" kataku datar. "Kamu kok nggak kaget?" tanya Toni. "Kaget? Memang kenapa?" tanyaku bingung. "Arni! Itu tuh tempat dugem, tau nggak?" jawab Toni. "Du...gem?" "Itu lho dunia gemerlap. Afterhour itu bar dan tempat billiard. Yang dua lagi yah semacam itu, sama saja. Aku lihat Yudhis sama cewek dengan mata kepala sendiri. Percaya deh, dia minum minuman, turun ke floor, peluk-pelukan sama cewek sok bule itu." Nada suara Toni berapi-api penuh emosi. Aku tak percaya, gumam bathinku. Tapi tak urung, tangan ini gemetar memegang HP. "Kamu salah orang mungkin Ton. Orang yang mirip Yudhis." "Salah orang bagaimana. Jelas banget gitu kok! Aku ngeliat dia sekitar jam 1 malem lewat. Dia sering nggak ada di rumah nggak kalau jam-jam segitu?" Aku tersentak. Ya, Yudhis memang sering pulang pagi, dan ia nyata-nyata tidak sedang tugas di rumah sakit. Tapi...main billiard, minum, berpelukan dengan perempuan...? Rasanya sulit hati ini mempercayainya.

Hari ini, baru saja, semua pertanyaan yang bergumul di hatiku dan segala hal yeng menjadi rahasia selama ini terkuak lebar. Yudhis berkata jujur padaku bahwa ia mencintai perempuan lain, ingin bercerai dariku dan akan menikahi perempuan itu. DUARRRRRRR!!!!!! Bagai disambar geledek rasanya jantungku. Aku limbung. "Baru kali ini aku benar-benar merasakan jatuh cinta. Maaf, sejak dulu aku tak pernah merasa mencintai kamu Arni. Aku mau ceraikan kamu!" Bibir itu berkata dingin, seolah tak sedang berbicara dengan istri yang telah mendampinginya sepuluh tahun ini.

Bagaimana mungkin ia mengaku tak mencintaiku. Semuanya begitu manis. Aku tak percaya ia berkata begitu. "Yudhis, sadarkah apa yang baru saja kamu katakan? Kamu baru saja menjatuhkan talak!" "Memang begitulah mauku. Akhir-akhir ini aku merasa begitu hidup. Bergairah dan penuh cinta. Aku merasa bahagia dengan Meta. Kita urus perceraian secepatnya. Besok kita ke Pengadilan Agama." Kata-katanya dingin menusuk. "Sore nanti aku akan pindah. Sekarang aku mau numpang tidur sebentar. Di sofa di luar sini juga nggak apa-apa. Aku capek!" "Mas, apa benar kamu sering ke tempat-tempat dugem?" aku memberanikan diri bertanya. "Hahhhh?! Dari mana kamu tahu?" teriak Yudhis. "Toni. Dia bilang beberapa kali lihat kamu. Sedang bersama perempuan dan minumminum." "Hmmm, jadi selama ini kamu kirim sepupumu itu jadi mata-mata heh?! Betul. Si Toni nggak salah lihat. Ohhh...pantas saja aku merasa pernah lihat dia."

 "Ngapain sih Mas kamu ke tempat-tempat seperti itu?" aku bertanya sambil menahan tangisku yang hampir saja meledak. "Ah kamu tahu apa tentang tempat seperti itu. Aku merasa senang di sana. Dan apa pula urusanmu. Kita sudah cerai, kamu nggak berhak turut campur lagi. Ini hidupku tahu?!" "Masya Allah Mas, istighfar Mas, istighfar...kamu lagi lupa diri Mas! Cepatlah bertobat" "Hhhahhhhhhh...SUDAH DIAM!!!!" bentak Yudhis kasar sambil menghempaskan tubuhnya di sofa empuk yang terletak di ruang tamu. Tak berapa lama kemudian dengkur halusnya terdengar. Begitu Yudhis terpejam tangisku tumpah ruah. Tak pernah terbayangkan sebelumnya Yudhis akan jadi seperti ini. Sang manusia sempurna bagi sebagian orang yang mengenalnya. 

