Jumat, 18 Juni 2010

DAUN terbang karena tiupan ANGIN atau karena POHON tidak memintanya untuk tinggal ? (versi 2)


Sehelai daun bergelanyut di tangkai sebuah pohon yang terletak di tepi sungai. Mulai menguning dan layu. Begitu lebatnya pohon itu dengan ribuan kuncup daun yang baru. Kali ini musim semi mulai lebih awal dari biasanya. Dan daun yang mulai menguning itu telah bertahan dalam satu periode musim dingin yang garang dan dengan setia menemani sang pohon dalam jejakan salju serta amukan badai yang lalu. Sang daun itu tetap bersetia walau Kristal-kristal es tak ayal nyaris membekukannya. Dan ia bertahan di sana, sehelai, sendirian. Tetap memperkuat cengkramannya demi menemani sang pohon yang kesepian dan berjuang di tengah hamparan musim dingin nan angkuh.


Kenapa ia tak memilih untuk gugur bersama ribuan daun yang lain untuk menghangatkan diri dengan timbunan tanah. Bercinta dengan cacing dan ngengat serta mencabikkan diri kembali pada alam kemudian terurai dan terburai. Bukankah lebih tenang? Tanpa perlu bertahan di tengah gusaran sang badai yang mengoyak.


Namun sehelai daun itu memilih untuk bertahan. Ia ingin berjuang bersama sang pohon yang telah memberinya kehidupan dan kekuatan. Ia ingin mencurahkan seluruh cintanya pada sang pohon melalui detakan nafas dan rilis panas yang sedikit demi sedikit ia bagikan pada kekasihnya, sang pohon. Dan mereka bercinta pada musim dingin yang mencekat. Tak peduli betapa hebat badai salju berusaha mengoyaknya, sang daun tetap mencengkeram dan bertahan pada tangkainya. Begitu juga sang pohon yang semakin erat menggandeng daun itu semakin dalam dan mempertahankannya dalam tangkainya. Saling berbagi sari kehidupan untuk mempertahankan diri sari seleksi alam yang menggila.

Mereka masih tetap bertahan dengan saling memeluk dan membagi jiwa. Menyelaraskan dengan nyanyian musim dingin yang memekakkan. Hingga akhirnya matahari pertama musim semi menampakkan batang hidungnya setelah tertidur dalam hibernasinya yang damai. Menghembuskan nafas kehidupan bagi tiap inchi pohon itu. Membelai sang daun dengan embun pertamanya dan memuaskan dahaganya. Sang daun dan pohon masih tetap saling memeluk dan menatap samar pada sang matahari yang dengan lembut membangunkan mereka dari percintaannya di musim dingin.

Sang pohon pun pulih dari lemahnya. Dan sang daun masih bersetia untuk menemaninya. Sang pohon kembali menyerap sari kehidupan yang dihaturkan sang tanah melalui pembuluh-pembuluh kehidupan yang mengisi tiap rongga dalam tubuhnya. Merasa lebih hidup, dan tak lupa ia membagi nafas kehidupannya pada sang daun, kekasihnya. Hingga suatu saat, kuncup-kuncup daun barupun mulai bersemi dan berdesak-desak memenuhi tangkainya. Sang pohon merasa dirinya baru dan terlahir kembali, dengan beribu kuncup baru yang kembali menemaninya. Namun tak begitu halnya dengan sang daun. Ia merasa semakin lemah dan renta. Keriput dan menguning. Daun itu tak seindah dulu dan dia mulai menyadari genggamannya tak sekuat dulu. Namun ia masih bersetia pada kekasihnya, sang pohon.


Tiap orang yang memandang pohon itu merasa bahagia. Melihat pohon itu kembali hidup dan merimbun. Namun rona mereka berubah ketika memandang sehelai daun yang mulai menguning di ujung tangkai pohon itu. Dalam hati mereka mengucap serapah kenapa tak jatuh saja daun itu, betapa ia memperburuk sang pohon yang begitu cantik. Beragam kata mereka ucap pada sang daun. Ada yang beriba karena melihat sang daun yang masih berusaha bergelanyut pada dahannya. Ada yang penuh kebencian menyumpah menginginkan daun itu musnah selamanya. Ada pula yang berusaha merontokkanya.

Sungguh, sang daun hanya diam memandangnya, dan masih mempererat cengkramannya pada sang pohon, kekasihnya. Namun ia merasa, kekasihnya tak lagi miliknya seorang. Ia tahu, kekasihnya harus membagi sari kehidupannya kepada beribu kuncup daun muda yang menantikan kehidupan darinya. Ia tahu sang pohon mulai mengabaikannya. Ia tahu bahwa sang pohon tak lagi membagi nafasnya seperti dulu. Ia tahu, cepat atau lambat sang pohon akan berhenti memberikan hawa padanya dna pada akhirnya melepaskan genggamannya pada sang daun.

Namun daun itu tetap bertahan. Walau di luar sana sang angin mulai merayunya untuk mengajaknya terbang. Betapa hebat sang angin mencoba menggoyahkannya, melarutkannya akan mimpi-mimpi di luar sana. Betapa angin dengan liciknya menggoyangkan sang pohon untuk merontokkannya dan mencabutnya dari dekapan kekasihnya, sang pohon.