Yudhis, yang semasa muda tak pernah mengenal tempat-tempat seperti itu. Yudhis, yang dulunya selalu membasahi bibirnya dengan berzikir Yudhis, yang selalu menjaga wudhu, tak mau bersentuhan dengan wanita selain mahramnya. Yudhis, yang dulu lingkungannya selalu orang-orang yang baik. Tapi sekarang??? Ketika lingkungan berubah, ia pun berubah. Menjadi manusia yang 180 derajat berpindah ke sisi lain dunia. Siapa yang akan mengira. Aku menangis, membenamkan wajahku ke bantal. Ghazali memelukku dari belakang. "Mama, kenapa nangis?" "Nggak kok sayang. Nggak papa," aku mengusap air mata yang berurai. Ya Allah, lalu bagaimana nasib Ghazali dan Sabila tanpa ayahnya. Aku tak sangup lagi berpikir. Di atas sajadah, aku mengadu kepada Rabbku yang Maha Mendengar hambanya yang tengah kesusahan. Aku pun sadar tidak seluruhnya adalah kesalahan Yudhis, pasti aku ada mempunyai andil. 

Aku terlalu mencintainya, memujanya. Bahkan cintaku padanya mungkin melebihi cintaku pada Allah. Mungkin ini teguran Allah bagiku, yang sering lupa padaNya. Yang menjadikan kecintaanku pada mahluk melebihi segala-galanya. Satu episode hidupku telah berusaha kulalui dengan tetap berada di jalanNya. Dahulu, aku memutuskan menikah dengan Yudhis berdasarkan istikharah. Pada waktu itu aku ridho dengan agamanya. Sebagaimana pesan Baginda Rasulullah SAW agar tidak menolak pinangan laki-laki yang agamanya baik. Jika tidak maka akan terjadi fitnah di muka bumi. Dengan berbagai pertimbangan itu aku menerima lamaran Yudhis. 

Jadi salahkah aku kalau semuanya berakhir seperti ini? Tiada kesempurnaan bagi seorang manusia. Allahlah yang Maha Membolak-balik hati manusia. Salahkulah yang mengharapkan kesempurnaan dari Yudhis, yang menganggap ia adalah segala-galanya tak bercacat. Padahal setiap orang tak pernah tahu bagaimana akhir hidupnya. Aku masih hidup dan bernafas. Ini bukan akhir hidupku. Aku yakin Allah pasti punya rencana yang lebih baik di balik semua ujian yang diberikannya. Kekalutan dan ketakutanku perlahan sirna. Aku tak perlu khawatir dengan hidupku, hidup anak-anakku kelak. Allah-lah yang menjamin hidupku. Dia tak akan menelantarkan hambaNya. Inilah takdir yang telah ditetapkan olehNya. 

Dan ini pasti yang terbaik bagi kami semua. Semoga saja Allah membukakan kembali hati Yudhis yang telah kelam dan mengembalikannya kepada kehidupan yang dulu. Kupandangi lagi wajah tampan di seberang aku duduk saat ini. Nanti sore ia akan pergi dari rumah ini, pindah ke apartemen Meta, perempuan yang sering bersamanya di tempat dugem. Dan esoknya, kami akan ke Pengadilan Agama, mengurus perceraian. Tangisku tetap ada, jiwaku tetap remuk redam, tapi hatiku terhibur olehNya. Satu episode hidup telah kulalui. Ketika cinta harus usai maka hidup harus terus berlanjut. Hati kecilku bertanya, kepada siapakah sebenarnya cintaku kupersembahkan? Kepada Yudhis ataukah Allah. Cinta sesungguhnya tak pernah usai. Kuusap lelehan tangisku. Episode lain telah menunggu untuk disusuri. 

sumber gambar : http://fazil-fazilla.blogspot.com 

terimakasih untuk mu yang telah mengirim cerita yang sangat inspiratif ini... Semoga engkaupun membacanya... I'm not going to forget you.. forever..

...

Selengkapnya >>

MY EVERLASTING WISH



Ya Allah,..Duhai zat yang mendetakkan jantung ini, 
Duhai zat yang selalu memberikan makan kepada hamba-hambanya yang lapar, 
Duhai yang memberikan air yang sejuk di kala kami dahaga, 
Duhai yang mengaruniakan kantuk di kala kami lelah, 
Duhai yang selalu menjaga dan mengurus kami kala kami tertidur, 
Hanya Engkaulah Yang Maha Agung.. hanya Engkaulah Yang Maha Kuasa.. 

Ya Allah, betapapun kami menghianatiMu setiap waktu tapi tiada suatu saat pun terputus Engkau memberi nikmat kepada kami, 

Ya Allah jadikanlah hari ini menjadi hari ampunan bagi segala kebusukan kami.
Penghapus bagi seluruh dosa-dosa kami, hari dimana Engkau singkapkan tabir dari hati kami, hari dimana Engkau gantikan segala kegelapan dengan cahaya ilahiyahMu di qolbu ini. 

Ya Afuw ya ghafur.. 
ampuni kami… Engkau Yang maha mengerti tentang kami.. 
tubuh kami kotor penuh dosa, hidup kami berseliMut aib.. kini kami berada di hadapanMu… Ampuni yaa Allah sebusuk apapun masa lalu yang pernah kami lalui .. Ampuni sebanyak apapun dosa-dosa yang meluMuri tubuh ini.. Hapuskan yaa Allah sekelam apapun masa lalu kami.. 
Ya Allah.. Duhai zat Yang maha Pengampun .. kami datang padaMu… 

Ya Allah, kami ingin hidup kami berubah, gantikan segala kebusukan kami menjadi kesucian dalam pandanganMu. gantikan segala kegelapan dengan cahayaMu.. gantikan segala kedzaliman kami menjadi hidayah taufikMu.. gantikan Ya Allah… Ampuni dan selamatkan kami, ibu bapak kami yaa Allah, anak-anak kami, dari segala bala hidup ini.. 

Ya Allah, kami ingin merasakan indahnya hidup dekat denganMu, 
Kami ingin hari-hari yang tersisa ini menjadi hari-hari yang selalu akrab bersamaMu, kami lelah jauh dariMu ya Allah , kami tidak ingin terpuruk dan terhina karena tenggelam dalam kesesatan. 
Berikan kepada kami keMudahan, untuk mengenalMu Ya Allah,. 
Berikan kepada kami jalan untuk mendekat kepadaMu,. 
Jadikan kami orang-orang yang selalu merasakan kehangatan dan kasih sayangMu. 

Ya Allah jadikan sujud kami menjadi sujud yang penuh nikmat KepadaMu,. 
Jadikan shedaqah kami menjadi jalan yang membuat kami akrab denganMu,. 
Jadikan amal-amal kami sebagai amal-amal yang tulus hanya karenaMu,. 
Ya Allah jangan biarkan kesibukkan dunia membutakan hati kami,... 
Jangan biarkan pangkat dan jabatan, menjeruMuskan kami,... 
Jangan biarkan hawa nafsu membuat kami terperosok dalam maksiat,.. 

Ampuni Ya Allah..kami para suami yang telah mendzalimi istri-istri kami.. juga ampuni para istri yang kurang dapat melayani keluarganya. Ampuni jikalau kami salah mendidik keluarga dan anak-anak kami Ya Allah.. 
Utuhkan kami di dunia.. utuhkan kami di surgaMu 
Ya Allah.. Selamatkan anak-anak kami, Muliakan akhlaknya .. kuatkan imannya.., berilah mereka yang lebih baik daripada yang kami dapatkan, jadikan mereka hamba-hamba yang Kau banggakan di singgasanaMu yg tinggi itu. 

Duhai Allah yang maha Agung 
Karuniakanlah kepada kami keindahan Akhlak, 
Kelembutan hati, kesejukan qalbu 
Pancarkan dari diri kami, keindahan agamaMu ya Allah 
Pancarkan dari pribadi diri kami, keagungan agamaMu ya Allah 
Jadikan, kehadiran kami di manapun menjadi cahaya bagi ummatMu, 
Jadikan, kehadiran kami di manapun menjadi penyejuk bagi ummatMu, 
menjadi penggelora semangat bagi hamba-hambaMu.. 

Ya Allah cegahlah kami dari segala godaan yang menggelincirkan 
Lindungilah kami dari tipu daya setan yang menyesatkan 
Lindungi kami dari segala sifat Munafiq, ya Allah 
Lindungi kami dari segala keMusyrikan 
dan lindungi kami dari perbuatan apa pun yang akan menjadi contoh buruk bagi ummatMu 

Ya Allah Engkau adalah tujuan kami 
Engkau adalah tumpuan harapan kami 
Engkau adalah dambaan hati kami 
Karuniakan kami kesempatan memperbaiki diri, Ya Allah 
Ya Allah jadikanlah kami para pemimpin yang dapat menjadi 
contoh kebaikan dan kemuliaan bagi sebanyak-banyaknya umatMu.. 