Wahai angin, andai kau tahu betapa aku berusaha keras bertahan, mempertahankan kekasihku. Mempererat pelukku padanya dan bertahan dengan sepotong potong nafas yang mulai memudar. Wahai kekasihku, sang pohon. Ada apa kiranya engkau hanya membisu. Kenapa kau tak berusaha mempertahankanku dari gusaran angin yang berusaha menceraikan kau dariku? Wahai kekasihku, tahukah kau betapa keras aku berusaha bertahan padamu. Kenapa kau terlalu acuh dan memalingkan rasamu pada kuncup-kuncup baru itu? Ingatkah kau saat kita berusaha membagi nafas di sela himpitan salju nan mematikan? Ingatkan kau saat kita berbagi pelukan dan saling menguatkan kala badai musim dingin mencoba mengoyakkan?

Dan daun itupun tak sekuat dulu. Aku memang tua, kekasihku. Keropos dengan nafas yang tersengal menatapmu dari ujung tangkaimu. Wahai kekasihku yang mendepak hatiku, ada apa dengan dirimu? Apakah ini memang kuasa Tuhan dan seleksi alam yang akan memisahkanku denganmu? Kasihku, bicaralah, aku ingin mendengar rintihanmu, sama tatkala kita bercinta disaksikan kerlipan lampu kota nan iri pada pergulatan kita. Wahai kekasihku, kenapa kau tak jua mempertahankanku dari derai sang angin? Apakah kau tak lagi bersetia padaku?

Embun di pagi ini membangunkanku. Ia adalah cawan air mataku. Dan sang angin pun tak kalah gusar. Membelai dengan lembut namun menghanyut. Ada makna yang mencoba ia trandensikan dari lakunya merayuku. Aku tahu, sang angin masih mencoba merontokkanku. Namun kekasihku, aku masih bersetia denganmu.

Malam-malam kita tak lagi kita isi dengan bercinta. Cawan anggur itu pun tak lagi kau sentuhi, dan kini kuisi dengan air mata. Kau tak lagi mau menoleh padaku, sekadar untuk menyapa atau berbagi senyum. Wahai kekasihku, aku sungguh rindu. Lihatlah diriku kini yang begitu layu, terombang ambing oleh besutan angin yang tak henti menderaku juga suara suara manusia yang menjejakku dengan sumpah serapah mereka. Malam malam kuadukan kidungku pada sang bulan, namun ia hanya membisu. Juga pada kerlip bintang, namun ia juga dengan centil meninggalkanku. Hanya deru angin yang bernyanyi memekakkan gendang telingaku.

Duh gusti, aku menjadi pesakitan kali ini. Sedikit dikit tersesak dan tersedak oleh hawa kotor yang dijejalkan ke dalam paruku. Dan kau kekasihku, tak maukah kau membagi nafas denganku? Memompakan sedikit oksigen pada pundi-pundi hawaku?

Dan senja itu, di akhir musim semi yang pilu. Aku, sang daun sudah benar-benar pasrah. Menunggu kehendak Tuhan yang akan segera mencampakkanku menjauh darimu. Telah kudengar teriakan dan tawa sang angin. Ia telah bersiap dalam zona menyerangnya kapan saja sang pohon mencampakkanku. Karna dia tak sabar menunggu waktu penerbanganku.

Kekasihku, wahai sang pohon. Aku selalu menyayangimu. Andai aku bisa terus merengkuhmu, aku ingin melewatkan setiap kepingan waktu merenda renjana memalun rindu. Namun aku tahu, sayangku. Aku memang ditakdirkan untuk rontok dan meninggalkanmu. Karna aku hanya sehelai daun yang tak kuasa menahan kersane gusti, bahasa alam yang tak berhasil ku definisikan.


Aku hanya ingin kau bahagia, sayang. Tanpa sumpah serapah manusia-manusia itu, ataupun teriakan-teriakan angin yang menghentakmu. Dan akhirnya aku memutuskan untuk meleburkan diri dengan sang bumi. Perlahan melepaskan genggamanku, dan jatuh dalam ayunan gravitasi. Biarkan ia merengkuhku. Aku tak ingin angin menerbangkanku pergi menjauh darimu. Biarlah aku terkapar di kakimu dengan mempersembahkan nafas terakhirku. Biarkan cacing-cacing menjamahku dan meleburkanku dengan sari pati bumi. Karna aku tahu, dengan begitu aku akan selalu ada bersamamu. Mengalir melalui pori akarmu, dan menjamah mengaliri ragamu. Memberi kehidupan, dan melebur dalam tiap bagian porimu. Dengan cara ini, aku akan selalu ada padamu. Dan kita satu.

Dikutip dari : http://nawangku.blogspot.com/
...

Selengkapnya >>

Sabtu, 12 Juni 2010

TEMPELAN KULKAS




Daripada blog ini tidak ada posting an sama sekali, akhirnya saya mencoba menambah sedikit wawasan buat para ibu dan remaja putri (cie...) bahwa betapa menariknya jika kulkas kita berikan beberapa tempelan. Tempelan tersebut bisa berupa sticker informasi penyimpanan makanan, souvenir dari teman dan.. ini lho yang paling menarik... tempelan kulkas berupa replika makanan dari kain felt.. hm.. so yummy.. Replika makanan dari kain felt atau flanel ini bisa juga dijadikan souvenir, hadiah, atau bisa ditambahkan gantungan kunci, HP dll. Ok, saya tahu anda tidak punya banyak waktu untuk membuat kreasi dari kain flanel/felt..:-D Therefore... anda bisa memesan berbagai kerajinan dari flanel kami di http://momo-flanel.blogspot.com...
...

Selengkapnya >>