Ya Allah, berikan ketaqwaan kepada jiwa-jiwa kami dan sucikanlah kami. 
Engkaulah sebaik-baik yang mensucikannya. 
Engkau Pencipta dan Pelindungnya 
Ya Allah, perbaiki hubungan antar kami 
Rukunkan antar hati kami 
Tunjuki kami jalan keselamatan 
Selamatkan kami dari kegelapan dg cahaya rububiyahMu 
ya Allah.. Jangan Engkau tanamkan di hati kami kesombongan dan kekasaran terhadap sesama hamba yang beriman 
Bersihkan hati kami dari benih-benih perpecahan, pengkhianatan dan kedengkian 

Ya Allah, wahai yang memudahkan segala yang sukar 
Wahai yang menyambung segala yang patah 
Wahai yang menemani semua yang tersendiri 
Wahai yang mengamankan semua yang takut 
Wahai penguat segala yang lemah 
Mudah bagiMu melancarkan segala yang susah 
Engkau Maha Tahu dan melihatnya 

Ya Allah, wahai zat yang Maha Mendengar, sayangilah kami, Berkahi sisa uMur kami ini, 
Jadikan uMur yang tersisa ini membawa maslahat bagi orang tua kami, bagi keluarga kami, dan bagi sebanyak-banyakNya umat Mu di bumi ini, 

Ya Allah hanya engkaulah Tempat kembali kami.. hanya engkaulah Yang Maha Tahu sisa uMur kami.. berikan kesempatan bagi kami Ya Allah… mempersembahkan yang terbaik bagi keluarga kami, masyarakat kami, bangsa kami, dan utamanya bagi agamaMu yang lurus.. 

Ya Allah, limpahkanlah Hidayah dan TaufikMu yaa Allah… jadikan kami hamba-hamba yg shalih hingga akhir hayat kami.. Jadikan akhir hayatnya khusnul khatimah.. Lapangkan kubur kami kelak, Jadikan kami ahli surgaMu.. 


dikutip dari : http://haleyborn.blogspot.com...

Selengkapnya >>

Minggu, 23 September 2012

FROM NOTHING TO SOMETHING...


Alhamdulillah akhirnya selesai juga rumah saya di Perumahan Tirtasari ini. Saya unggah foto rumah saya ini karena saya ingin sedikit berbagi pengalaman bagaimana berurusan dengan pihak pengembang.
Rumah di cluster tigris tipe 58 dengan luas tanah 148m2 ini sudah sangat lama sebenarnya.. Saya indent akhir tahun 2010 tetapi baru dibangun akhir tahun 2011.. Alhasil selama DP sudah terbayar banyak teman dan saudara yang protes kenapa rumahnya belum dibangun??? Inilah yang sempat bikin saya bete dan pernah saya putuskan untuk cancel saja pada bulan Mei 2011.. padahal DP sudah dibayar penuh... Hmm... Saya ingat sekali selama pengumpulan dana untuk DP ini saya dan suami 'berpuasa'... hahaha.... Tiap dapat rejeki langsung larinya buat DP.. Otak diperas, tenaga dipaksa untuk menulis buku, melakukan penelitian, dan melakukan pengabdian masyarakat... tapi sekarang semuanya sudah terbayarkan... Semoga akhir tahun ini rumah sudah siap kami tempati...


Peletakan batu fondasi pertama... 24 September 2011


Berdoa dulu ya semoga rumah ini membawa berkah dan senantiasa diridhoi Allah SWT


Hadeh.. 14 Desember 2011 tanah masih dipatok...


Kondisi rumah 30 Desember 2011


6 Januari 2012

14 Februari 2012



6 April 2012.. hmm... nih rumah kapan jadinya ya???


30 Juni 2012



Kondisi rumah depan sudah lumayan... tapi di dalam belum ada dapurnya...  12 Agustus 2012


Lumayan sudah ada dapurnya... 8 September 2012. Setelah kami menengok kondisi rumah ini, kami putuskan untuk ke pengembang karena kami merasa rumah ini sangat lama progress nya... DP sudah terbayar, Februari 2012 sudah realisasi, dan kami dijanjikan rumah sudah selesai 3 bulan setelah realisasi.. Tapi apa buktinya??? Akhirnya kami tidak ingin hanya dijanji2x oleh pihak pengembang dan kami minta dibuatkan surat perjanjian bermaterai... Jika hingga akhir bulan September belum serah terima kunci maka kami minta ganti rugi per harinya. Akhirnya pihak pengembang membuatkan perjanjian bahwa serah terima kunci dilakukan sebelum 29 September 2012, dan jika tidak bisa terlaksana maka pihak pengembang membayar ganti rugi IDR 150.000,- per hari.


Dapur mungil ini cocok buat istri yang sok sibuk seperti saya... hehe... nanti masaknya yang simpel aja ya...


Alhamdulillah... 23 September 2012 kami lihat rumah sudah bersih tinggal halaman belakang yang masih kumuh... Hehe.. 


Belum berani menempati sebelum tembok belakang ditinggikan dulu...
...

Selengkapnya >>

Jumat, 07 September 2012

MoMo Flanel Masuk Top 10 Sites


Tidak disangka, saat iseng-iseng ketik 'Kreasi Flanel' di Google, ternyata blog saya http://momo-flanel.blogspot.com ini masuk di peringkat 10 teratas.. Memang rata-rata pengunjung OL shop MoMo Flanel sekitar 30 pengunjung dan hit counter selalu bertambah sekitar 100 setiap harinya.. Terimakasih buat para customer yang sudah order di MoMo Flanel  juga para pengunjung setia dan juga para OL seller yang mungkin telah mengintip blog MoMo Flanel sekedar komparasi produk atau juga mencari ide dari produk MoMo Flanel.. hehe.. geer.com.

Tidak ada kebahagiaan bagi saya selain bisa menghasilkan 'karya' dimana karya tersebut bisa dinikmati oleh orang lain dan Alhamdulillah jika karya tersebut bisa juga dimanfaatkan oleh teman-teman..
Saya berharap, seluruh karya MoMo Flanel dan blog saya ( http://mariacholifah.blogspot.com ) ini bisa menjadi salah satu shodaqoh jariyah.. Amin Amin Allahumma Amin.. Ok, keep up the good work dude!!

...

Selengkapnya >>

Senin, 18 Juni 2012

Abdimas di Kelurahan Tanjungrejo

 


 Hari Senin, 18 Juni 2012 saya melaksanakan Pengabdian Masyarakat bersama bu Fita dan bu Siane di kelurahan Tanjungrejo.  Kegiatan ini berupa pelatihan dengan tema " Mengajar English for Young Learners dengan Media Finger Puppet" 
 


 Kegiatan ini diikuti oleh beberapa orang warga karang taruna dan ibu ibu PKK pengurus PAUD di kelurahan Tanjungrejo. Workshop yang dimuai pukul 19.00 ini diawali dengan pembukaan yang saya sampaikan kemudian dilanjutkan dengan pemberian materi bagaimana mengajar bahasa bahasa Inggris untuk anak-anak yang disampaikan oleh ibu Fita. Selanjutnya acara saya pandu membuat Finger Puppet.










 

 Horee.. Finger Puppet aku sudah jadi... :d


 


Memberikan kenang kenangan kepada ibu pengurus PAUD, finger puppet Angry Birds sebagai media mengajar PAUD semoga bermanfaat ya...

 

 Foto bersama peserta.. Alhamdulillah lancar..    
   
...

Selengkapnya >>

Sabtu, 09 Juni 2012

It's Me.. the GJ-est Person.. Ever..

 

Beberapa hari ini aku terserang insomnia gara-gara banyak orderan flanel sehingga jadwal mengikuti yoga tidak bisa rutin. Pulang kerja sekitar jam 3 sore langsung aku lanjut dengan sholat dan beres-beres rumah.Jam 16.30 aku sudah tepar sampai hampir menjelang Isya'. Alhasil sholat maghribnya hanya selisih beberapa menit dari adzan isya'. Suami pulang saja tidak aku sambut seperti biasanya yaitu dengan ceritaku dan pertanyaan-pertanyaan yang kadang malah bikin suami eneg mendengarnya. (astaghifirullah..,) --> GJ part 1 Aku baru bisa tidur lagi sekitar menjelang subuh, padahal aku mengajar jam 7 pagi.
Begitulah aktifitasku akhir-akhir ini. Tadi malam kumat lagi insomnia. Aku habiskan malam hariku hingga dini hari dengan membuat pernak pernik flanel. Padahal orderan dari customer banyak banget tapi entah kenapa melihat tumpukan flanel yang sudah pernah aku potong-potong, ideku jadi muncul untuk membuat petits dengan topping strawberry.


Terkesan monoton sih, yah maklumlah tujuanku hanya menghabiskan sisa potongan flanel. Suami yang dari tadi mondar mandir melihatku menjahit hingga dini hari akhirnya nyelutuk, "Kaprodi kok nyekel dom" (Kaprodi kok yang dipegang jarum) --> GJ part 2

Saat itu aku hanya tertawa ngakak karena sebelumnya kami membicarakan blog OL Shop aku http://momo-flanel.blogspot.com yang sedikit amburadul. Dengan telaten suami membantu menjelaskan agar diedit ulang. Makanya akupun bersemangat menyelesaikan petits dengan topping strawberry ini karena yakin besok pagi bisa di posting dengan rapi lagi.

Tapi selang beberapa saat akupun menyadari "guyonan" yang disampaikan suami ternyata maknanya cukup mendalam.. (wow.. aku mulai mengkaitkan dengan Discourse Analysis, tepatnya Maxim of Quality and Quantity..)

S1 aku ini dari jurusan sastra Inggris dan bahasa minornya bahasa Mandarin. S2 aku dari jurusan pendidikan bahasa Inggris. Tapi entah kenapa aku lebih suka mengajar bahasa Mandarin dan Linguistics ketimbang bidang pendidikan dan sastra Inggris. --> GJ part 3.

Justru sekarang aku bingung menentukan jurusan S3. Ingin sekali aku memilih jurusan Linguistik atau kajian Amerika (yah, biar linier dengan S1 aku gitu..) tetapi sayangnya tidak bisa kudapatkan di kota Malang. Setidaknya aku harus ke Jawa tengah (UGM, UNS) untuk mendapatkannya. Study ke LN? Wow jauh banget dari pemikiran karena aku orang yang tidak bisa jauh dari keluarga terutama suami. 

Aku merasa dari segi kompetensi juga rata-rata. HSK level 3, IELTS score 6 (tapi belum bisa dikatakan reliable karena baru sekali mengikuti test, *membela diri mode on* hehe..). Aku mengadakan penelitian, pengabdian masyarakat, dan menjadi pemateri seminar dalam satu tahun bisa dihitung dengan jari.
Aku mencoba merenungkan lagi, lantas apakah OL shop aku ini bisa mendukung karir aku?? Jawabannya "ya" dan "tidak".

Sebagai seorang dosen wajib melaksanakan Tri Darma Perguruan Tinggi. Sedikit banyak keterampilanku bisa kujadikan pengabdian pada masyarakat, tridarma yang ke  3 setelah (1) pendidikan dan pengajaran, (2) penelitian. Bukankah pada Training of Trainer yang pernah kuikuti seorang dosen juga dianjurkan memiliki jiwa enterpreneurship ?

Hwua.. lantas bidang yang mana yang sebenarnya menjadi spesialisasi ku ? --> GJ part 4 *langsung nyesek*

Belum terjawab, dan tambah nyesek saat suami menambahkan bahwa akupun layak menjadi "teknisi blog" --> the last but not least of my GJ ness...

Selengkapnya >>

Minggu, 11 Maret 2012

BAPAK DAN IBU DOSEN PRODI BAHASA INGGRIS UNIKAMA



Inilah para pengajar di lingkungan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris dan Sastra Inggris di Universitas Kanjuruhan Malang. Buat kenang-kenangan aja... (*__^)


dari kiri atas :
pak mujiono
pak adam basori
pak agus eko
pak misi
pak khairudin
pak trisno
pak saiful
pak uun
pak abdullah
pak teguh
pak andy

dari kiri bawah :
pak lazim
pak muhammad
bu arining
bu nanik
bu siane
bu fita
bu irine
bu sri ningsih
bu maria
bu hanum
pak tamam
pak agus



konco begejekan.. hehe...
...

Selengkapnya >>